Pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda sebagian besar pulau Sumatera pada 22 Mei 2026 langsung memicu gelombang spekulasi di media sosial.
Warga dari Lampung sampai aceh mendadak gelap-gelapan selama berjam-jam setelah sistem interkoneksi listrik Sumatera mengalami gangguan.
Walaupun PLN menjelaskan bahwa, blackout terjadi akibat gangguan transmisi 275 kV di wilayah Jambi yang dipicu cuaca ekstrem dan petir.
Lalu efeknya merambat ke berbagai daerah hingga menyebabkan cascading failure atau gangguan berantai pada sistem kelistrikan Sumatera.
Namun seperti biasa, penjelasan teknis tidak langsung membuat publik puas. Di X/Twitter, TikTok, hingga Instagram, muncul berbagai teori konspirasi yang mengaitkan blackout dengan narkoba, sabotase, sampai “mafia genset”.
Berikut lima teori konspirasi yang paling ramai dibicarakan netizen.
1. Sengaja untuk Memuluskan Penyelundupan Narkoba
Salah satu teori yang paling viral hingga banyak diparodikan warganet adalah dugaan untuk memuluskan penyelundupan narkoba.
Banyak netizen menduga pemadaman dilakukan untuk melemahkan pengawasan di pelabuhan, bandara, dan jalur laut Sumatera.
Narasi yang beredar menyebut blackout membuat CCTV, radar pengawasan, dan sistem keamanan terganggu sehingga mempermudah penyelundupan narkoba garam china, terutama dari jalur internasional.
Spekulasi ini makin liar karena Sumatera memang dikenal sebagai salah satu jalur masuk narkoba terbesar di Indonesia, terutama melalui Aceh, Riau, dan Sumatera Utara yang dekat dengan jalur perdagangan internasional yaitu Selat Malaka.
Meski begitu, sampai sekarang belum ada bukti resmi yang mendukung tuduhan tersebut.
2. Ramalan Dharma Pongrekun
Nama Dharma Pongrekun kembali naik usai potongan video lamanya soal peringatan blackout yang akan terjadi di wilayah Indonesia.
Dharma merupakan mantan perwira tinggi Polri yang pernah menjabat Deputi Bidang Koordinasi dan Supervisi di Komisi Pemberantasan Korupsi, dan dikenal karena sering membahas isu ketahanan nasional, teknologi, hingga teori ancaman global.
Dalam beberapa potongan video dan podcast yang pernah viral sebelumnya, Dharma pernah mengingatkan masyarakat agar siap menghadapi kemungkinan krisis besar seperti blackout, gangguan pangan, hingga lumpuhnya sistem digital.
Ia bahkan menyarankan masyarakat memiliki persediaan kebutuhan pokok dan kemampuan bertahan hidup mandiri selama beberapa hari.
Karena itulah, setelah adanya blackout yang terjadi Sumatera, banyak netizen merasa pernyataannya seperti “ramalan yang terbukti”.
Potongan video lama Dharma kemudian kembali beredar dengan narasi bahwa ia sudah mengetahui potensi blackout sejak jauh hari.
Padahal, pembahasan soal ancaman blackout sebenarnya bukan hal baru karena banyak negara memang menghadapi risiko gangguan infrastruktur energi.
3. Muncul Tuduhan “Mafia Genset”
Di tengah kepanikan warga mencari alternatif pembangkit listrik, teori lain adalah penjual genset portable untung besar.
Netizen ramai bercanda bahwa pemadaman besar otomatis membuat penjualan genset, aki, inverter, hingga lilin melonjak drastis. Dari situ lahirlah meme soal “mafia genset” yang disebut-sebut ikut menikmati situasi.
Meski lebih banyak bernada satir dan humor, teori ini ramai karena masyarakat memang melihat harga genset dan perlengkapan darurat sempat naik selama pemadaman berlangsung.
4. Dugaan Sabotase dan Serangan Siber
Ada juga netizen yang mengaitkan blackout dengan sabotase terhadap infrastruktur nasional. Ada yang menduga sistem SCADA atau jaringan pengendali listrik disusupi serangan siber.
Teori ini muncul karena pemadaman terjadi hampir serentak di banyak wilayah sehingga dianggap terlalu besar jika hanya disebabkan satu gangguan teknis.
Narasi soal “serangan hibrida” juga ikut berkembang karena infrastruktur listrik dianggap sebagai objek vital negara yang rentan diserang saat situasi geopolitik global memanas.
Namun pihak kepolisian dan tim investigasi sejauh ini menyatakan tidak menemukan unsur sabotase ataupun campur tangan manusia.
5. Konspirasi Batubara dan Mafia Energi
Teori terakhir menyoroti ironi Sumatra sebagai salah satu penghasil batubara terbesar di Indonesia, tetapi justru mengalami blackout masal.
Sebagian netizen mempertanyakan bagaimana pulau kaya sumber energi bisa lumpuh hanya karena satu gangguan transmisi. Dari situ muncul tuduhan soal buruknya tata kelola energi, permainan mafia listrik, hingga dugaan korupsi infrastruktur.
Ada pula yang menghubungkan blackout dengan pidato pemerintah mengenai kerugian negara dan mafia sumber daya alam.
Walau terdengar dramatis, sebagian pengamat menilai teori ini lebih mencerminkan rendahnya kepercayaan publik terhadap pengelolaan energi nasional dibanding bukti adanya konspirasi nyata.
Sampai saat ini, penjelasan resmi tetap menyebut blackout Sumatra dipicu gangguan teknis akibat cuaca ekstrem. Investigasi forensik juga disebut tidak menemukan indikasi sabotase.


