Suku bunga yang masih relatif tinggi juga membuat angsuran bulanan menjadi lebih mahal dibanding beberapa tahun lalu. Ini cukup memengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi rasio cicilan terhadap pendapatan,”
jelasnya.
Permintaan Melemah
Trioksa menjelaskan, bila ditelisik perlambatan penyaluran KPR mayoritas karena lemahnya permintaan masyarakat. Namun, dari sisi perbankan juga saat ini cenderung selektif dalam menyalurkan kredit.
Kalau dilihat saat ini, perlambatan lebih dominan berasal dari sisi permintaan masyarakat yang melemah. Namun, dari sisi perbankan juga ada kecenderungan lebih selektif dalam penyaluran kredit, terutama untuk menjaga kualitas aset dan mengantisipasi risiko kredit bermasalah,”
terang.
Dampak ke Industri dan Ekonomi
Trioksa mengatakan, ada beberapa dampak yang akan terasa bagi industri karena turunnya permintaan KPR ini. Bagi industri properti dan konstruksi akan memberikan efek ganda, mulai dari semen, baja, keramik, furnitur hingga tenaga kerja.
Dampaknya ke industri properti dan konstruksi cukup besar karena sektor ini memiliki efek berganda yang luas, mulai dari semen, baja, keramik, furnitur hingga tenaga kerja. Ketika penjualan properti melambat, aktivitas konstruksi juga ikut tertahan,”
katanya.
Sedangkan terhadap ekonomi nasional, ia mengatakan efeknya tidak akan langsung terasa besar dalam jangka pendek. Namun, jika berlangsung cukup lama akan menahan pertumbuhan konsumsi dan investasi domestik.
Karena itu, stimulus properti dan menjaga daya beli masyarakat menjadi penting agar sektor ini kembali bergerak,”
imbuhnya.
Sebelumya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan penyaluran kredit KPR oleh perbankan tercatat sebesar 4,97 persen per Maret 2026. Angka ini melambat pertumbuhan tahun sebelumnya yang double digit sebesar 16,31 persen secara yoy.
Berdasarkan segmentasi, perlambatan penyaluran KPR terjadi hampir pada seluruh tipe rumah, terutama tipe 21 yang jauh melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini karena perbankan lebih selektif dalam menyalurkan kredit.
Perbankan saat ini cenderung lebih selektif dalam melakukan proses underwriting untuk memastikan kemampuan bayar debitur di masa depan,”
kata Dian.