Psikolog Meity Arianty mengaku marah, miris, dan sedih melihat kasus penganiayaan yang dialami Yuvita Tri Rezeki (29) yang dilakukan oleh kekasihnya Taufik Hidayat (30).
Menurutnya, kasus ini merupakan bentuk kekerasan dalam hubungan yang kategorinya super dan sangat berat. Apalagi berlangsung dalam waktu lama, sehingga pasti menimbulkan dampak trauma kompleks pada korbannya.
Kebayang, korban pasti mengalami ketakutan yang ekstrem, udah enggak ada rasa aman, ketergantungan psikologis terhadap pelaku, karena enggak ada lagi yang dapat ia harapkaan, pasti setiap waktu hanya berharap belas kasihan pelaku,”
ujar Meity kepada Owrite.
Meity menambahkan dalam kondisi itu, korban merasa tidak berdaya, kesulitan untuk mencari pertolongan meskipun mengalami penyiksaan yang berat, terbukti dari sekujur tubuh luka artinya bisa jadi korban sudah sangat berusaha melarikan diri atau mencari pertolongan.
Kekerasan yang terjadi secara berulang dan terus menerus akan merusak kondisi fisik, emosi, cara berpikir, dan kepercayaan diri korban hingga membuatnya merasa tidak memiliki pilihan untuk keluar dari situasi tersebut.
Sehingga, kasus ini harus dipandang bukan sekadar sebagai tindakan kriminal biasa, tetapi sebagai krisis kesehatan mental bagi korban yang membutuhkan penanganan medis, psikologis, dan perlindungan sosial secara menyeluruh agar ia dapat pulih secara fisik maupun psikologis..,”
paparnya.
Sementara, pelaku enggak bisa hanya sekedar di hukum penjara namun lebih dari itu, enggak layak hidup dengan kondisi kejiwaan yang akan membahayakan orang lain, apalagi saya baca di media sosial korbannya bukan hanya satu tapi banyak. Mau berharap apa dari pelaku yang perilakunya lebih sadis dari binatang,”
tuturnya.
Dampak Psikologis
Meity menjelaskan seseorang yang mengapami kekerasan berat dalam jangka waktu lama berisiko mengalami dampak psikologis yang mendalam dan berkepanjangan.
Biasanya akan mengalami trauma kompleks (PTSD) yang ditandai dengan ketakutan berlebihan, mimpi buruk, kilas balik kejadian traumatis, kecemasan yang sangat tinggi, merasa harus selalu waspada karena merasa tidak aman, korban juga dapat mengalami depresi, kehilangan harga diri, rasa malu, perasaan tidak berharga, kesulitan mempercayai orang lain, dan pastinya menarik diri dari lingkungan sosial.
Pada beberapa kasus, korban juga dapat mengalami gangguan konsentrasi, kesulitan mengendalikan emosi, perasaan putus asa, bahkan muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup biasanya jalan yang paling mudah dilakukan.
Semakin lama kekerasan berlangsung, semakin besar pula kemungkinan trauma memengaruhi cara korban memandang dirinya, orang lain, dan dunia di sekitarnya, sehingga proses pemulihannya membutuhkan pendampingan psikologis yang intensif dan berkelanjutan dan tentunya akan lama,”
tuturnya.
Gejala Trauma
Adapun gejala yang sering muncul, seperti kilas balik dan mimpi buruk tentang peristiwa kekerasan yang dialaminya, ketakutan berlebihan dan selalu waspada, mudah terkejut, dan merasa dunia tidak aman baginya.
Kesulitan mengatur emosi, seperti mudah menangis, marah, cemas, atau merasa mati rasa secara emosional,”
katanya.
Korban juga akan merasa harga dirinya rendah, merasa tidak berharga, bersalah, atau menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.
Korban juga akan kesulitan mempercayai orang lain dan membangun hubungan yang sehat lagi, perasaan tidak berdaya sehingga korban merasa tidak mampu melindungi diri atau mengambil Keputusan lagi.
Pada kasus yang sangat berat, dapat muncul gangguan disosiasi, yaitu perasaan terlepas dari diri sendiri, lingkungan terasa tidak nyata, atau adanya kesenjangan ingatan terhadap sebagian peristiwa traumatis dan ada yang mengalami gangguan kepribadian atau kepribadian ganda. Sehingga, pemulihan korban memerlukan penanganan medis, psikologis, dan dukungan sosial yang berkelanjutan,”
tambahnya.



















