Harga minyak dunia kembali melonjak tajam di tengah eskalasi konflik AS-Israel vs Iran. Pada Jumat, harga minyak menembus level psikologis US$112 per barel setelah Irak menetapkan kondisi force majeure dan serangan drone menghantam fasilitas energi di Kuwait.
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent sebagai acuan global ditutup naik 3,26 persen ke level US$112,19 per barel. Sementara minyak mentah AS (WTI) turut menguat 2,27 persen menjadi US$98,32 per barel.
Lonjakan harga minyak tersebut dipicu gangguan serius pasokan global, dimana Pemerintah Irak dilaporkan tidak mampu mengekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat meningkatnya serangan Iran di jalur strategis tersebut. Dampaknya, lalu lintas kapal tanker anjlok drastis.
Selain itu, tekanan semakin besar setelah dua kilang utama di Kuwait yaitu Mina Al-Ahmadi dan Mina Abdullah dihantam serangan drone. Insiden tersebut memicu kebakaran dan memaksa penghentian sebagian operasional sebagai langkah pengamanan.
Harga Minyak Bisa Melonjak US$180 Per Barel Akhir April

Di tengah situasi tersebut, kekhawatiran pasar semakin meningkat. Pejabat energi Arab Saudi bahkan memperingatkan harga minyak bisa melonjak hingga di atas US$180 per barel jika gangguan pasokan terus berlangsung hingga akhir April.
Pemerintah Amerika Serikat berupaya meredam gejolak pasar. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, membuka peluang pencabutan sanksi terhadap sekitar 140 juta barel minyak Iran yang saat ini tertahan di kapal tanker.
Langkah tersebut dinilai dapat menahan lonjakan harga dalam jangka pendek, sekitar 10 hingga 14 hari ke depan.
Di sisi lain, Israel menyatakan turut membantu upaya pembukaan kembali Selat Hormuz bersama AS. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim konflik dapat berakhir lebih cepat dari perkiraan, meskipun situasi di lapangan masih penuh ketidakpastian.
1-3 Bulan ke Depan Citigroup Prediksi Harga Minyak US$150 Per Barel

Lembaga keuangan global Citigroup melihat konflik ini telah memicu lonjakan tajam harga energi. Citi pun menaikkan proyeksi harga minyak dalam jangka pendek, dengan estimasi Brent dan WTI bisa mencapai US$120 per barel dalam 1–3 bulan ke depan.
Bahkan, dalam skenario terburuk, harga minyak berpotensi menembus US$150 per barel jika gangguan pasokan semakin meluas.
Meski demikian, Citi tetap memperkirakan adanya peluang deeskalasi dalam 4–6 minggu ke depan. Jika itu terjadi, harga minyak diprediksi bisa kembali turun ke kisaran US$70–US$80 per barel pada akhir tahun.


