Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Senin, 8 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Sepak Bola
  • DPR
  • prabowo
  • iran
  • MBG
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / Bank Indonesia Diramal Tahan BI Rate Gegara Harga BBM Nonsubsidi Naik
Ekonomi Bisnis

Bank Indonesia Diramal Tahan BI Rate Gegara Harga BBM Nonsubsidi Naik

Nisa-OWRITEdusep-malik
Last updated: April 22, 2026 9:53 am
Anisa Aulia
Dusep Malik
Share
Gedung Bank Indonesia.
Gedung Bank Indonesia. (Sumber: Dok. BI)
SHARE

Bank Indonesia (BI) diproyeksi, akan kembali menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026. Keputusan ini dilakukan karena konflik geopolitik di Timur Tengah hingga kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi milik Pertamina.

Daftar isi Konten
  • Tiga Alasan Tahan BI Rate
  • Ruang BI Rate Turun Tertutup

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, saat ini prioritas utama kebijakan Bank Sentral adalah mengarah pada stabilitas rupiah, bukan menambah pelonggaran. 

BI diperkirakan kembali menahan suku bunga pada April dan selama tekanan eksternal belum mereda, akan sulit bagi BI untuk memangkas suku bunga. Meski pasar global pada awal pekan terlihat relatif tenang dan bursa saham utama masih bertahan, ketenangan itu belum cukup kuat untuk mengubah sikap BI,”

ujar Josua saat dihubungi Owrite.id.

Tiga Alasan Tahan BI Rate

Josua menjelaskan, ada tiga penyebab BI menahan suku bunga, alasan pertama karena kondisi eksternal. Saat ini pasar sedang menakar perdamaian yang belum pasti dengan risiko dua arah tetap besar, sedangkan BI tetap harus memprioritaskan stabilitas rupiah. 

Ini penting karena bahkan setelah muncul optimisme soal perundingan dan perpanjangan gencatan senjata, dolar dan harga minyak memang sempat melemah, tetapi sifatnya masih rapuh dan sangat bergantung pada berita harian,”

tuturnya.

Rupiah sendiri pada 16 April 2026 ada di level Rp17.127 per dolar AS. Kondisi ini kata Josua, menekankan bahwa dolar AS memang tertekan tetapi perkembangan perang dan arah kebijakan global masih bisa cepat mengubah sentimen. 

Jadi dari sudut pandang BI, memangkas suku bunga di tengah ketidakpastian seperti ini akan terlalu berisiko karena dapat memperlemah bantalan terhadap rupiah pada saat pasar belum benar-benar stabil,”

tuturnya.

Alasan kedua adalah faktor inflasi energi. Josua menilai, kenaikan harga energi termasuk BBM nonsubsidi mendukung keputusan BI untuk menahan suku bunga, meskipun kenaikan BBM nonsubsidi bukan satu-satunya alasan.

Dampak langsung kenaikan BBM nonsubsidi ke inflasi April memang cenderung terbatas karena yang naik hanya segmen tertentu dan pangsa volumenya kecil,”

katanya.

Namun demikian, Josua menuturkan bahwa BI tidak hanya melihat dampak langsung satu bulan, melainkan dampak tidak langsung ke ekspektasi inflasi, biaya logistik, biaya produksi, dan inflasi impor jika rupiah tetap tertekan. 

Ruang penurunan BI Rate pada 2026 praktis habis bila rata-rata harga minyak mencapai US$80 dan rupiah mendekati Rp17.000. Jadi, kenaikan BBM nonsubsidi sendiri belum otomatis memaksa BI menaikkan suku bunga, tetapi jelas membuat BI makin sulit untuk memangkasnya sekarang,”

jelasnya.

Alasan ketiga jelas Josua, saat ini kondisi domestik belum cukup lemah untuk menuntut Bank Sentral segera melakukan pelonggaran. Pasalnya, inflasi inti pada Maret 2026 menurun, keyakinan konsumen masih kuat dengan IKK 122,9, penjualan ritel masih tumbuh, dan PMI manufaktur berada di zona ekspansi.

Artinya, ekonomi domestik memang mengalami moderasi, tetapi belum masuk kondisi yang memaksa BI harus buru-buru menurunkan suku bunga demi menyelamatkan pertumbuhan. Justru karena konsumsi dan aktivitas domestik masih punya bantalan, BI punya ruang untuk menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama,”

tuturnya.

Menurut Josua, di situasi saat ini BI lebih mungkin menggunakan bauran kebijakan lain untuk menopang pertumbuhan, sembari mempertahankan suku bunga acuan.

