Program Motor Listrik Nasional (Molinas) dinilai dapat menjadi momentum penting bagi perkembangan industri otomotif Indonesia.
Kehadiran program ini tidak hanya berkaitan dengan peralihan kendaraan dari mesin berbahan bakar bensin menuju teknologi listrik, tetapi juga membuka peluang untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kendaraan listrik.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai pengembangan Molinas harus dilakukan dengan strategi pasar yang lebih luas.
Menurutnya, motor listrik nasional tidak semestinya hanya menyasar konsumen di kota-kota besar. Wilayah luar Jawa, pedesaan, daerah perbatasan hingga kawasan tertinggal justru memiliki peluang yang cukup besar.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan motor listrik nasional beserta ekosistem pendukungnya.
Prabowo juga menyampaikan mengenai program motor listrik tersebut dalam pidatonya pada Rapat Paripurna APBD, Jumat, 14 Agustus 2026.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemandirian teknologi dan ketahanan energi sekaligus menghadirkan pilihan kendaraan yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Pasar Luar Jawa
Djoko mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan kota-kota besar di Pulau Jawa sebagai satu-satunya sasaran pengembangan Molinas.
Menurutnya, strategi pemasaran motor listrik perlu diperluas hingga wilayah luar Jawa, kawasan perbatasan, pedesaan, pulau-pulau kecil, serta daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Pasar nonperkotaan, wilayah luar Jawa, daerah perbatasan, pedesaan, pulau-pulau kecil serta daerah 3T dapat menjadi blue ocean strategy bagi motor listrik nasional,”
tutur Djoko.
Strategi tersebut dinilai dapat membuka pasar baru yang selama ini belum banyak menjadi sasaran utama industri kendaraan listrik.
Sejumlah wilayah penghasil mineral juga dinilai memiliki prospek sebagai pasar motor listrik nasional.
Beberapa di antaranya adalah Morowali, Morowali Utara, Banggai, Kolaka, Konawe, Bombana, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Pulau Obi, Luwu Timur, Papua Barat Daya, Siak, Kepulauan Meranti, Natuna, Anambas, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Papua, Sumatera Selatan hingga Aceh.
Pengembangan motor listrik di wilayah tersebut dinilai dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung.
Salah satunya melalui pengurangan biaya bahan bakar untuk aktivitas masyarakat maupun kebutuhan operasional daerah.
Dengan karakteristik wilayah yang beragam, motor listrik juga dapat dikembangkan sesuai kebutuhan mobilitas lokal.
Gunakan Kendaraan Listrik
Djoko memberikan contoh Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, yang telah lebih dahulu menggunakan kendaraan bermotor listrik.
Kondisi geografis Agats dan tantangan distribusi BBM membuat kendaraan listrik menjadi salah satu pilihan yang relevan untuk menunjang mobilitas masyarakat.
Sejak 2007, hampir 20 tahun lalu, mereka mau beralih menggunakan kendaraan bermotor listrik,”
ujarnya.
Pengalaman Agats menunjukkan bahwa kendaraan listrik bukan hanya cocok untuk masyarakat perkotaan. Teknologi tersebut juga dapat memberikan manfaat di daerah dengan kondisi geografis dan tantangan distribusi energi tertentu.
Pasar Jadi Produsen
Djoko menilai program Motor Listrik Nasional memiliki arti strategis bagi masa depan industri otomotif Indonesia. Jika dikembangkan secara konsisten, Molinas dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan peran dari sekadar konsumen menjadi produsen kendaraan listrik.
Program Motor Listrik Nasional berpotensi menjadi titik balik bagi industri otomotif Indonesia. Program ini tidak hanya berpeluang mengubah posisi Indonesia dari sekadar pasar konsumen menjadi produsen,”
katanya.
Perubahan tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap industri dalam negeri, mulai dari pengembangan teknologi, manufaktur, hingga penciptaan ekosistem kendaraan listrik.
Selain mendorong Indonesia menjadi produsen, Molinas juga berpeluang meningkatkan persaingan di pasar kendaraan roda dua.
Semakin kuat industri motor listrik dalam negeri, semakin besar pula kesempatan Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap produk kendaraan listrik impor.
Hal tersebut menjadi semakin relevan seiring perkembangan elektrifikasi kendaraan yang terus meningkat. Dengan strategi pasar yang tepat dan pengembangan industri nasional yang konsisten, Molinas dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat daya saing otomotif Indonesia.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari berapa banyak motor listrik yang terjual, tetapi juga sejauh mana Indonesia mampu membangun industri kendaraan listrik yang mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah.






















