Survei terbaru Bank Indonesia (BI) memperkirakan, kinerja penjualan eceran Januari 2026 melambat. Sebab, Indeks Penjualan Riil (IPR) turun sebesar 0,6 persen month to month (mtm), dibandingkan sebelumnya 3,1 persen mtm.
Kepala Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso mengatakan, IPR diperkirakan tercatat sebesar 228,3 pada Januari 2026, atau lebih rendah dari 229,8 pada Desember 2025. Penurunan ini disebabkan oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang terkontraksi sebesar -1,0 persen mtm sejalan dengan berakhirnya Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Secara bulanan, pertumbuhan IPR diperkirakan turun sebesar -0,6 persen mtm, berada pada fase kontraksi dari periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,1 persen mtm,”
ujar Denny dalam keterangannya Selasa, 10 Februari 2026.
Meski kelompok makanan minuman dan tembakau mengalami kontraksi. Denny mengatakan sebagian besar lainnya masih tumbuh dan berada di zona ekspansi, diantaranya kelompok peralatan informasi dan komunikasi, serta barang budaya dan rekreasi kedua tercatat sebesar 2,8 persen mtm. Lalu, ada perlengkapan rumah tangga lainnya 1,8 persen serta sub kelompok sandang 1,3 persen mtm.
Adapun secara tahunan, penjualan eceran Januari diperkirakan sebesar 7,9 persen year on year (yoy), atau naik dari 3,5 persen yoy pada periode sebelumnya.
Untuk pendorong kenaikan itu, mayoritas berasal dari kelompok barang budaya rekreasi 15,5 persen, perlengkapan rumah tangga lainnya 3,2 persen, bahan bakar kendaraan dan bermotor 0,2 persen, serta sub kelompok sandang 8 persen.
Berdasarkan laporan BI, beberapa kota mencatatkan penurunan IPR pada Januari 2026. Penurunan terdalam di Manado, diikuti Surabaya, Makassar, dan Medan.
Penjualan Eceran Desember 2025
Sementara itu, untuk Desember 2025 penjualan eceran masih tumbuh, dengan IPR tercatat sebesar 229,8, lebih tinggi dari level indeks 222,9 pada November 2025. Berdasarkan pertumbuhannya, IPR tumbuh sebesar 3,5 persen yoy, atau lebih rendah dibandingkan 6,3 persen yoy pada November 2025.
Denny menjelaskan, kinerja penjualan tersebut ditopang oleh kelompok yang masih tumbuh yaitu suku cadang dan aksesori, makanan, minuman, dan tembakau, serta barang budaya dan rekreasi. Namun, pertumbuhan itu masih lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Bila dilihat secara bulanan, penjualan eceran pada Desember 2025 sebesar 3,1 persen mtm, atau naik dari sebelumnya yang sebesar 1,5 persen mtm. Peningkatan tersebut didorong oleh kelompok peralatan informasi dan komunikasi, suku cadang dan aksesori, barang budaya dan rekreasi, serta makanan minuman dan tembakau.
Seiring dengan peningkatan permintaan masyarakat pada saat HBKN Natal dan Tahun Baru yang didukung oleh kelancaran distribusi,”
jelasnya.
Penjualan Eceran 6 bulan ke Depan Melambat
Di samping itu, responden memperkirakan penjualan eceran meningkat pada tiga bulan yang akan datang. Akan tetapi penjualan eceran menurun pada enam bulan yang akan datang.
Kondisi ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Maret 2026 tercatat sebesar 146,8 atau naik dari 143,2 pada periode sebelumnya. Hal tersebut didorong oleh permintaan masyarakat yang meningkat seiring dengan momentum Ramadan dan Idul Fitri.
Dari sisi harga, tekanan inflasi pada tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Maret dan Juni 2026 diperkirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Maret dan Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar 175,7 dan 156,3, atau lebih tinggi dibandingkan dengan IEH pada periode sebelumnya sebesar 168,6 dan 154,5.
Peningkatan tersebut didorong oleh ekspektasi kenaikan harga pada periode Ramadan dan HBKN Idul Fitri 1447 H,”
tulis laporan BI.


