Perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Di berbagai daerah, perempuan turut berperan menghadapi penjajahan dengan mengangkat senjata, maupun melalui pendidikan, dan pergerakan.
Tak hanya Cut Nyak Dien dari Aceh, beberapa tokoh lain menjadi bukti bahwa perempuan turut memberikan pengorbanan besar dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Penasaran siapa saja pahlawan perempuan yang berjuang untuk Indonesia? Dilansir dari laman Komnas Perempuan, berikut daftarnya:
- Monia Latualinya
Monia Latualinya merupakan Srikandi Hatuhaha yang berperan sebagai Kapitan Alaka dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda. Ia dikenal karena keberanian dan semangat dalam menggerakkan masyarakat Hatuhaha, Kabupaten Maluku Tengah, untuk melawan penjajahan. Perjuangan Monia berlangsung sekitar 180 tahun sebelum perlawanan Martha Christina Tiahahu pada 1817.
- Fatmawati
Fatmawati menjahit Bendera Sang Saka Merah Putih yang kemudian dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Kain bendera berukuran sekitar 300 cm × 200 cm, terbuat dari katun. Bendera itu kemudian dikibarkan oleh Latief Hendraningrat dan Suhud.
- Lasminingrat
Ia mengajar, menyadur buku, serta mendirikan sekolah untuk membuka kesempatan perempuan memperoleh pengetahuan dan berperan di ruang publik. Beberapa karya Lasminingrat antara lain Tjarita Erman, Warnasari, dan Warnasari Djilid II.
- Opu Daeng Risaju
Opu Daeng Risaju, yang bernama asli Famajjah, aktif dalam Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Pada 14 Januari 1930, ia mendirikan cabang PSII di Palopo, Sulawesi Selatan. Aktivitasnya membuat pemerintah kolonial Belanda khawatir. Ia kemudian ditangkap dan dipenjara selama 13 bulan karena dianggap menggerakkan rakyat melawan pemerintah kolonial.
- Rasuna Said
Ia dikenal sebagai pejuang perempuan yang aktif dalam politik dan pendidikan, serta propagandis. Sejak 1926, ia terlibat dalam Sarekat Rakyat dan berani berpidato mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Pada 1932, setelah berpidato dalam rapat umum PERMI di Payakumbuh, ia ditangkap dan kemudian dijatuhi hukuman 14 bulan penjara dengan tuduhan ujaran kebencian.
- Ruhana Kuddus
Pada 1912, ia mendirikan surat kabar perempuan Soenting Melajoe. Melalui media tersebut, Ruhana menulis tentang persoalan perempuan, termasuk kritik terhadap pernikahan di bawah umur, poligami, dan pembatasan perempuan dalam bidang ekonomi.
- Martha Christina Tiahahu
Martha Christina Tiahahu adalah pejuang perempuan asal Maluku Tengah yang turut ikut ke medan perang melawan penjajahan Belanda. Pada 1817, ketika masih berusia sekitar 17 tahun, ia ikut berjuang bersama rakyat Maluku dalam perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan berlangsung sengit hingga akhirnya Martha ditangkap oleh Belanda, lantas dibawa ke Pulau Jawa untuk diasingkan.
- Nyi Ageng Serang
Ia turut berjuang dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830) dan memimpin pasukan dalam menghadapi Belanda. Meski telah berusia lanjut, Nyi Ageng Serang tetap turun ke medan perjuangan. Ia dikenal menggunakan strategi penyamaran dengan daun keladi (lumbu) untuk mengelabui pasukan Belanda.
Kisah mereka menjadi pengingat bahwa perempuan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Semangat, keberanian, dan pengorbanan para tokoh tersebut patut dikenang, terutama saat bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.






