Ruang BI Rate Turun Tertutup

Lebih lanjut, Josua memandang bahwa ruang Bank Indonesia untuk memangkas BI Rate semakin tertutup. Ke depan BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Ruang penurunan suku bunga pada 2026 telah sangat berkurang, dan BI diperkirakan harus mempertahankan suku bunga pada level saat ini untuk jangka yang lebih panjang demi menjaga rupiah,”

katanya.

Ia menilai, selama tekanan dari harga energi, risiko geopolitik, pelemahan rupiah, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, dan premi risiko Indonesia masih tinggi. Maka BI perlu menjaga tingkat suku bunga agar daya tarik aset rupiah tidak turun terlalu cepat. 

Suku bunga yang dijaga saat ini juga membantu menjaga selisih imbal hasil dengan negara lain, menahan arus keluar modal, dan menambatkan ekspektasi inflasi,”

imbuhnya.
Tag:Bank IndonesiaBBM NonsubsidiBI rateDolar ASHarga BBMRDG BIRupiah
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media yang meliput pemberitaan Ekonomi dan Bisnis.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Trending di OWRITE
Izin Dipersulit, Duit Melejit: Catatan ICW Soal Kasus Silmy Karim
By Adi Briantika
Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim (tengah) tiba untuk menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
1
Bagaimana Zimbabwe Bisa Bangkrut? Kisah Negara Kaya yang Uangnya Tidak Lagi Berharga
By Ani Ratnasari
Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe
2
Teddy Banjir Kritik, Pejabat Bertumbangan Diciduk! Kebetulan atau Ada yang Panik?
By Rahmat Tunny
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya (kanan) berbincang dengan calon siswa saat meninjau bakal Sekolah Rakyat di kompleks Sekolah Tinggi Ilmu Adminstrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN), Penjompongan, Jakarta, Rabu (22/4/2026). Peninjauan tersebut untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana bakal Sekolah Rakyat yang menampung sebanyak 100 siswa dari keluarga tidak mampu untuk memperoleh pendidikan dengan lingkungan berkualitas. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
3
Beda Selera DPR vs Pemerintah dalam RUU Polri: Satu Minta Buka Pintu, Satu Minta Mundur
By Rika Pangesti
Menteri Hukum Supratman Andi Agtas (kedua kiri) bersama Wakil Menteri Sekretaris Negara Bambang Eko Suhariyanto (kiri) menyerahkan pandangan presiden kepada Ketua Komisi III DPR Habiburokhman (ketiga kanan), Wakil Ketua Komisi III DPR Dede Indra (kanan), Rano Alfath (kedua kanan) dan Ahmad Sahroni (ketiga kiri) saat rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/5/2026).
4
Rakyat Diminta Hemat, BGN Malah Gelar Acara Mewah Hingga Makan Anggaran Rp55 Miliar
By Rahmat Tunny
Presiden Prabowo Subianto bersama pemilik SPPG di seluruh Indonesia. Doc: IG SetnegRI
5

BERITA LAINNYA

Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (Sumber: Antara Foto/Asprilla Dwi Adha/hma)
Ekonomi Bisnis

Indonesia Disebut Jauh Dari Krisis, Ini Alasannya

Pelemahan rupiah yang terus menembus level tinggi terhadap dolar Amerika Serikat mulai…

rahmat-tunnyAmin Suciady
By
Rahmat Tunny
Amin Suciady
7 jam lalu
Pengendara motor antre BBM non subsidi jenis Pertamax di salah satu SPBU kawasan Kuningan, Jakarta
Ekonomi Bisnis

Update Harga BBM 7 Juni 2026: Harga Solar Non-Subsidi Turun, Bensin RON Tinggi Naik

Harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum…

iren natania longdongAmin Suciady
By
Natania Longdong
Amin Suciady
7 jam lalu
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong
Ekonomi Bisnis

Laba PGE Melonjak 40 Persen, Tiga Proyek Panas Bumi Kantongi Pendanaan Rp8,6 Triliun

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) melaporkan pertumbuhan kinerja keuangan pada kuartal…

iren natania longdongAmin Suciady
By
Natania Longdong
Amin Suciady
15 jam lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) didampingi Direktur Jenderal Bea Cukai Djaka Budi Utama (kedua kanan) saat meninjau Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Ekonomi Bisnis

Isu ‘Sell Indonesia’: Purbaya Minta Investor Baca Detail Data Ekonomi RI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons 'sell Indonesia' alias jual Indonesia yang…

Nisa-OWRITEowrite-adi-briantika
By
Anisa Aulia
Adi Briantika
1 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up