Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Senin, 23 Mar 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Spill
  • DPR
  • Banjir
  • BMKG
  • sumatera
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part I) Momok Harga Pangan Ramadan: Jebakan ‘Pelana Kuda’ di Tengah Sengkarut Stok Nasional
Ekonomi Bisnis

(Part I) Momok Harga Pangan Ramadan: Jebakan ‘Pelana Kuda’ di Tengah Sengkarut Stok Nasional

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: Februari 19, 2026 3:03 pm
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
Pedagang di Pasar Tradisional
Pedagang di Pasar Tradisional (Foto: OWRITE/Syifa)
SHARE

Bagi sebagian besar umat Muslim, Ramadan adalah bulan yang dinanti dengan suka cita. Namun, bagi para pelaku usaha mikro seperti pemilik warung sembako, menjelangnya bulan puasa seringkali menjadi periode yang memusingkan. 

Tren kenaikan harga kebutuhan pokok yang berulang setiap menjelang hari besar keagamaan, terus menggerus modal pedagang dan menciptakan dilema di tengah masyarakat kelas bawah.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh Miranti–bukan nama sebenarnya–seorang pemilik warung sembako asal Sukabumi, Jawa Barat.

Alih-alih meraup untung dari tingginya permintaan jelang Ramadan, ia justru harus memutar otak untuk bertahan di tengah melambungnya harga dari agen dan distributor.

Pengeluaran bertambah, modal berkurang,”

keluh Miranti saat menceritakan kondisi usahanya kepada owrite. 

Ia menuturkan, tren kenaikan harga ini sebenarnya tidak hanya terjadi jelang hari besar, melainkan sudah terasa konsisten setiap hari dalam dua tahun terakhir.

Momen Ramadan hanya memperparah keadaan. Kenaikan harga pangan di tingkat agen memaksanya menaikkan harga jual, meski dengan perasaan dilematis. 

Ia mengaku bingung menyikapi fenomena ini. Di satu sisi, ia takut kehilangan pelanggan. Sisi sebaliknya, pelanggannya pun masyarakat kelas menengah ke bawah yang sedang kesulitan ekonomi.

Demi bisa menyajikan hidangan layak seperti daging di awal Ramadan atau Lebaran, tak jarang pelanggannya terpaksa berutang.

Rata-rata yang ke warung menjelang puasa dan Lebaran malah suka berutang dulu demi bisa makan daging. Pengusaha warung juga mau tidak mau harus memutar otak mengeluarkan modal lebih untuk menyanggupi pesanan pelanggan, karena kadang kasihan juga (dengan keinginan pembeli),”

jelas Miranti.

Untuk menyiasati risiko, Miranti menerapkan strategi penjualan yang ketat namun tetap berempati. Ia menetapkan harga yang transparan sejak awal kepada pembeli alias sebelum membeli, pelanggan wajib mengetahui harganya. Hal ini demi tetap mencapai tujuan “barang keluar, dapur ngebul”. 

Jika harga daging sapi di pasar menyentuh Rp150.000 per kilogram, ia menjualnya di harga Rp160.000 per kilogram—baik untuk pembeli tunai maupun yang berutang.

Khusus untuk komoditas berisiko tinggi dan mahal seperti daging sapi, ia hanya menyediakannya berdasarkan sistem pra-pesan (pre-order), berbeda dengan daging ayam yang dipasok setiap hari.

Miranti, yang juga merupakan guru honorer sebuah SD negeri, secara kritis menyoroti alasan klasik di balik kenaikan harga. Ia menduga kuat ada campur tangan kartel atau mafia pangan yang sengaja mempermainkan harga jelang hari besar.

Ia juga menepis asumsi bahwa kenaikan harga wajar terjadi karena masyarakat bakal mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR).

Apa karena pemerintah berpikir orang-orang pada dapat THR jadi banyak pemasukan? Padahal yang dapat THR hanya pekerja, dan itu pun tidak besar jika hanya karyawan biasa,”

kata Miranti.

Dia berpendapat pemerintah seharusnya melakukan preventif dengan menekan harga sejak awal Ramadan, agar seluruh lapisan masyarakat bisa menyambut bulan puasa dengan tenang.

Lantas, alih-alih menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dinilainya membebani lantaran kewajiban membayar cicilan bulanan di tengah ketidakpastian omzet, Miranti berharap pemerintah mengintervensi langsung kepada pelaku usaha mikro. 

Ia mengenang masa pandemi COVID-19, ketika pemerintah sempat memberikan Bantuan Produktif Usaha Mikro senilai Rp1,2 juta hingga Rp2,4 juta secara cuma-cuma.

