Pernah nggak sih kamu lagi debat sama orang di kolom komentar, awalnya bahas topik A tapi ujung-ujungnya malah saling serang pribadi?
Bukannya membahas isi argumen, malah berubah jadi adu siapa yang paling benar.
Ada yang bawa-bawa jabatan orang yang ngomong, ada yang nyerang fisik atau karakter lawan debat, bahkan ada juga yang memelintir perkataan seseorang jadi sesuatu yang sebenarnya nggak pernah dimaksud.
Kalau kamu pernah melihat atau bahkan ikut melakukan hal seperti itu, ternyata hal ini ada istilahnya, lho.
Akun TikTok @callmeibraaaaa mengungkap ada tiga cacat logika (logical fallacy) yang katanya paling populer di Indonesia.
Lewat video yang diunggahnya, ia menjelaskan tiga pola kesalahan berpikir yang cukup sering muncul dalam debat sehari-hari, terutama di media sosial.
Lantas, apa saja?
1. Appeal to Authority
Cacat logika pertama adalah appeal to authority. Sederhananya, seseorang menganggap sebuah argumen benar hanya karena disampaikan oleh orang yang dianggap punya otoritas atau kedudukan tertentu.
Dalam videonya, @callmeibraaaaa memberi contoh bahwa sebuah pernyataan bisa saja dianggap benar hanya karena yang mengucapkannya adalah presiden.
Padahal, yang seharusnya diperhatikan bukan cuma siapa yang menyampaikan, tetapi juga apakah pernyataan tersebut punya dasar dan argumen yang kuat.
Pola seperti ini juga bisa terjadi ketika seseorang menganggap perkataan pemuka agama, tokoh terkenal, orang yang lebih tua, atau figur tertentu pasti benar hanya karena status mereka.
Padahal, punya jabatan, pengalaman, atau posisi tertentu nggak otomatis membuat seseorang selalu benar dalam setiap persoalan.
2. Ad Hominem
Kalau kamu pernah melihat perdebatan di media sosial yang awalnya membahas suatu masalah, tetapi tiba-tiba berubah jadi saling menghina, fix itu adalah ad hominem.
Ad hominem terjadi ketika seseorang menyerang pribadi lawan debat, bukan membantah argumen yang sedang disampaikan.
Menurut @callmeibraaaaa, ad hominem menjadi salah satu bentuk cacat logika yang paling rendah dalam sebuah debat karena seseorang sudah nggak lagi membantah isi argumen tapi lebih ke menyerang fisik seseorang.
Seseorang mungkin sudah menjelaskan argumennya panjang lebar, lengkap dengan alasan dan data, tetapi balasan yang muncul malah berupa ejekan terhadap fisik, cara bicara, latar belakang, atau karakter orang tersebut.
Padahal, menyerang pribadi seseorang nggak serta-merta membuktikan bahwa argumen yang disampaikannya salah.
3. Strawman Fallacy
Terakhir ada strawman fallacy. Cacat logika ini terjadi ketika seseorang mengubah atau memelintir argumen lawan jadi versi yang lebih ekstrem, lalu menyerang versi tersebut.
Misalnya, seseorang mengatakan bahwa berdasarkan data, masyarakat Jakarta cenderung lebih konsumtif karena punya tingkat pendapatan atau UMR yang lebih tinggi.
Namun, lawan debat justru memelintir pernyataan tersebut menjadi, “Berarti kamu menganggap semua orang Jakarta matre?”
Padahal, pernyataan awal nggak pernah mengatakan bahwa semua orang Jakarta konsumtif atau matre.
Inilah yang dimaksud dengan strawman, Argumen awal dibuat seolah-olah punya maksud yang lebih ekstrem dari sebenarnya, lalu versi yang sudah dipelintir itulah yang diserang.
Tiga jenis cacat logika tersebut sebenarnya nggak cuma muncul dalam debat serius. Di media sosial, pola serupa bisa ditemukan dalam berbagai pembahasan, mulai dari politik, kesehatan, pendidikan, gaya hidup, sampai perdebatan receh di kolom komentar.
Jadi, sebelum ikut terpancing dalam sebuah debat, coba perhatikan lagi. Apakah kita benar-benar sedang membantah argumennya, atau justru menyerang orangnya dan memelintir perkataannya?

























