Gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan pernyataan kepada publik mendapat sorotan.
Pakar Hukum Tatanegara sekaligus akademisi, Feri Amsari, menilai Presiden membutuhkan orang-orang di lingkaran Istana yang berani memberikan masukan, terutama terkait pilihan kata, momentum, dan cara penyampaian agar sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.
Bahkan menurut saya, tidak ada orang di istana yang memberikan peringatan soal pilihan diksi,”
katanya kepada Owrite, Rabu, 9 September 2026.
Menurutnya, tidak semua gaya komunikasi tepat digunakan dalam setiap kondisi. Terlebih ketika Presiden sedang berbicara mengenai persoalan serius seperti bencana.
Pilihan kata yang kurang tepat justru dapat mengubah suasana yang seharusnya penuh keprihatinan menjadi sesuatu yang dianggap ringan atau bahkan bahan candaan.
Ia menilai, orang-orang di sekitar Presiden seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai pendamping, tetapi juga menjadi pihak yang memberikan koreksi ketika diperlukan.
Masukan tersebut penting agar komunikasi Presiden tetap sesuai dengan konteks dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.
Kenapa harus terus harus ada ‘hey’ gitu, ya?,”
herannya.
Perhatian Publik
Lebih jauh dia mengatakan, persoalan komunikasi Presiden tidak bisa dipandang sebagai perkara sepele. Setiap pernyataan yang disampaikan kepala negara akan menjadi perhatian publik dan pada akhirnya ikut membentuk persepsi masyarakat terhadap gaya serta kualitas kepemimpinannya.
Karena itu, Presiden perlu memiliki tim di sekelilingnya yang mampu memberikan pertimbangan secara objektif sebelum maupun ketika sebuah pernyataan disampaikan kepada publik.
Feri Amsari juga menyoroti kecenderungan Prabowo menggunakan sejumlah diksi dan mengangkat isu yang sama secara berulang dalam berbagai kesempatan.
Beliau kan selalu suka memilih diksi yang berulang-ulang, pilih isu berulang-ulang,”
ungkapnya.
Salah satu yang disorot adalah isu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, program tersebut terus dibawa Presiden dalam berbagai forum, termasuk ketika melakukan kunjungan ke luar negeri.
Soal MBG itu hampir di semua tempat, ya, untuk diulang-ulang. Bahkan di luar negeri, di Rusia. Rusia kemarin, ya. Dia juga masih bicara soal MBG,”
jelasnya.
Lanjut Feri Amsari, pengulangan pesan politik atau program pemerintah memang dapat menjadi strategi komunikasi. Namun, bagi seorang Presiden, pemilihan isu dan diksi tetap membutuhkan pertimbangan mengenai momentum, tempat, serta kondisi masyarakat yang sedang menjadi sasaran komunikasi.
Dengan posisi Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, setiap kata yang keluar dari mulut Presiden memiliki bobot politik dan simbolik yang lebih besar dibandingkan pernyataan pejabat biasa.
Karena itu, ia meminta orang-orang di sekitar Prabowo tidak hanya menjadi pihak yang mengiyakan setiap pernyataan Presiden. Mereka justru harus mampu memberikan peringatan ketika ada pilihan komunikasi yang dinilai kurang tepat.
Harusnya istana menjaga betul soal kewibawaan presiden,”
tegasnya.

























