Nama Cathlyn Yvaine Lesmana mendadak viral di media sosial, setelah mencuatnya dugaan kecurangan dalam proses seleksi Paskibraka Sulawesi Selatan 2026. Siswi asal Makassar itu disebut gagal lolos ke tingkat nasional, meski dikabarkan skor seleksinya tinggi dan sempat masuk tiga besar calon delegasi Sulsel ke Istana Negara.
Polemik ini mencuat setelah akun Instagram @orangdalamupdate mengunggah video berisi tudingan adanya praktik tidak transparan dalam penentuan akhir peserta Paskibraka Sulsel.
Dalam video tersebut disebutkan bahwa proses penentuan akhir yang seharusnya dilakukan secara terbuka menggunakan aplikasi justru berlangsung tertutup. Seluruh pendamping resmi peserta bahkan diminta keluar dari ruangan saat penilaian akhir berlangsung.
Tak hanya itu, panitia juga diduga memberikan tes tambahan berupa tes bahasa daerah yang disebut tidak tercantum dalam panduan resmi pusat.
“Seleksi Paskibraka Sulsel penuh kecurangan, peserta unggulan dianulir sepihak,” demikian narasi dalam video yang viral di media sosial.
Cathlyn Disebut Dianulir Sepihak
Sebelumnya Cathlyn telah lolos masuk tiga besar calon delegasi nasional. Namun secara tiba-tiba namanya tidak muncul dalam daftar akhir peserta yang diberangkatkan ke Jakarta.
Publik kemudian dibuat heboh karena posisinya disebut digantikan oleh peserta lain bernama Keisha Ratu Utami yang dikabarkan tidak pernah masuk dalam jajaran 10 besar seleksi.
Narasi yang beredar menyebutkan bahwa Cathlyn diduga tersingkir karena dianggap kurang fasih berbahasa daerah. Hal inilah yang kemudian memicu perdebatan publik lantaran tes bahasa daerah dinilai tidak tercantum dalam indikator resmi penilaian Paskibraka tingkat pusat.
Apalagi Cathlyn disebut sebagai satu-satunya peserta beretnis Tionghoa dalam kandidat unggulan tersebut. Kondisi itu membuat isu dugaan diskriminasi rasial ikut ramai diperbincangkan di media sosial.
Cathlyn dikenal sebagai siswi berprestasi asal Makassar yang aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun pengembangan diri.
Ia disebut sebagai salah satu kandidat kuat delegasi Sulsel ke tingkat nasional karena memiliki hasil seleksi yang sangat tinggi.
Nilai yang beredar di media sosial menunjukkan, Cathlyn memperoleh nilai 100 untuk Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dan 95 untuk Tes Inteligensi Umum (TIU).
Karena itu, banyak warganet mempertanyakan alasan dirinya tidak lolos ke tahap nasional.
Kesbangpol Sulsel Bantah Ada Kecurangan
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Selatan, Bustanul Arifin, membantah adanya praktik kecurangan maupun diskriminasi dalam proses seleksi Paskibraka.
Menurutnya, seluruh tahapan seleksi telah berjalan objektif dan sesuai aturan yang berlaku.
Ia juga menjelaskan bahwa seleksi dilakukan berdasarkan sejumlah aspek penilaian seperti TWK, TIU, kesamaptaan, peraturan baris-berbaris (PBB), keterampilan, hingga kepribadian peserta.
Penilaian tesebut dilakukan langsung oleh tim seleksi pusat yang terdiri dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), DPPI Pusat, TNI, Polri, hingga Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres).
Publik Desak Transparansi
Meski pihak Kesbangpol Sulsel telah memberikan klarifikasi, polemik seleksi Paskibraka ini masih terus menjadi perbincangan luas di media sosial.
Banyak pihak mendesak adanya transparansi penuh terkait mekanisme penilaian dan proses penentuan peserta yang lolos ke tingkat nasional.
Publik juga mempertanyakan beberapa hal, mulai dari alasan peserta dengan nilai tinggi bisa gagal, keberadaan tes bahasa daerah dalam panduan resmi pusat, hingga mekanisme pergantian peserta pada tahap akhir seleksi.
Tak sedikit warganet yang meminta audit independen agar proses seleksi Paskibraka berjalan lebih terbuka, adil, dan akuntabel.


