Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menilai pengurangan jumlah delegasi dalam kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto tidak serta-merta dapat dijadikan ukuran efisiensi.
Pernyataan itu merespons penjelasan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang menyebut jumlah rombongan Presiden Prabowo saat melakukan kunjungan luar negeri telah berkurang lebih dari 50 persen dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya.
Menurut Ronny, penghematan anggaran memang dapat terjadi karena berkurangnya biaya transportasi, akomodasi, pengamanan, dan logistik. Namun, ukuran efisiensi tidak boleh berhenti pada jumlah orang yang ikut dalam lawatan.
Pengurangan jumlah delegasi biasanya berdampak langsung terhadap biaya transportasi, akomodasi, pengamanan, dan logistik. Namun efisiensi tidak boleh hanya diukur dari jumlah orang yang ikut,”
kata Ronny kepada Owrite.id, Rabu, 3 Juni 2026.
Kualitas Delegasi Lebih Penting dari Kuantitas
Ronny menjelaskan bahwa aspek yang lebih penting adalah efektivitas komposisi delegasi yang dibawa dalam setiap kunjungan luar negeri.
Yang lebih penting adalah apakah komposisi delegasi menjadi lebih efektif dan relevan dengan agenda kunjungan,”
ujarnya.
Menurut dia, keberhasilan diplomasi ekonomi modern sangat ditentukan oleh kualitas orang-orang yang terlibat dalam pertemuan bilateral maupun forum internasional.
Dalam diplomasi ekonomi modern, kualitas delegasi sering kali lebih penting daripada kuantitas delegasi. Artinya, efisiensi bukan hanya mengurangi jumlah kursi yang terisi dalam pesawat, tetapi memastikan setiap orang yang ikut memiliki kontribusi jelas terhadap tujuan kunjungan,”
jelasnya.

Manfaat Kunjungan Harus Jadi Tolok Ukur
Selain komposisi delegasi, Ronny menilai ukuran utama efisiensi kunjungan Presiden adalah manfaat yang berhasil diperoleh Indonesia.
Manfaat tersebut dapat berupa peningkatan investasi, perdagangan, kerja sama ekonomi, maupun pencapaian diplomasi strategis lainnya.
Sebelumnya, Seskab Teddy Indra Wijaya menyatakan jumlah rombongan Presiden Prabowo telah turun lebih dari separuh dibandingkan era sebelumnya yang disebut bisa mencapai lebih dari 120 orang.
Pernyataan itu disampaikan Teddy saat menjawab kritik terkait frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo selama satu setengah tahun pertama masa pemerintahannya.
Menurut Ronny, pada akhirnya keberhasilan sebuah lawatan kenegaraan tidak ditentukan oleh besaran biaya atau sedikit-banyaknya delegasi yang ikut, melainkan hasil konkret yang mampu dibawa pulang bagi kepentingan nasional.
Efisiensi sebuah kunjungan harus diukur dari manfaat yang dihasilkan, bukan semata-mata dari jumlah delegasi yang berangkat,”
pungkasnya.


