PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memperoleh persetujuan pemegang saham untuk membagikan dividen maksimal Rp300 miliar dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 23 Juni 2026.
Dividen akan dibayarkan dari sebagian saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya. Keputusan ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis Perseroan sekaligus komitmen untuk memberikan nilai tambah kepada pemegang saham di tengah penguatan kinerja operasional perusahaan.
Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk Albert Saputro mengatakan Perseroan memasuki 2026 dengan fondasi bisnis yang lebih kuat meskipun sepanjang 2025 menghadapi berbagai tantangan industri.
“Meskipun 2025 merupakan tahun yang penuh tantangan, MDKA memasuki 2026 dengan fondasi yang lebih kuat. Kami melihat peningkatan kinerja operasional, disiplin biaya yang lebih baik, serta kemajuan penting di berbagai platform pertumbuhan utama Perseroan,”
kata Albert, dikutip Kamis, 25 Juni 2026.
Keputusan pembagian dividen ini mencerminkan keyakinan korporasi terhadap prospek Perseroan dan komitmen kami untuk memberikan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
Kinerja operasional Perseroan pada awal 2026 juga menunjukkan tren positif, terutama pada segmen emas dan nikel yang menjadi pilar utama bisnis MDKA.
Anak juga Berkembang
Ranah bisnis emas, anak usaha PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencapai tonggak penting melalui Tambang Emas Pani dengan terlaksananya penuangan emas perdana pada Februari 2026 dan penjualan emas pertama pada Maret 2026.
Pada kuartal I-2026, EMAS juga membukukan produksi 1.818 ounce emas dan penjualan awal sebanyak 516 ounce. Capaian ini menjadi langkah awal menuju target produksi Tambang Emas Pani sepanjang tahun ini yang diproyeksikan berada pada kisaran 100.000 hingga 115.000 ounce emas.
Tak Tertinggal
Sementara itu, bisnis nikel melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat pertumbuhan produksi yang signifikan. Produksi bijih saprolit di tambang nikel Konawe meningkat 72 persen secara tahunan, sedangkan produksi limonit melonjak 195 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya pada kuartal I-2026.
Perseroan juga melaporkan perkembangan proyek hilirisasi yang terus berjalan. Fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) telah mencapai progres konstruksi 95 persen. Di sisi lain, pabrik Acid Iron Metal (AIM) mencatat output commissioning asam sulfat sebesar 120.911 ton pada kuartal pertama tahun ini.
Selain peningkatan produksi, MDKA membukukan perbaikan signifikan dari sisi efisiensi biaya. Di Tambang Emas Tujuh Bukit, cash cost turun 64 persen secara kuartalan menjadi US$685 per ounce. Perbaikan tersebut mendorong margin usaha meningkat 130 persen secara kuartalan menjadi US$4.156 per ounce, didukung oleh tingginya harga emas global.
Pada segmen nikel, margin nickel pig iron (NPI) meningkat 76 persen secara kuartalan menjadi US$3.982 per ton. Kenaikan margin tersebut mencerminkan keberhasilan Perseroan dalam menjalankan berbagai inisiatif efisiensi operasional dan optimalisasi biaya produksi.


























