Harga minyak melanjutkan kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut pada Selasa, menyusul lonjakan lebih dari 5 persen pada Senin. Kenaikan terjadi karena memudarnya harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.
Dilansir dari Economic Times, pada Selasa, 11 Agustus 2026, harga minyak mentah Brent ada di level US$88 per barel atau naik tipis 0,35 persen. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$83,50 per barel atau naik 0,40 persen.
Adapun kedua patokan harga minyak mentah tersebut telah melonjak lebih dari 5 persen pada Senin kemarin, dan mencapai level tertinggi sejak 31 Juli.
Respons Trump


Kenaikan harga ini terjadi setelah Presiden Donald Trump merespons persyaratan Iran untuk mencapai kesepakatan damai dengan menuntut kompensasi dari Teheran atas korban jiwa dalam perang, serangan, dan protes. Tuntutan tersebut diperkirakan akan mempersulit upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Trump kemudian menyatakan bahwa AS mengendalikan Selat Hormuz dan telah membersihkan jalur pelayaran minyak strategis itu dari ranjau yang dipasang Iran.
Kekhawatiran terhadap pasokan juga meningkat akibat perkembangan di Arab Saudi. Saudi Aramco telah menunda dimulainya kembali pembukaan kilang Jazan berkapasitas 400.000 barel per hari hingga 30 Agustus, setelah kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas dua serangan terhadap fasilitas tersebut pada Minggu.
Perusahaan minyak Uni Emirat Arab (UEA) ADNOC, mengatakan pada Jumat bahwa 15 kapalnya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak konflik dimulai.
Risiko di sekitar Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb masih signifikan. Bahkan pembatasan sementara atau ancaman serangan lebih lanjut membuat biaya asuransi tetap tinggi dan memaksa kapal-kapal mengambil rute yang lebih panjang, yang kemungkinan akan membuat aliran energi tetap terkendala dalam waktu dekat.
Harga Minyak Berpotensi Naik


Durasi gangguan pasokan akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga minyak. JPMorgan memperkirakan setiap tambahan satu bulan gangguan pasokan dapat menambah sekitar US$7-US$8 per barel terhadap harga Brent.
Apabila gangguan berlangsung selama tiga bulan, bank tersebut memperkirakan harga rata-rata Brent bulanan dapat mencapai sekitar US$114 per barel.
Goldman Sachs juga telah memperingatkan bahwa harga Brent dapat naik hingga US$120 per barel jika gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz terus berlanjut.
Namun, skenario dasar Goldman adalah bahwa ketegangan di Timur Tengah pada akhirnya akan mereda. Dalam skenario tersebut, bank tersebut memperkirakan harga rata-rata minyak Brent akan mencapai US$80 per barel pada kuartal IV dan US$75 per barel tahun depan.
Bank tersebut juga menyatakan bahwa risiko masih condong ke arah kenaikan, karena kemungkinan terjadinya gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dan Laut Merah.
Arah proyeksi kami tetap sama, yang berubah hanyalah jalur dan jadwalnya. Kami masih memperkirakan harga minyak akan melemah menjelang tahun 2027,”
tuturnya.
























