Belakangan, fenomena bed rotting ramai diperbincangkan gen z di media sosial. Fenomen ini merujuk pada kebiasan berdiam lama di tempat tidur sambil berselancar di media sosial.
Meski terlihat sepele, namun kebiasaan ini memiliki pengaruh besar terhadap pola tidur dan kebiasaan harian. Bahkan perilaku ini dianggap sebagai bentuk kemalasan.
Arti Bed Rotting
Dilansir dari Health, bed rotting adalah adalah kebiasaan berlama-lama di tempat tidur bukan untuk tidur, melainkan untuk melakukan aktivitas pasif seperti menonton, bermain ponsel, atau sekadar berbaring tanpa tujuan jelas.
Banyak masyarakat khususnya gen z yang menganggap tren ini sebagai me time dan self cafe. Padahal kebiasaan ini dapat mengubah persepsi otak terhadap fungsi tempat tidur.
Idealnya, tempat tidur digunakan untuk tidur dan istirahat. Ketika seseorang terlalu sering melakukan bed rotting, otak dapat mengasosiasikan tempat tidur sebagai area untuk aktivitas lain, bukan untuk tidur.
Bed Rotting Menurut Psikologis
Pakar Pendidikan Anak dan Remaja IPB University Yulina Eva Riany, mengatakan perilaku ini memiliki dimensi psikologis yang lebih kompleks, terutama terkait tekanan sosial dan proses pencarian jati diri.
Fenomena ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks,”
ujar Yuliana dalam keterangannya
Yulina menerangkan bahwa remaja berada pada fase identity vs role confusion, yakni tahap pencarian jati diri. Dalam konteks ini, dunia digital menjadi ruang eksplorasi baru.
Bed rotting tidak selalu bisa dibaca sebagai perilaku pasif. Dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi ‘ruang jeda’ sekaligus ‘ruang eksplorasi’ bagi remaja,”
jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa fenomena ini memiliki sisi ambivalen. Paparan berlebih terhadap kehidupan ideal di media sosial dapat memicu perbandingan sosial dan kecemasan.
Bed rotting bisa menjadi semacam pause button psikologis, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan,”
tambahnya.
Batas Agar Tidak Terjebak
Yulina menjelaskan bahwa bed rotting berada di wilayah abu-abu antara self-care dan perilaku maladaptif. Ketika dilakukan secara sadar untuk memulihkan energi, perilaku ini dapat menjadi strategi regulasi diri yang sehat. Namun, jika berubah menjadi pelarian dari tekanan, maka termasuk dalam pola avoidance coping.
Jika individu masih memiliki kendali, tahu kapan harus berhenti dan mampu kembali beraktivitas, maka ini bisa menjadi bentuk self-care. Namun, ketika kontrol mulai hilang, dampaknya bisa serius,”
ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa dalam kondisi tertentu, bed rotting dapat menjadi indikasi masalah kesehatan mental, seperti burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain kehilangan minat, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, serta penurunan fungsi dalam akademik atau pekerjaan.
Untuk itu, Dr Yulina menekankan pentingnya membangun pola istirahat yang sehat.
Istirahat yang sehat bukan sekadar tidak melakukan apa-apa, tetapi dilakukan dengan kesadaran, memiliki batas waktu, dan benar-benar memulihkan energi,”
tuturnya.
Ia menyarankan untuk menetapkan batas waktu istirahat, membatasi penggunaan gawai di tempat tidur, serta mengganti istirahat pasif dengan aktivitas ringan seperti berjalan santai atau peregangan.
Self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita,”
pungkasnya.





















