Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memporak-porandakan rumah warga hingga infrastruktur lainnya.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum mengetahui berapa besaran anggaran yang akan digunakan untuk pemulihan pasca bencana di NTT. Sebab, sampai saat ini belum menerima permintaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Saya belum tahu, BNPB belum ngasih angka ke kita. Tapi dana mereka cukup sekarang bisa dipakai dulu untuk penanggulangan bencana,”
ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.
Purbaya mengatakan, pemerintah menyiapkan anggaran Rp5 triliun untuk BNPB. Anggaran itu disiapkan untuk mengantisipasi kebutuhan penanganan bencana.
BNPB itu biasanya kita siapin Rp5 triliun untuk jaga-jaga bencana, itu per tahun. Nanti kalau kurang ditambah lagi karena ini kan bencana beda hitungannya, bukan untuk pembangunan ini adalah untuk mengurangi penderitaan masyarakat kita yang kena bencana,”
jelasnya.
PUPR Identifikasi Kerusakan


Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat identifikasi kerusakan infrastruktur sumber daya air serta dukungan terhadap kebutuhan dasar masyarakat terdampak gempa NTT.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan penanganan pasca bencana dilakukan secara cepat dengan memprioritaskan keselamatan masyarakat serta memastikan infrastruktur yang terdampak dapat segera ditangani.
Kami terus melakukan identifikasi dan penanganan terhadap infrastruktur yang terdampak gempa. Yang utama adalah memastikan keselamatan masyarakat, memenuhi kebutuhan dasar di lokasi terdampak, serta segera menyiapkan langkah penanganan agar fungsi infrastruktur dapat kembali berjalan,”
kata Dody.
Kerusakan Infrastruktur


Hingga 20 Agustus 2026, kerusakan pada sejumlah jaringan irigasi di wilayah NTT telah teridentifikasi di antaranya pada Daerah Irigasi (DI) Mbay Kanan Lanjutan yang mengalami kerusakan pada struktur beton bertulang bangunan bagi, saluran, talang, badan jalan inspeksi, serta rumah jaga.
Pada DI Mbay Kiri Lanjutan, teridentifikasi juga kerusakan saluran tersier sepanjang 250 meter serta patahan di tiga titik dengan luas lahan terdampak sekitar 175 hektare.
Sementara pada Sub DI Wae Cecu di DI Wae Mantar ditemukan kerusakan saluran primer sepanjang 100 meter akibat longsor. Kerusakan akibat longsoran tebing juga ditemukan pada saluran primer sepanjang 650 meter di Sub DI Wae Mau/Satarmese di DI Wae Mantar.























