Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons, penilaian Fitch Ratings terhadap Indonesia. Fitch dalam hal ini telah merevisi outlook peringkat utang RI dari stabil menjadi negatif.
Purbaya mengatakan, dipangkasnya outlook peringkat utang tersebut kemungkinan karena Fitch belum yakin terhadap Pemerintahan dan Menteri Keuangan baru. Ia menduga, belum pernahnya dia melakukan tugas ke luar negeri menjadi salah satu alasan ketidakyakinan itu.
Mungkin masih pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru, jadi mereka sanksi jangan-jangan Menteri Keuangan nggak bisa ngitung. Jadi itu kesalahan saya juga, karena saya nggak keluar negeri kan,”
kata Purbaya dalam media briefing di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Minggu, 8 Maret 2026.
Purbaya mengatakan, alasan mengapa ia belum juga melakukan safari ke luar negeri karena ekonomi RI belum tumbuh 6 persen. Namun, dengan penilaian Fitch ini, Purbaya akan segera melakukan tugas ke luar negeri pada April 2026.
Saya pikir sebelum Indonesia tumbuh 6 persen, saya enggak akan keluar negeri. Tapi sekarang masih berubah, karena saya mesti marketing juga keadaan kita seperti apa. Jadi April saya akan keluar negeri untuk memastikan bahwa Menteri Keuangan kita ngertilah apa yang dikerjakan,”
tuturnya.
Bendahara Negara sendiri menilai, kondisi fiskal RI masih aman. Menurutnya dibandingkan negara kawasan, pertumbuhan ekonomi RI masih lebih baik. Karena pada 2025 ekonomi tumbuh 5,11 persen dan menjadi yang tertinggi di kelompok G20.
Karena kalau kita lihat dari rasio utang ke PDB kita aman. Kita lihat dari defisit ke PDB kita aman, pertumbuhan kita aman bahkan kita tertinggi kan di G20 tumbuhnya 5,11 persen tahun lalu,”
ujarnya.
Negara sekeliling kita seperti Thailand di bawah kita pertumbuhannya defisitnya di atas 4 persen, Malaysia juga di atas 4 persen kalau nggak salah ya, Vietnam di atas 4 persen tuh, tapi kenapa yang diincar Indonesia,”
sambungnya.
Sebelumnya, Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang RI atau Indonesia’s Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating dari stabil menjadi negatif. Revisi ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah, serta kekhawatiran investor terkait terkikisnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia.
Fitch Ratings menilai, kondisi ini akan menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, dan memberikan tekanan terhadap ketahanan eksternal.
Revisi outlook ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran mengenai terkikisnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi kewenangan pembuatan kebijakan,”
kata Fitch dalam keterangan resmi.
Fitch memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,7 persen.
Adapun proyeksi ini disebabkan oleh asumsi penerimaan negara yang konservatif dengan proyeksi pertumbuhan yang lebih lambat, serta peningkatan belanja sosial termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).


