Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa soroti wacana penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk rumah tangga.
Menurutnya CNG memiliki risiko kebakaran dan ledakan yang lebih tinggi dibanding LPG apabila tidak dibarengi dengan standar keamanan yang ketat.
Fabby menuturkan, perbedaan utama CNG dan LPG terletak pada tekanan gas di dalam tabung. CNG memiliki tekanan sekitar 250 bar, hal ini jauh lebih besar jika disandingkan dengan LPG yang hanya sekitar 5 hingga 10 bar.
Ya, itu kira-kira ini yang membuat penyimpanannya juga berbeda,”
kata Fabby dalam wawancara Owrite.id.
Ia menjelaskan, tekanan tinggi membuat tabung CNG harus menggunakan material khusus seperti baja atau komposit agar mampu menahan tekanan gas. Karena itu, tabung CNG juga lebih berat dibanding tabung LPG biasa.
Kebocoran CNG
Karena memiliki karakteristik yang berbeda, kebocoran CNG dan LPG juga berbeda. Jika LPG bocor maka gas akan turun ke bawah karena lebih berat, sedangkan CNG akan naik ke atas karena lebih ringan.
Hal ini membuat percikan api kecil saja dapat memicu kebakaran besar apabila terjadi kebocoran CNG di rumah tangga.
Kalau ada sedikit percikan api itu bisa fatal. Bisa bikin satu rumah kebakar kalau nggak hati-hati,”
lanjutnya.
Ia menilai masyarakat perlu mendapatkan edukasi khusus mengenai penggunaan CNG secara aman apabila pemerintah serius menjalankan program tersebut.
Fabby juga menyinggung pengalaman konversi minyak tanah ke LPG pada 2008 hingga 2011 lalu. Pada masa awal program itu, kasus tabung gas meledak sempat sering terjadi akibat standar keamanan yang belum baik.
Menurutnya, kondisi serupa berpotensi kembali terjadi jika penggunaan CNG diterapkan tanpa persiapan matang dan pengawasan ketat.



