Pernah nggak sih merasa hari-hari cuma lewat gitu aja, kamu bahkan belum sempat benar-benar bernapas?
Baru bangun tidur bukannya merasa segar, tapi udah kepikiran deadline, cemas tanpa alasan yang jelas, atau justru kamu merasa hidup terasa hampa dan numb?
Kalau belakangan kamu sering berpikir, “Ya sudahlah, yang penting hari ini beres,” hati-hati. Bisa jadi kamu sedang mengalami apa yang sering disebut survival mode, yaitu kondisi ketika tubuh dan pikiran terlalu lama berada dalam respons stres.
Apa Sih Survival Mode Itu?
Menurut penjelasan The London Psychiatry Centre dan Existential Psychotherapy, survival mode merupakan istilah informal untuk menggambarkan kondisi ketika sistem saraf berada dalam tekanan berkepanjangan akibat stres, rasa tidak aman, kewalahan, atau pengalaman traumatis.
Tubuh sebenarnya punya sistem pertahanan alami namanya respons fight or flight alias melawan atau kabur. Ini tuh berkaitan dengan sistem saraf simpatik, serta respons rest and digest atau istirahat dan memulihkan diri yang berkaitan dengan sistem saraf parasimpatik.
Zaman dulu, respons darurat ini berguna ketika manusia menghadapi ancaman seperti hewan buas. Sekarang, “ancamannya” bisa punya bentuk yang jauh lebih dekat dengan keseharian.
Misalnya:
- Tugas kuliah atau deadline kerja yang nggak ada habisnya.
- Doomscrolling berita dan media sosial sampai tengah malam.
- Tekanan finansial dan tuntutan untuk terus produktif.
- Masalah hubungan atau keluarga.
- Ekspektasi sosial dan rasa cemas berlebihan.
- Rutinitas yang terlalu padat tanpa waktu istirahat yang cukup.
Menurut The London Psychiatry Centre, stres yang berlangsung terlalu lama dapat membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga. Padahal, tubuh kita juga butuh waktu untuk kembali ke kondisi rileks setelah menghadapi tekanan.
Alhasil, kamu bisa merasa hidup mu tuh selalu di gas terus, tetapi remnya nggak pernah benar-benar diinjak.
Tanda-tanda Survival Mode
Menurut penjelasan Dr. Agnieszka Klimowicz Consultant Psychiatrist di The London Psychiatry Centre respons stres berkepanjangan dapat mempengaruhi kondisi fisik maupun mental.
Beberapa tanda yang bisa muncul antara lain:
- Sering lupa hal kecil. Memori jangka pendek terasa berantakan. Baru saja mau melakukan sesuatu, beberapa detik kemudian sudah lupa.
- Pola makan acak-acakan. Bisa lupa makan karena terlalu sibuk atau justru makan berlebihan ketika sedang stres.
- Merasa numb. Bukan sedih, bukan juga senang. Rasanya datar saja dan nggak terlalu tertarik pada apa pun.
- Susah mengambil keputusan. Hal sederhana seperti mau makan apa atau mulai mengerjakan tugas dari mana saja terasa bikin kepala penuh.
- Pikiran terus berputar. Sudah rebahan, tetapi otak masih memutar ulang percakapan, pekerjaan, masalah, dan kemungkinan buruk lainnya.
- Susah tidur meski tubuh capek. Badan rasanya sudah minta tumbang, tetapi pikiran justru makin aktif ketika kepala menyentuh bantal.
- Selalu merasa buru-buru. Bahkan ketika sebenarnya nggak sedang mengejar apa pun.
- Sulit menikmati waktu istirahat. Baru santai sebentar sudah muncul rasa bersalah karena merasa seharusnya melakukan sesuatu yang lebih produktif.
Tentu saja, mengalami satu atau dua tanda di atas bukan berarti kamu pasti sedang berada dalam survival mode. Kondisi setiap orang bisa berbeda, dan gejala serupa juga dapat berkaitan dengan berbagai hal lain.
Namun, kalau kamu ngerasa kondisi ini terjadi terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan mengecek kondisi diri sendiri.
Keluar dari Survival Mode?
Menurut Existential Psychotherapy, keluar dari kondisi stres berkepanjangan bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam semalam. Prosesnya membutuhkan rasa aman, dukungan, istirahat, dan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Kalau kamu merasa relate, nggak perlu langsung melakukan life makeover. Mulai saja dari hal-hal kecil.
Pertama, akui kalau kamu sedang capek. Nggak semua hal harus diselesaikan dengan memaksa diri terus kuat.
Kemudian, coba berhenti memperlakukan diri sendiri seperti mesin. Alih-alih terus bertanya, “Gimana caranya gue menyelesaikan semuanya?”, coba tanyakan, “Apa yang bisa bikin hari ini terasa sedikit lebih ringan?”
Kamu juga bisa mulai melakukan hal-hal sederhana seperti tidur dan makan lebih teratur, berjalan kaki, melakukan peregangan ringan, mengurangi waktu di depan layar, atau mengambil jeda dari media sosial dan berita yang justru membuat pikiran semakin penuh.
Dan yang nggak kalah penting, cari orang yang membuatmu merasa aman untuk cerita. Kalau kondisi tersebut terasa semakin berat atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan psikolog atau profesional kesehatan mental juga bisa menjadi pilihan.
Akhirnya, hidup bukan cuma soal bagaimana caranya survive sampai besok. Kamu juga berhak punya waktu untuk menikmati hidup tanpa terus menerus merasa harus mengejar sesuatu.
Jadi, kalau akhir-akhir ini kamu merasa hidup isinya cuma kerja, tugas, makan, tidur, lalu mengulang semuanya lagi, mungkin ini saatnya menurunkan gas mu sedikit demi sedikit.
Nggak harus langsung berhenti. Pelan-pelan saja yang penting jangan sampai lupa bahwa kamu juga manusia bukan mesin, dan tubuh mu butuh yang nama nya istirahat.


