Saat ini, insentif serupa berupa modal hibah Rp5 juta hingga Rp10 juta, misalnya, dirasa jauh lebih relevan untuk menyelamatkan warung kecil ketimbang KUR. 

Perihal program Operasi Pasar atau Pasar Murah yang kerap digembar-gemborkan pemerintah sebagai solusi penekan inflasi, Miranti melihatnya dengan sebelah mata.

Ia tidak menganggap Pasar Murah sebagai pesaing bisnisnya, karena stok yang disediakan pemerintah biasanya sangat terbatas. Namun, ia mengkritik pelaksanaannya yang kerap salah sasaran. 

Pasar murah itu sebaiknya untuk warga yang benar-benar kurang mampu. Kalau yang mampu, kadang suka beli lebih dari satu paket. Jadi mesti didata ulang atau sekalian saja untuk yang kurang mampu digratiskan, seperti (diberikan) Bantuan Langsung Tunai,” 

tutur dia.

Pelana Kuda

Kenaikan harga bahan pangan pokok seolah menjadi “ritual” wajib setiap menjelang bulan suci Ramadan dan hari raya Idulfitri–dan hari besar lainnya.

Di tengah siklus tahunan ini, masyarakat kini dihadapkan pada variabel baru yang masif: pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh pemerintah.

Tingginya kebutuhan konsumsi rumah tangga ditambah pengadaan logistik harian untuk jutaan porsi MBG memunculkan kekhawatiran: mampukah produksi nasional menanggung beban ganda? Apakah kenaikan harga di pasar ritel adalah bentuk “inflasi kebijakan” yang tak terhindarkan?

Kepala Biotech Center Universitas IPB sekaligus Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa, berpendapat untuk saat ini stok pangan nasional tergolong dalam posisi aman, namun ada catatan bila program MBG diimplementasikan secara penuh (full scale).

Ya, sebenarnya cukup posisi saat ini, kecuali kalau MBG nanti sudah full. Kalau MBG benar-benar full, maka ada beberapa yang kurang, misalnya telur dan daging ayam. Dalam arti produksi dalam negeri sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan, akan ada defisit,”

kata Andreas kepada owrite. 

Ancaman terbesar justru ada pada komoditas susu. Saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor susu mencapai angka yang sangat tinggi.

Susu itu sudah naik terus. Impor susu Indonesia tahun 2025 meningkat, karena ketergantungan impor susu nasional saat ini sekitar 82 persen. Kalau produksi konstan tapi ada permintaan berlebih, wajar harga melonjak,”

jelas dia.

Sementara, untuk komoditas beras jelang Ramadan dan Lebaran tahun ini diproyeksikan aman. Hal ini karena momen hari raya bertepatan dengan panen raya yang jatuh pada Maret nanti.

Menyikapi lonjakan harga jelang hari besar, pemerintah seringkali melempar narasi adanya “mafia” atau “kartel” pangan yang bermain. 

Andreas dengan tegas menepis narasi tersebut. Ia menyebut lonjakan harga murni karena hukum ekonomi biasa yakni penawaran dan permintaan (supply and demand).

Tidak ada permainan tengkulak maupun mafia. Saya tidak percaya tuduhan seperti itu. Kalau ada mafia, pemerintah punya kuasa, tangkap saja, selesai. Itu murni hukum ekonomi biasa,” 

ucap Andreas.

Pergerakan harga pangan jelang Lebaran pun ia anggap selalu membentuk pola “pelana kuda”.

Menjelang puasa biasanya (harga) naik karena permintaan tinggi, ada kenduren atau upacara masyarakat. Tapi naiknya dalam satu pekan, lalu selama puasa (harga) turun. Menjelang Lebaran naik lagi, dan bertahan sekitar seminggu setelah Lebaran sebelum akhirnya turun lagi. Itu pola tahunan,”

urai Andreas.

Daripada menyalahkan mafia tanpa dasar, Andreas menyarankan pemerintah dan Badan Pusat Statistik menggunakan pendekatan saintifik yakni rutin mengkaji Margin Perdagangan dan Pengangkutan (MPP) serta menghitung stok awal tahun.

Melalui data MPP, pemerintah bisa menganalisis apakah kenaikan harga di pasar diakibatkan oleh ketidakwajaran rantai distribusi. 

Kajian MPP ini kadang dilakukan BPS, kadang tidak. Padahal dari sana (pemerintah) bisa menilai apakah ada permainan. Kalau nilai MPP wajar sesuai komoditas, ya, tidak masalah. Misalnya, MPP cabai itu tinggi bisa di atas 50 persen, wajar karena cabai itu perishable food (mudah rusak). Tapi kalau MPP beras tiba-tiba melonjak 40 persen sampai 50 persen, itu pasti ada permainan,”

jelas Andreas.

