Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah meminta agar Bank Indonesia (BI), menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate 50 basis poin (bps) atau 75 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini. Upaya ini untuk menahan gejolak rupiah, yang kini menyentuh level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat.
Said mengatakan untuk merespons gejolak rupiah saat ini, Presiden Prabowo Subianto akan membacakan pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) di gedung DPR RI.
“Saya berharap BI hari ini, dalam RDG, bisa naik 50 atau 75 basis poin untuk tahan gejolak rupiah. Presiden akan berikan respons soal ini. Kami tunggu arahan presiden dan visi, bagaimana kelola fiskal 2027,”
ujar Said di DPR RI, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Kehadiran Prabowo hari ini juga sebagai respons atas keraguan pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Sebab, belakangan ini pasar meragukan kemampuan fiskal dan kesehatan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Presiden hadir langsung tentang kerangka ekonomi makro, tentu punya makna dalam untuk menjawab keraguan pasar terhadap likuiditas fiskal, stabilitas fiskal, kemampuan fiskal, kesehatan fiskal, dan kontinuitas fiskal dalam APBN 2026. Keraguan itu akan dijawab Presiden pada forum Paripurna kali ini,”
kata Said.
Kondisi yang terjadi pada perekonomian saat ini tidak terlepas dari kondisi geopolitik, salah satu imbasnya yaitu pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Presiden akan sampaikan apa yang dialami saat ini tidak terlepas dari geopolitik, situasi global yang sedemikian rupa. Bahkan (publik) jangan pernah berharap suku bunga Amerika akan turun,”
imbuh dia.



