Bank Indonesia (BI) diproyeksi, akan kembali menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026. Keputusan ini dilakukan karena konflik geopolitik di Timur Tengah hingga kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi milik Pertamina.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, saat ini prioritas utama kebijakan Bank Sentral adalah mengarah pada stabilitas rupiah, bukan menambah pelonggaran.
BI diperkirakan kembali menahan suku bunga pada April dan selama tekanan eksternal belum mereda, akan sulit bagi BI untuk memangkas suku bunga. Meski pasar global pada awal pekan terlihat relatif tenang dan bursa saham utama masih bertahan, ketenangan itu belum cukup kuat untuk mengubah sikap BI,”
ujar Josua saat dihubungi Owrite.id.
Tiga Alasan Tahan BI Rate
Josua menjelaskan, ada tiga penyebab BI menahan suku bunga, alasan pertama karena kondisi eksternal. Saat ini pasar sedang menakar perdamaian yang belum pasti dengan risiko dua arah tetap besar, sedangkan BI tetap harus memprioritaskan stabilitas rupiah.
Ini penting karena bahkan setelah muncul optimisme soal perundingan dan perpanjangan gencatan senjata, dolar dan harga minyak memang sempat melemah, tetapi sifatnya masih rapuh dan sangat bergantung pada berita harian,”
tuturnya.
Rupiah sendiri pada 16 April 2026 ada di level Rp17.127 per dolar AS. Kondisi ini kata Josua, menekankan bahwa dolar AS memang tertekan tetapi perkembangan perang dan arah kebijakan global masih bisa cepat mengubah sentimen.
Jadi dari sudut pandang BI, memangkas suku bunga di tengah ketidakpastian seperti ini akan terlalu berisiko karena dapat memperlemah bantalan terhadap rupiah pada saat pasar belum benar-benar stabil,”
tuturnya.
Alasan kedua adalah faktor inflasi energi. Josua menilai, kenaikan harga energi termasuk BBM nonsubsidi mendukung keputusan BI untuk menahan suku bunga, meskipun kenaikan BBM nonsubsidi bukan satu-satunya alasan.
Dampak langsung kenaikan BBM nonsubsidi ke inflasi April memang cenderung terbatas karena yang naik hanya segmen tertentu dan pangsa volumenya kecil,”
katanya.
Namun demikian, Josua menuturkan bahwa BI tidak hanya melihat dampak langsung satu bulan, melainkan dampak tidak langsung ke ekspektasi inflasi, biaya logistik, biaya produksi, dan inflasi impor jika rupiah tetap tertekan.
Ruang penurunan BI Rate pada 2026 praktis habis bila rata-rata harga minyak mencapai US$80 dan rupiah mendekati Rp17.000. Jadi, kenaikan BBM nonsubsidi sendiri belum otomatis memaksa BI menaikkan suku bunga, tetapi jelas membuat BI makin sulit untuk memangkasnya sekarang,”
jelasnya.
Alasan ketiga jelas Josua, saat ini kondisi domestik belum cukup lemah untuk menuntut Bank Sentral segera melakukan pelonggaran. Pasalnya, inflasi inti pada Maret 2026 menurun, keyakinan konsumen masih kuat dengan IKK 122,9, penjualan ritel masih tumbuh, dan PMI manufaktur berada di zona ekspansi.
Artinya, ekonomi domestik memang mengalami moderasi, tetapi belum masuk kondisi yang memaksa BI harus buru-buru menurunkan suku bunga demi menyelamatkan pertumbuhan. Justru karena konsumsi dan aktivitas domestik masih punya bantalan, BI punya ruang untuk menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas utama,”
tuturnya.
Menurut Josua, di situasi saat ini BI lebih mungkin menggunakan bauran kebijakan lain untuk menopang pertumbuhan, sembari mempertahankan suku bunga acuan.
Ruang BI Rate Turun Tertutup
Lebih lanjut, Josua memandang bahwa ruang Bank Indonesia untuk memangkas BI Rate semakin tertutup. Ke depan BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga untuk menjaga nilai tukar rupiah.
Ruang penurunan suku bunga pada 2026 telah sangat berkurang, dan BI diperkirakan harus mempertahankan suku bunga pada level saat ini untuk jangka yang lebih panjang demi menjaga rupiah,”
katanya.
Ia menilai, selama tekanan dari harga energi, risiko geopolitik, pelemahan rupiah, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, dan premi risiko Indonesia masih tinggi. Maka BI perlu menjaga tingkat suku bunga agar daya tarik aset rupiah tidak turun terlalu cepat.
Suku bunga yang dijaga saat ini juga membantu menjaga selisih imbal hasil dengan negara lain, menahan arus keluar modal, dan menambatkan ekspektasi inflasi,”
imbuhnya.