Dengan melonjaknya harga pangan di pasar, apakah petani ikut meraup untung besar? Andreas membenarkan bahwa petani ikut menikmati kenaikan harga, namun keuntungan bersihnya (net margin) sebenarnya stagnan.

Dia mencontohkan, ketika harga cabai di konsumen Rp100.000, harga di tingkat petani bisa sekitar Rp45.000 sampai Rp50.000. Petani menikmati, tapi harga tinggi itu adalah kompensasi dari produksi yang sedang rendah. Kalau biasanya dapat menjual 2 ton, kemudian sekarang cuma bisa 1 ton, maka keuntungan bersihnya sama saja.

Kemudian perihal implementasi rantai pasok dalam program MBG. Secara konseptual, MBG didesain demi membangkitkan ekonomi perdesaan dengan menyerap langsung produk-produk petani lokal, sehingga memangkas rantai distribusi dari 4-5 titik menjadi hanya 2-3 titik. Namun, realita di lapangan berkata lain.

Idealnya seperti itu, rantai pasok dipotong sehingga menguntungkan petani. Tapi kenyataannya, silakan saja dilihat, (dapur) MBG dapat bahan produknya dari mana? Dari pasar, dari ritel modern. Kemasan semua. Tidak dari petani langsung yang bisa memangkas rantai pasok,”

ujar Andreas.
Tag:berasDagingharga sembakoHeadlinemakan bergizi gratisMBGpedagangramadanSpillwarung
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Penumpang berjalan untuk menaiki pesawat di Bandara Internasional Juanda Surabaya, Jawa Timur
Nasional

Kemenhub Sebut 10 Juta Pemudik Padati Angkutan Lebaran 2026

Kementerian Perhubungan melalui Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026 mencatat pergerakan penumpang angkutan umum secara kumulatif, sejak H-8 (13 Maret 2026) hingga H-1 Lebaran (20 Maret 2026) tercatat mencapai 10.003.583…

By
Iren Natania
Ivan
3 Min Read
Juru Bicara (Jubir) Satgas Operasi Ketupat 2026, Kombes Pol Marupa Sagala.
Nasional

292 Kecelakaan Lalu Lintas Selama Arus Mudik, 8 Orang Meninggal Dunia

Polri mencatat 292 kasus kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia hingga luka ringan selama musim mudik Lebaran 2026. Data tersebut berdasarkan pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 per Minggu, 22 Maret…

By
Rahmat
Amin Suciady
2 Min Read
Tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji dan penyelenggaraan ibadah haji Yaqut Cholil Qoumas memasuki mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK
Hukum

Tahanan Rumah Yaqut Cuma Bebani Uang Negara dan Lukai Semangat Antikorupsi

Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, menilai pengalihan status penahanan eks Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas (YCQ), sekaligus tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan, yang sebelumnya mejadi…

By
Amin Suciady
Rahmat
2 Min Read

BERITA LAINNYA

KCIC mencatat terjadi lonjakan pembelian tiket kereta Whoosh pada H+2 Lebaran 2026
Ekonomi Bisnis

Whoosh Diserbu Penumpang, 13 Ribu Tiket Terjual

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat sebanyak 13 ribu tiket kereta…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteIvan OWRITE
By
Rahmat
Ivan
16 jam lalu
Pengeboran minyak di tengah gurun. (Sumber: Unsplash/Yuan Chen)
Ekonomi Bisnis

Harga Minyak Tembus US$112 Per Barel Usai Irak Stop Ekspor dan Kilang Kuwait Diserang

Harga minyak dunia kembali melonjak tajam di tengah eskalasi konflik AS-Israel vs…

dusep-malik
By
Dusep
18 jam lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

Tak Hanya Efisiensi Anggaran, Purbaya Akan Batasi Pengajuan Baru

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membatasi pengajuan anggaran baru Kementerian Lembaga…

Nisa-OWRITEIvan OWRITE
By
Anisa Aulia
Ivan
2 hari lalu
Sejumlah pemudik kereta api jarak jauh berjalan setibanya di Stasiun Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat
Ekonomi Bisnis

Tiket Kereta Api Lebaran 2026 Laris Manis, 3,7 Juta Lebih Terjual

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat penjualan tiket Angkutan Lebaran 2026 terus…

iren natania longdongIvan OWRITE
By
Iren Natania
Ivan
2 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up