Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Pemerintah Prediksi Program B50 Hemat Devisa Negara Rp139,8 Triliun pada 2026

Pemerintah memprediksi program B50 menghemat devisa negara hingga ratusan triliun pada tahun ini. Harapannya bisa hemat Rp139,8 triliun.

Foto udara pabrik minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) milik PT Karya Tanah Subur (KTS) sedang beroperasi Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Rabu (22/4/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari-Februari 2026 mencapai 4,69 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau melonjak 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,71 miliar dolar AS yang menunjukkan permintaan di pasar internasional terhadap produk berbasis sawit Indonesia masih sangat kuat.
Foto udara pabrik minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) milik PT Karya Tanah Subur (KTS) sedang beroperasi Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Rabu (22/4/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari-Februari 2026 mencapai 4,69 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau melonjak 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,71 miliar dolar AS yang menunjukkan permintaan di pasar internasional terhadap produk berbasis sawit Indonesia masih sangat kuat. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar)

Pemerintah memprediksi program bahan bakar campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati seperti minyak sawit (B50), dapat menghemat devisa negara hingga ratusan triliun.

Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan. 

“Dalam konteks B50, untuk program biodiesel mandatori devisa yang bisa dihemat Rp133,3 triliun pada 2025. (Lalu) tahun 2026 harapannya (bisa hemat) Rp139,8 triliun,”

kata Ferry saat ditemui di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis, 30 April 2026.

Pemerintah mencatat industri sawit berperan besar terhadap perekonomian nasional.

Iklan

“Sawit berdasar catatan kami, kontribusinya ke PDB (sekitar) 3,5 persen, jadi signifikan. Nilai ekspornya pada 2025 saja US$40 miliar, volumenya 38,84 juta ton,”

terang dia.

“Kalau dari sisi serapan tenaga kerja, devisa. Jadi memang industri sawit ini secara umum punya peranan yang penting,”

tambah Ferry.

Meski demikian, kata Ferry, pemerintah tidak ingin pasokan sawit untuk program B50 menimbulkan benturan kepentingan dengan industri minyak goreng, yang juga menggunakan sawit sebagai bahan baku utama.

“Prinsipnya (adalah) keseimbangan. Kuncinya salah satu yang perlu didorong adalah produktivitas dari produksi sawit,”

tutup dia.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.