Belakangan ini banyak orang bertanya-tanya. Di tengah kabar pelemahan ekonomi, nilai tukar rupiah yang tertekan, hingga daya beli masyarakat yang disebut menurun, mengapa pusat perbelanjaan, kafe, hingga kawasan kuliner seperti Blok M masih terlihat ramai?
Fenomena tersebut ternyata memiliki penjelasan tersendiri, dalam ilmu ekonomi dan psikologi konsumen fenomena ini dikenal sebagai Lipstick Effect.
Apa Itu Lipstick Effect?
Lipstick effect merupakan teori yang menggambarkan masyarakat yang tetap melakukan konsumsi saat kondisi ekonomi tengah memburuk.
Tetapi mereka mengalihkan pengeluaran dari barang-barang mahal ke produk atau pengalaman yang lebih terjangkau.
Dilansir dari Mailchimp dalam artikel Psychology of Spending: The Lipstick Effect Decoded, konsumen yang menghadapi tekanan ekonomi umumnya akan menunda pembelian besar seperti rumah, mobil, atau liburan mahal.
Namun, mereka tetap membeli barang atau pengalaman yang mampu memberikan rasa nyaman dan kebahagiaan dengan biaya yang relatif kecil.
Fenomena ini pertama kali populer setelah Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi pada 1930, dan umumnya tingkat konsumsi masyarakat ikut menurun. Namun, saat itu tingkat penjualan kosmetik malah meningkat 30 persen.
Para pengamat menyimpulkan bahwa, saat kondisi ekonomi tidak menentu, masyarakat tetap ingin memanjakan diri, dengan memilih produk yang lebih terjangkau dibandingkan barang mewah yang mahal.
Seiring perkembangan zaman, makna lipstick effect tidak lagi terbatas pada kosmetik. Kini fenomena tersebut juga dapat terlihat pada meningkatnya konsumsi kopi, makanan favorit, produk perawatan diri, hiburan, hingga perjalanan.
Faktor Lipstick Effect
Menurut Mailchimp, faktor emosional menjadi salah satu pendorong utama lipstick effect. Ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, masyarakat cenderung mengalami stres dan kecemasan yang lebih tinggi.
Untuk mengatasinya, banyak orang melakukan self-reward melalui pengeluaran kecil yang dianggap masih aman bagi kondisi keuangan mereka. Secangkir kopi, makan di restoran favorit, menonton film, atau membeli produk perawatan diri menjadi cara sederhana untuk meredam stres dan meningkatkan mood.
Dengan kata lain, konsumsi tidak berhenti saat ekonomi melemah. Masyarakat hanya menjadi lebih selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran.
Mengapa Blok M dan Coffee Shop Masih Ramai?
Fenomena ramainya pusat kuliner, mal, dan coffee shop bisa menjadi salah satu gambaran lipstick effect yang terjadi saat ini.
Namun perlu di ingat bahwa, keramaian tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa kondisi ekonomi seluruh masyarakat sedang baik-baik saja. Bisa jadi masyarakat hanya mengubah pola konsumsi mereka.
Jika sebelumnya seseorang berencana membeli rumah, kendaraan, atau melakukan investasi besar, kini sebagian dana tersebut dialihkan untuk aktivitas yang lebih terjangkau dan memberikan kepuasan jangka pendek.
Karena itu, mal yang penuh pengunjung belum tentu mencerminkan peningkatan daya beli di seluruh sektor ekonomi.
Bukan Soal Boros, Tapi Perubahan Pola Konsumsi
Akun Instagram edukasi ekonomi @omahsebumi menilai lipstick effect sering disalahpahami sebagai perilaku boros saat krisis.
Padahal, fenomena tersebut lebih menggambarkan perubahan pola konsumsi masyarakat ketika daya beli sedang tertekan.
Saat ekonomi melemah, masyarakat cenderung menunda pembelian besar seperti rumah atau mobil karena harganya semakin sulit dijangkau dan umumnya membutuhkan pembiayaan kredit dengan risiko cicilan jangka panjang.
Namun konsumsi tidak berhenti. Pengeluaran hanya bergeser ke hal-hal yang lebih realistis, lebih terjangkau, dan tetap mampu memberikan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut akun tersebut, secangkir kopi, makanan favorit, liburan singkat, atau pengalaman sederhana lainnya menjadi pilihan yang lebih masuk akal dibanding mengambil komitmen finansial besar di tengah ketidakpastian ekonomi.
Jika dilihat saat ini, lipstick effect juga dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Karena sekarang yang terpenting bukan sekadar berapa banyak uang yang dibelanjakan, melainkan ke mana uang tersebut mengalir.
Ketika masyarakat membelanjakan uangnya di warkop, warteg, UMKM, petani, atau pemasok dalam negeri, konsumsi tersebut ikut membantu menjaga perputaran ekonomi.
Hal ini menjadi penting mengingat konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia, sementara jutaan UMKM berperan sebagai tulang punggung aktivitas ekonomi nasional.
Jadi, lipstick effect menunjukkan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya berhenti berbelanja saat ekonomi sedang sulit.
Mereka hanya mengubah prioritas pengeluarannya. Dan ketika uang tersebut dibelanjakan pada usaha-usaha lokal, setiap rupiah yang berputar dapat menjadi bagian dari upaya menjaga roda ekonomi tetap bergerak di tengah ketidakpastian.


