Hari Waisak 2026 jatuh pada 31 Mei 2026. Perayaan ini identik dengan suasana penuh ketenangan dan cahaya lampion yang menghiasi langit malam. Tradisi pelepasan lampion pun menjadi salah satu momen yang paling dinantikan dalam rangkaian perayaan Waisak.
Namun, lampion dalam perayaan Waisak bukan sekadar hiasan atau atraksi visual semata. Bagi umat Buddha, lampion memiliki makna mendalam sebagai simbol harapan, doa, pencerahan, serta pelepasan hal-hal buruk dalam kehidupan.
Apa filosofi dalam tradisi pelepasan lampion di hari Waisak? Mari kita bahas satu persatu.
Malam Lampion Waisak di Candi Borobudur
Melansir dari laman Taman Wisata Candi Borobudur pada Rabu, 26 Mei 2026, perayaan Waisak di Indonesia umumnya dipusatkan di Candi Borobudur karena candi ini merupakan salah satu situs Buddha terbesar di dunia sekaligus simbol penting perkembangan ajaran Buddha di Nusantara.
Selain menjadi tempat ibadah, Borobudur dianggap merepresentasikan perjalanan spiritual menuju pencerahan. Struktur candi yang bertingkat dari bawah hingga puncak melambangkan perjalanan manusia meninggalkan hawa nafsu duniawi menuju kebijaksanaan dan nirwana.
Tak hanya umat Buddha dari Indonesia, perayaan Waisak di Borobudur juga dihadiri biksu dan umat dari berbagai negara seperti Thailand, Myanmar, Sri Lanka, hingga Malaysia.
Meski demikian, perayaan Waisak tidak hanya dilakukan di Borobudur. Umat Buddha di berbagai daerah di Indonesia juga menggelar ibadah dan ritual Waisak. Namun, skala perayaan di Borobudur biasanya menjadi yang terbesar dan paling ramai karena menjadi pusat peringatan Waisak nasional.
Simbol Doa dan Perdamaian
Tradisi ini bukan sekadar momen menerbangkan lampion ke langit. Dalam ajaran Buddha, cahaya lampion memiliki makna spiritual yang mendalam, yakni sebagai simbol penerangan terhadap kegelapan batin manusia, seperti sifat keserakahan, kebodohan, dan kemarahan.
Cahaya yang terbang ke langit juga dimaknai sebagai harapan menuju kehidupan yang lebih bijaksana, damai, dan penuh welas asih.
Menariknya, momen pelepasan lampion tidak hanya dapat dinikmati oleh peserta yang menerbangkannya saja, tapi juga bagi seluruh pengunjung Candi Borobudur dapat menyaksikan keindahan ribuan lentera dari area sekitar maupun tribun yang telah disediakan.
Rangakaian Perayaan Waisak
Rangkaian perayaan Waisak di Candi Borobudur dimulai dengan perjalanan para biksu disebut juga sebagai Indonesia Walk For Peace (IWFP). Perjalanannya sejauh sekitar 666 kilometer dari Brahmavihara-Arama, Buleleng, Bali ke Borobudur sudah dimulai sejak 9 Mei 2026.
Selama perjalanan berlangsung, masyarakat di berbagai daerah turut menyambut para biksu melalui kirab budaya, doa bersama, hingga kegiatan sosial.
Salah satu makna yang dapat dipetik dari ritual ini adalah kesederhanaan hidup. Para biksu hanya membawa perlengkapan seperlunya selama perjalanan berlangsung.
Selain itu, perjalanan tersebut juga mengajarkan nilai kesabaran, kerukunan, dan ketahanan mental, sekaligus melambangkan perjalanan manusia dalam mencari kedamaian serta kebijaksanaan hidup.
Para biksu dijadwalkan sampai di Candi Borobudur sebelum hari Perayaan Waisak tiba.
Di balik suasana yang tenang dan magis, perayaan Waisak juga mengajarkan pentingnya kesederhanaan, kerukunan, serta welas asih terhadap sesama.
Tak heran jika momen Waisak di Borobudur selalu dinantikan setiap tahunnya, baik oleh umat Buddha maupun masyarakat umum yang ingin merasakan suasana spiritual penuh makna.


