Sejumlah ekonom memproyeksikan inflasi Juni 2026 naik. Salah satunya didorong oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) pada 10 Juni 2026 lalu.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksi inflasi Juni 2026 akan naik menjadi 3,41 persen secara tahunan atau year on year (yoy), dan secara bulanan (month to month/mtm) naik menjadi 0,50 persen.
Inflasi bulan Juni diperkirakan meningkat menjadi 3,41 persen yoy dari 3,08 persen yoy pada Mei. Sementara secara bulanan diperkirakan naik menjadi 0,50 persen mtm dari 0,28 persen mtm pada bulan sebelumnya,”
ujar Josua kepada Owrite Rabu, 1 Juli 2026.
Gegara Harga BBM Naik


Josua menjelaskan, kenaikan inflasi ini utamanya didorong oleh harga BBM nonsubsidi, tarif angkutan udara, tekanan pangan, dan pelemahan rupiah yang mulai merembes ke harga barang konsumsi.
Josua turut memperkirakan inflasi inti naik dari 2,59 persen secara yoy menjadi 2,72 persen yoy. Kenaikan ini dipengaruhi oleh harga pangan olahan, barang tahan lama, kebutuhan pendidikan, serta biaya input impor yang lebih mahal.
Yang perlu dicermati, tekanan inflasi Juni bukan hanya berasal dari permintaan, tetapi lebih banyak dari sisi biaya dan pasokan. Harga bawang merah, bawang putih impor, cabai merah, dan cabai rawit masih rentan akibat gangguan panen dan cuaca,”
terangnya.
Josua memproyeksikan, kenaikan harga Pertamax akan memberi tambahan sekitar 0,17–0,21 poin persentase terhadap inflasi bulanan. Sementara kenaikan avtur mendorong tarif angkutan udara.
Karena kebijakan penanggungan PPN tiket pesawat kelas ekonomi domestik baru efektif di pekan terakhir Juni, dampaknya terhadap penurunan inflasi bulanan kemungkinan terbatas,”
jelasnya.
Harga Pangan
Sementara itu Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan inflasi sebesar 3,45 persen secara yoy, dan 0,55 persen mtm.
Inflasi Juni didorong oleh harga Pertamax yang naik 33 persen, (kontribusi sekitar 0.37 persen dari inflasi) dan harga bahan pokok yang konsisten masih naik,”
kata David kepada Owrite.
Sedangkan inflasi inti, David memperkirakan pada Juni 2026 akan sebesar 2,38 persen yoy, dan secara bulanan -0,14 persen mtm.
Inflasi inti turun dari bulan lalu karena harga emas yang juga turun relatif kencang,”
terangnya.
Di samping itu, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro memproyeksikan inflasi Juni 2026 akan naik menjadi 0,51 persen, yang turut dipengaruhi kenaikan harga pangan dan harga Pertamax.
Andry memperkirakan, komponen harga yang diatur pemerintah akan mengalami kenaikan inflasi mencapai 1,83 persen mtm. Hal ini terutama didorong oleh lonjakan harga Pertamax, serta kenaikan harga tiket pesawat.


Lalu harga pangan yang bergerak fluktuatif diperkirakan mendorong kenaikan inflasi menjadi 0,52 persen mtm dari 0,22 persen pada Mei. Kenaikan harga terutama terjadi pada bawang merah, cabai merah, bawang putih, cabai rawit, daging sapi, dan beras.
Lalu inflasi inti diperkirakan akan melambat menjadi 0,12 persen mtm, dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,22 persen. Melambatnya inflasi inti karena koreksi harga emas.
Koreksi harga emas -5,2 persen mtm meredam komponen inti, sementara pelemahan rupiah yang berlanjut 1,85 persen mtm dan kenaikan harga minyak goreng 0,9 persen mtm tetap memberikan tekanan ke atas,”
tutur Andry dalam keterangannya.
























