Bayangkan sebuah sekolah dengan dinding bambu bambu dengan banyak lubang yang menganga, lantai tanah, bangunan reyot, dan belum dialiri listrik, tetapi justru mendapat bantuan Smart TV layar sentuh dari pemerintah.
Bukan mengada-ada tapi kondisi ini benar terjadi, tepatnya di SD Negeri Mboeng, Desa Kaju Wangi, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Potret sekolah ini viral, setelah seorang social traveler Alwi Johan melalui akun instagramnya @alwijo membagikan mengenai kondisi sekolah tersebut.
Hingga 9 September 2026 unggahannya itu telah disukai 439 ribu kali, mendapat 15,9 ribu komentar, 110 ribu kali diposting ulang, serta 66,8 ribu share.
Kondisi Bangunan Sekolah
Dalam video berdurasi sekitar satu setengah menit itu, Alwi memperlihatkan kondisi bangunan sekolah yang sejak pertama kali dibangun di 2008 itu belum pernah direnovasi.
Bangunan sekolah ini sangat menyedihkan. Dindingnya terbuat dari bambu, lantainya dari tanah, dan lihat, dindingnya sudah berlubang di segala sudut,”
ujar Alwi dalam videonya.
Persoalan di sekolah tersebut ternyata bukan hanya kondisi bangunan yang memprihatinkan. Alwi juga menyoroti ketiadaan akses listrik di desa tempat sekolah tersebut berada.
Tapi ironisnya, di tengah keterbatasan infrastruktur dasar itu, SDN Mboeng justru menerima bantuan berupa Smart TV layar sentuh untuk mendukung pembelajaran.
Ya, listrik belum ada, tapi TV sebesar ini sudah ada terparkir dengan manis di ruang guru,”
kata Alwi.
Para guru disebut sempat mencoba menyalakan perangkat tersebut menggunakan generator diesel. Namun, upaya itu tidak berhasil karena daya yang dibutuhkan televisi tersebut cukup besar.
Lantas, mengapa pemerintah memberikan Smart TV kepada sekolah yang bahkan belum memiliki akses listrik?
Bantuan TV tersebut bukan tanpa alasan. Jika mengacu pada pemberitaan di laman Kemendikdasmen, pengadaan perangkat itu merupakan bagian dari program digitalisasi pembelajaran pemerintah yang mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2025.
Saat peringatan Hari Pendidikan Nasional di SDN Cimpahpar 5, Bogor, pada 2 Mei 2025, Presiden Prabowo Subianto memang menyampaikan rencana menyediakan layar televisi di sekolah-sekolah Indonesia, termasuk untuk membantu sekolah di daerah terpencil mendapatkan materi pembelajaran berkualitas.
Dalam pelaksanaannya, program tersebut juga mencakup penyediaan Interactive Flat Panel (IFP), laptop, serta perangkat pendukung lainnya.
Namun, kondisi SDN Mboeng membuat program tersebut kembali dipertanyakan. Sebab, di sekolah ini, persoalannya bukan hanya soal akses materi pembelajaran digital, tetapi juga kebutuhan yang jauh lebih mendasar seperti bangunan yang layak dan ketersediaan listrik.
Beragam Reaksi Warganet
Viralnya video tersebut langsung mengundang beragam reaksi dari warganet. Banyak yang menyoroti ketimpangan antara bantuan teknologi yang diberikan dengan kondisi dasar sekolah yang masih jauh dari layak.
Konsepnya mau menyetarakan, tapi mengabaikan prioritas,”
sindir @faradilathaya.
Ada pula yang menyindir kondisi sekolah yang bahkan belum memiliki listrik, tetapi sudah mendapat perangkat elektronik berukuran besar.
Mungkin mereka mikirnya TV-nya pakai baterai AA,”
kelakar @dr.doddyrizqi.
Komentar lain ikut menyoroti istilah TV layar sentuh yang dalam kondisi tersebut justru terasa ironis.
Ini benar-benar definisi TV layar sentuh, yang memang hanya buat disentuh saja,”
gurau @lily.samsuri.
Sementara itu, @gatherich mempertanyakan proses pengambilan kebijakan yang dinilai kurang mempertimbangkan kondisi di lapangan.
Ya gini deh kalau cuma meeting tapi ga pernah ke lapangan. Meetingnya asbun, hasilnya ampun,”
tulisnya.
Tak sedikit pula yang mengaku miris melihat persoalan tersebut. Salah satunya @merawatpapua2 yang menilai kebijakan tersebut terlihat tidak selaras dengan kebutuhan sekolah.
Benar-benar nggak nyambung kebijakannya ya kan, mau nangis tapi udah bingung caranya,”
ungkapnya.




















