Serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) – Israel vs Iran telah menyebabkan ketidakpastian global. Kondisi tersebut turut berdampak pada perekonomian Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan konflik Iran melawan AS dan Israel menekan ekonomi Indonesia utamanya melalui jalur harga energi, nilai tukar, dan sentimen pasar keuangan.
Ketika eskalasi terjadi, harga minyak mentah langsung melonjak tajam, bahkan sempat naik sekitar 13 persen hingga sekitar US$82 per barel, karena pasar menilai risiko gangguan pasokan dan pengiriman meningkat,”
ujar Josua saat dihubungi owrite Senin, 2 Maret 2026.
Josua menyoroti, penutupan Selat Hormuz yang dilakukan oleh Iran, karena telah memicu gejolak pada harga energi. Sebab, selat itu menangani sekitar seperempat perdagangan minyak melalui laut dunia.
Kondisi ini diperburuk oleh indikasi lalu lintas kapal tanker yang nyaris berhenti dan kenaikan biaya asuransi serta pengalihan rute pelayaran, yang secara praktis memperketat pasokan dan menanamkan tekanan inflasi baru ke perekonomian global,”
jelasnya.
Harga Minyak Melambung Beban Berat APBN
Josua mengatakan, dalam skenario yang lebih berat, penutupan Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak naik lebih jauh hingga di atas US$100 per barel. Kondisi ini pun berpotensi membuat nilai tukar rupiah amblas.
Bersamaan dengan itu, penguatan dolar AS biasanya terjadi karena investor beralih ke aset yang dianggap aman ketika ketidakpastian naik, sehingga mata uang negara berkembang cenderung tertekan,”
jelasnya.
Josua mengatakan, bagi Indonesia yang merupakan importir neto minyak, lonjakan harga minyak akan memperbesar biaya impor energi, memperburuk defisit perdagangan migas, dan memberi tekanan tambahan ke rupiah. Sementara pelemahan rupiah akan memperkuat inflasi impor dan menaikkan beban subsidi energi dalam rupiah.
Risiko fiskalnya tidak kecil, karena setiap kenaikan US$1 pada asumsi harga minyak dapat menambah beban belanja sekitar Rp10 triliun, sedangkan tambahan penerimaan hanya sekitar Rp3 triliun, sehingga defisit bersih cenderung melebar bila kenaikan harga bertahan,”
jelasnya.
Lalu dari sisi pasar keuangan, kenaikan ketidakpastian membuat biaya pendanaan berpotensi naik. Sebab, investor meminta imbal hasil lebih tinggi, dan bank sentral cenderung lebih berhati-hati menurunkan suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi.
Josua menilai, pada level dunia usaha, kombinasi biaya energi, biaya logistik, dan biaya dana yang lebih mahal biasanya menahan ekspansi. Sedangkan rumah tangga berpotensi menahan konsumsi jika biaya hidup naik, sehingga tekanan pada pertumbuhan lebih mudah muncul bila gejolak berlangsung lebih lama.
Laju Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Tertahan
Josua menilai, dampak konflik ke pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 akan cenderung terbatas. Hal ini karena eskalasi besar terjadi di akhir Februari.
Sehingga jendela spillover ke aktivitas riil kuartal I terutama lewat data Maret dan lebih banyak berwujud pada sentimen, nilai tukar, serta biaya energi dan logistik, bukan kontraksi produksi yang terjadi seketika,”
jelasnya.
Namun, arah koreksi tetap bergantung pada durasi konflik. Josua menerangkan jika eskalasi terbatas dan harga minyak bertahan di kisaran US$80-US$90 per barel, dampaknya umumnya masih dapat dikelola, dan koreksi pertumbuhan kuartal I kemungkinan hanya kecil.
Menurut Josua, jika dalam skenario terburuk membuat harga minyak sempat menembus US$100 per barel, dan berdampak pada rata-rata harga minyak Brent sepanjang 2026 bertahan di kisaran US$85 per barel. Maka akan menurunkan laju pertumbuhan ekonomi RI pada 2026 sebesar 0,35 poin.
Dibandingkan proyeksi dasar yang menempatkan rata-rata harga minyak Brent 2026 sekitar US$68,7 per barel dan pertumbuhan ekonomi 2026 sekitar 5,1-5,2 persen, kenaikan sekitar US$16 per barel tersebut secara indikatif berpotensi menurunkan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026 sekitar 0,35 poin. Sehingga pertumbuhan tahun 2026 berpotensi bergeser dari sekitar 5,1-5,2 persen menjadi melambat 4,75-4,85 persen secara tahunan,”
jelasnya.


