Kabar membanggakan datang dari Banyuwangi. Sebanyak 12 lagu dan musik tradisi khas daerah tersebut kini resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh Kementerian Hukum RI. Pencatatan ini sekaligus menjadi bentuk perlindungan hukum terhadap warisan budaya lokal Banyuwangi agar tidak mudah diklaim pihak lain.
Sertifikat pencatatan itu diserahkan dalam acara Campus Call Out (CCO) yang digelar di Institut Teknologi Bandung pada 12 Mei 2026. Dalam pencatatan tersebut, 12 gending tradisional Banyuwangi masuk kategori Ekspresi Budaya Tradisional (EBT).
Berikut daftar gending Banyuwangi yang kini resmi menjadi bagian dari Kekayaan Intelektual Komunal:
1. Gending Keok-Keok
Gending ini dikenal memiliki irama yang lincah dan dinamis. Nama Keok-Keok diambil dari bunyi-bunyian khas yang menyerupai suara hewan atau permainan rakyat. Biasanya dimainkan dalam suasana hiburan rakyat dan pertunjukan tradisional.
2. Gending Kembang Waru
Kembang Waru identik dengan nuansa lembut dan puitis. Kembang Waru juga termasuk ke salah satu gending klasik dalam musik tradisional Blambangan/Banyuwangi. Gending ini sering dimaknai sebagai simbol keindahan alam dan kehidupan masyarakat Banyuwangi yang dekat dengan budaya agraris.
3. Gending Gurit Mangir
Gending ini memiliki unsur cerita atau guritan yang kuat. Biasanya dibawakan untuk mengiringi kisah-kisah tradisional dan sarat pesan moral tentang kehidupan serta perjuangan masyarakat.
4.Gending Erang-Erang
Nuansa musiknya cenderung sendu dan emosional. Erang-Erang dalam bahasa lokal menggambarkan rasa sedih atau kerinduan, sehingga gending ini sering dipakai dalam pertunjukan bernuansa haru.
5. Gending Embat-Embat
Gending ini punya tempo yang lebih santai dan mengalun. Umumnya digunakan sebagai pengiring tarian atau pertunjukan budaya yang menampilkan kelembutan gerak.
6. Gending Podho Nonton
Secara harfiah Podho Nonton berarti “sama-sama menonton”. Ini adalah gending paling sakral dan wajib dalam kesenian Gandrung Banyuwangi, makna filosofinya tentang perjuangan dan kebersamaan. Gending ini identik dengan suasana meriah dan kebersamaan masyarakat ketika berkumpul dalam hajatan atau pertunjukan rakyat.
7. Gending Sekar Jenang
Nama “Sekar” berarti bunga atau lagu, sedangkan “Jenang” merujuk pada makanan tradisional. Gending ini menggambarkan keseharian masyarakat Banyuwangi yang lekat dengan tradisi dan simbol kesederhanaan.
8. Gending Gurit Jawa
Gending ini dipengaruhi unsur sastra Jawa dan berisi syair-syair bernilai filosofi. Biasanya digunakan untuk menyampaikan petuah atau nasihat kehidupan.
9. Gending Santri Moleh
“Santri Moleh” berarti santri pulang. Gending ini menggambarkan suasana religius dan kedekatan masyarakat Banyuwangi dengan tradisi pesantren serta nilai spiritual.
10. Gending Thetel-Thetel
Irama gending ini cenderung ringan dan cepat. Nama “Thetel-Thetel” menggambarkan potongan-potongan kecil, sehingga musiknya terdengar riang dan enerjik.
11. Gending Kusir-Kusir
Terinspirasi dari kehidupan kusir atau pengemudi kereta tradisional. Irama musiknya menggambarkan perjalanan, kerja keras, dan kehidupan masyarakat tempo dulu. Lagu ini cukup populer dan sering dinyanyikan dalam kesenian rakyat.
12. Gending Layar Kemendhung
Gending ini memiliki nuansa dramatis dan mendalam. “Layar Kemendhung” menggambarkan langit mendung atau suasana yang penuh harapan sekaligus kegelisahan, sering dipakai dalam pertunjukan bernuansa reflektif. Ini merupakan gending klasik Banyuwangi yang sangat populer dan sering dibawakan dalam versi angklung caruk atau pementasan Gandrung.
Dengan pencatatan ini, masyarakat adat dan pelaku budaya Banyuwangi kini memiliki perlindungan hukum atas karya tradisional mereka, mulai dari hak moral, hak ekonomi, hingga perlindungan dari klaim sepihak pihak luar.


