Perseteruan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Teheran menegaskan tidak akan mengikuti perundingan ulang dengan Washington setelah aksi pencegatan kapal kargo berbendera Iran oleh angkatan laut AS.
Sikap ini menjadi sinyal keras bahwa jalur diplomasi kian buntu, sekaligus memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Media pemerintah Iran menyebut, hingga saat ini tidak ada rencana bagi Teheran untuk berpartisipasi dalam negosiasi yang diusulkan AS. Penolakan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan militer, termasuk blokade laut dan penyitaan kapal yang dianggap sebagai bentuk “provokasi”.
Harga Minyak Sempat Naik
Di saat bersamaan, pasar energi global langsung bereaksi. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 4 persen ke level US$94,20 per barel, mencerminkan kekhawatiran gangguan pasokan.
Lonjakan ini terjadi tak lama setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia. Sebelumnya, selat tersebut sempat dibuka sementara saat masa gencatan senjata Israel-Lebanon.
Namun, keputusan berubah cepat. Iran kembali menutup akses dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mendekat berpotensi menjadi target.
Langkah ini diambil setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menilai blokade laut yang dilakukan AS melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump justru meningkatkan tekanan. Ia menyatakan blokade akan tetap berlanjut hingga tercapai kesepakatan damai baru dengan Iran.
Trump Tunjuk Wapres JD Vance untuk Negosiasi
Trump bahkan menunjuk Wakil Presiden JD Vance untuk memimpin delegasi negosiasi. Namun, tanpa respons dari Teheran, peluang dialog tampak semakin kecil.
Kondisi ini membuat pasar energi bergerak liar. Analis dari MST Marquee, Saul Kavonic, menilai fluktuasi harga minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh perang pernyataan ketimbang kondisi riil di lapangan.
Pasar merespons narasi yang berubah-ubah dari kedua pihak. Ini bagian dari negosiasi yang terjadi secara langsung di Selat Hormuz,”
jelas Kavonic dikutip dari BBC Internasional, Selasa, 21 April 2026.
Senada, Chief Investment Officer 7 Investment Management, Shanti Kelemen, menyebut pelaku pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap pernyataan politik.
Pasar sudah lelah dengan kata-kata. Sekarang mereka menunggu aksi nyata,”
katanya.
Dengan situasi yang terus berubah dan minim kepastian, konflik AS-Iran berpotensi menyeret pasar energi global ke fase volatilitas yang lebih dalam, bahkan membuka risiko krisis pasokan jika Selat Hormuz tetap tertutup.



