Bank Indonesia (BI) meyakini, nilai tukar rupiah akan kembali menguat dan stabil. Hal ini sejalan dengan intervensi yang sedang ditempuh BI, dan kolaborasi bersama Kementerian Lembaga (K/L) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. 

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, pihaknya masih meyakini langkah-langkah stabilisasi yang saat ini sedang ditempuh bisa menstabilkan dan menguatkan rupiah. Untuk perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah rupiah kembali ambruk sebesar 0,01 persen ke level Rp17.530 per dolar AS. 

BI sangat menyadari kondisi ini, sehingga BI terus menguatkan apa yang disebut tujuh langkah BI ya dalam membuat rupiah itu stabil dan cenderung menguat,”

ujar Denny di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Darryl Ramadhan/kye)
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Darryl Ramadhan/kye)

Ekonomi RI Masih Baik-baik Saja

Denny menuturkan, keyakinan BI ini berakar dari kondisi ekonomi yang masih baik dibandingkan negara-negara lainnya. BI tekannya, akan terus berada di pasar baik dalam maupun luar negeri.

Bank Indonesia akan terus berada di pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Jadi begitu pasar Jakarta tutup, kita stand-by di pasar Eropa, kita kemudian stand-by di pasar Amerika, untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah yang kalau di luar negeri dipengaruhi oleh transaksi NDF itu tetap stabil,”

jelasnya.

Denny mengatakan, melalui sinergi bersama kementerian dan lembaga tidak ada lagi alasan rupiah melemah. Ia meyakini, ke depan rupiah akan mampu stabil dan cenderung menguat. 

Kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama BI, kementerian dan lembaga itu mampu nanti membuat rupiah akan stabil dan juga cenderung menguat. Karena tidak ada alasan untuk rupiah tidak stabil,”

terangnya.

Biang Kerok Rupiah Anjlok

Denny menjelaskan, melemahnya nilai tukar rupiah ini berawal dari konflik yang terjadi di Timur Tengah pada akhir Februari 2025, dan menyebabkan harga minyak ikut terkerek naik. Kenaikan harga minyak dunia sejak pecahnya perang tercatat sudah naik lebih dari 40 persen.

Selain itu, pelemahan rupiah ini juga disebabkan oleh kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury 10 tahun. 

Kalau kita lihat sekarang US Treasury 10 tahun sudah mendekati 4,5 persen, akhir Februari masih sekitar 4 persen ada kenaikan sekitar 10 persen, termasuk juga dengan kecenderungan menguatnya indeks dolar,”

jelasnya.

Denny mengklaim, pelemahan nilai tukar juga tidak hanya dialami oleh Indonesia. Namun, sejumlah negara lainnya seperti Filipina, Thailand, hingga Amerika Selatan juga mengalami pelemahan nilai tukar.

Dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia itu juga melemah tidak hanya rupiah. Ada Filipina Peso, ada Thailand Baht, ada India Rupee, ada mata uang Amerika Selatan, Chili, Korea Won, kira-kira seperti itu ya,”

terangnya.

Kemudian pelemahan rupiah ini diakui BI juga masih disebabkan oleh tingginya permintaan terhadap dolar karena pembagian dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan haji.

Tabel Referensi Kurs Jisdor BI (USD/IDR)

TanggalKurs Referensi Jisdor (Rp)Perubahan (Poin)Status
28 April 2026Rp 17.245—Dasar Perbandingan
29 April 2026Rp 17.324Pelemahan 79Tekanan Meningkat
30 April 2026Rp 17.378Pelemahan 54Penutupan April
4 Mei 2026Rp 17.368Penguatan 10Rebound Tipis
5 Mei 2026Rp 17.425Pelemahan 57Menembus 17.400
6 Mei 2026Rp 17.405Penguatan 20Koreksi
7 Mei 2026Rp 17.362Penguatan 43Penguatan Terbesar
8 Mei 2026Rp 17.375Pelemahan 13Konsolidasi
11 Mei 2026Rp 17.415Pelemahan 40Tekanan Awal Pekan
12 Mei 2026Rp 17.514Pelemahan 99Rekor Terlemah (Tembus 17.500)

(Periode: 28 April – 12 Mei 2026)