Lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertahankan status pasar modal Indonesia dalam kategori Emerging Market. Namun pada November mendatang, MSCI akan melakukan evaluasi terhadap perbaikan pasar modal RI.
Merespons hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai dengan tetap dipertahankannya status tersebut, mengartikan bahwa kondisi pasar saham RI aman. Dia pun tidak mengkhawatirkan evaluasi yang akan dilakukan oleh MSCI.
Kan masih dalam emerging market, jadi aman. Kalau dia mau evaluasi ya silakan aja itu kan internal mereka kan enggak ada masalah. Enggak usah khawatir,”
ujar Airlangga di Jakarta pada Kamis, 25 Juni 2026.
Meski demikian, Airlangga mengatakan bahwa Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Bank Indonesia akan mempercepat dan membuktikan pelaksanaan reformasi secara nyata sebelum tinjauan tersebut.
Percepatan dilakukan melalui penguatan pengawasan, peningkatan keterbukaan informasi kepemilikan saham, penyempurnaan tata kelola perusahaan tercatat, penguatan integritas perdagangan, serta penegakan hukum yang lebih efektif,”
katanya.
Jaga Komunikasi
Airlangga menuturkan, Pemerintah juga akan menjaga komunikasi yang aktif dengan MSCI dan komunitas investor global. Hal ini dilakukan agar kemajuan yang dicapai tercermin secara nyata dalam penilaian aksesibilitas dan investability pasar modal Indonesia.
Di samping itu, Pemerintah akan terus mendorong pendalaman pasar keuangan guna meningkatkan likuiditas, memperluas basis investor domestik, memperkuat kualitas pembentukan harga, serta meningkatkan efisiensi pasar.
Reformasi tersebut merupakan bagian dari agenda jangka panjang untuk menjadikan pasar modal Indonesia semakin transparan, kredibel, dan kompetitif di tingkat global,”
tuturnya.


Catatan MSCI
Adapun MSCI menyoroti investor institusional internasional yang kerap menyampaikan kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham dan mencurigai adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
Kedua kekhawatiran tersebut secara signifikan membatasi kemampuan investor untuk menilai free float yang sebenarnya dan mengandalkan harga pasar yang teramati dalam penyusunan portofolio serta replikasi indeks,”
tulis pengumuman MSCI.
Kedua catatan tersebut menurut MSCI, berhubungan langsung dengan pilar aliran informasi dan infrastruktur pasar dalam kerangka kerja aksesibilitas pasar MSCI.
Merespons catatan tersebut, Airlangga menilai akan menjadi masukan konstruktif untuk memperkuat kualitas tata kelola pasar modal Indonesia.
Pemerintah menghargai masukan MSCI sebagai bagian dari upaya bersama meningkatkan kualitas pasar modal. Fokus kami adalah memastikan setiap agenda reformasi tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi benar-benar diimplementasikan secara konsisten,”
imbuhnya.























