Seorang kreator konten TikTok dengan nama pengguna @violettaaxandrea atau yang dikenal sebagai Xander menjadi sorotan publik setelah sejumlah videonya dianggap merendahkan penyandang disabilitas.
Konten tersebut memicu kecaman luas dari warganet karena dinilai mengandung unsur ableisme dan tidak pantas dijadikan bahan candaan.
Dalam beberapa video yang beredar di media sosial, Xander terlihat menirukan ekspresi dan gerakan yang menyerupai kondisi penyandang disabilitas sambil mempromosikan produk kecantikan.
Salah satu video memperlihatkan dirinya tertawa sembari mencoba produk lip tint setelah menampilkan ekspresi yang dianggap menyinggung kelompok disabilitas.
Tak hanya itu, Xander juga menuai kritik setelah mengunggah video yang menirukan gerakan penderita tic disorder, yaitu gangguan saraf yang ditandai dengan gerakan atau suara berulang yang terjadi di luar kendali penderitanya.
Bentuk Ableisme
Tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk ableisme. Melansir dari Forum Disabilitas dan Filantropi, Ableisme adalah serangkaian stereotip dan praktik yang merendahkan dan mendiskriminasi orang dengan disabilitas.
Ableisme berasumsi bahwa tubuh dan pikiran orang tanpa disabilitas adalah “standar,” dan memberikan nilai pada mereka berdasarkan persepsi masyarakat tentang apa yang dianggap “normal.”
Perilaku ableisme dapat memberikan dampak psikologis yang serius bagi penyandang disabilitas. Mereka berisiko merasa tidak dihargai, mengalami stigma sosial, hingga menghadapi masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi akibat perlakuan diskriminatif yang diterima.
Kecaman juga datang dari kreator konten Sadam Permana yang diketahui merupakan penyandang tic disorder.
Melalui unggahan di akun TikTok pribadinya, Sadam menyebut konten yang dibuat Xander tidak lucu dan sangat menyinggung.
Ini nggak lucu sama sekali dan bukan bahan candaan. Sebagai pemilik tic disorder, jujur ini sangat menyinggung aku pribadi. Ketika aku mengalami tic, tubuh aku bisa mengeluarkan gerakan beberapa kali. Video yang dia buat juga bisa menyinggung teman-teman yang punya sindrom atau kebutuhan khusus lainnya,”
ujar Sadam.
Selain mengkritik sang kreator, sejumlah warganet turut mempertanyakan keputusan beberapa brand yang bekerja sama dengan Xander.
Mereka menilai perusahaan seharusnya lebih selektif dalam memilih influencer yang menjadi representasi produk mereka.
“Plenger xander demi fyp ihh, kata gua boycott brand yang kerjasama sama dia.”
Tulis salah satu pengguna threads @shareitt22.
Mengunggah Video klarifikasi
Di tengah derasnya kritik, Xander akhirnya mengunggah video klarifikasi sekaligus permintaan maaf melalui akun TikTok pribadinya.
Ia mengaku menyesal atas konten yang telah dibuat dan menyadari bahwa tindakannya telah menyinggung penyandang disabilitas serta anak berkebutuhan khusus.
Aku minta maaf atas sikap aku yang tidak biasa dalam pembuatan konten, sehingga banyak menyinggung penyandang disabilitas dan anak berkebutuhan khusus. Aku memohon maaf dan aku sangat menyesal atas apa yang aku lakukan,”
ujar Xander.
Ia juga berjanji kedepannya tidak akan mengulangi perbuatan serupa. Menurutnya, sebagian besar video yang menuai kontroversi telah dihapus dari akun TikTok miliknya.
Namun, beberapa konten masih tetap tayang karena terikat kontrak kerja sama dengan brand tertentu.
Mohon maaf kalau beberapa video yang masih ada dikarenakan kontrak kerja sama dengan brand yang tidak bisa aku hapus sepihak,”
jelasnya.
Menutup pernyataannya, Xander menyebut peristiwa ini sebagai pelajaran berharga dan berkomitmen untuk memperbaiki diri ke depannya.
Mohon maaf sekali lagi atas semua yang aku lakukan. Izin aku berbenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih,”
tutupnya.

