Kebiasaan makan larut malam kerap dilakukan banyak orang, baik karena lembur, begadang, hingga sekadar menikmati camilan atau mie instan sebelum tidur. Padahal, kebiasaan ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan jika dilakukan secara terus-menerus.
Melalui unggahan di media sosial @klip.obrolan.kesehatan, dr. Tirta mengingatkan bahwa makan di atas pukul 8 malam, terutama dalam porsi besar dan tinggi karbohidrat, dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan. Menurutnya, tubuh memiliki ritme biologis yang membuat sistem pencernaan tidak bekerja seoptimal saat siang hari.
Berikut dampak makan malam terlalu sering.
1. Sistem Pencernaan Melambat di Malam Hari
Pada malam hari, aktivitas metabolisme dan pencernaan tubuh cenderung menurun. Akibatnya, makanan membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dibandingkan saat siang.
Jika seseorang langsung tidur setelah makan, proses pengosongan lambung menjadi lebih lambat. Kondisi ini dapat memicu rasa begah, gangguan pencernaan, hingga meningkatkan risiko refluks asam lambung (GERD).
2. Tingkatkan Kadar Gula Darah
Makan malam dalam jumlah besar, terutama makanan tinggi karbohidrat sederhana dan lemak, dapat menyebabkan kadar gula darah serta trigliserida meningkat.
Apabila kebiasaan ini dilakukan terus-menerus tanpa diimbangi aktivitas fisik, kelebihan energi akan disimpan sebagai lemak. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, hingga penyakit metabolik.
3. Meningkatkan Risiko Stroke dan Penyakit Kardiovaskular
Dr. Tirta juga mengingatkan bahwa tingginya kadar lemak darah akibat pola makan yang buruk dapat menjadi salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke.
Meski stroke tidak disebabkan oleh satu faktor saja, kebiasaan makan larut malam yang disertai pola hidup tidak sehat dapat memperbesar risiko terjadinya tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan penyumbatan pembuluh darah yang menjadi pemicu stroke.
Bagi orang yang harus begadang karena pekerjaan atau belajar, dr. Tirta menyarankan untuk mengurangi konsumsi karbohidrat berat pada malam hari. Sebagai gantinya, pilih makanan protein dan berserat agar rasa kenyang bertahan lebih lama tanpa memberikan lonjakan gula darah yang berlebihan, seperti:
- Telur rebus.
- Alpukat.
- Greek yogurt tanpa gula.
- Kacang-kacangan dalam porsi secukupnya.
- Buah yang tinggi serat.
Selain itu, usahakan memberi jeda sekitar dua hingga tiga jam antara waktu makan terakhir dengan waktu tidur agar proses pencernaan berjalan lebih optimal.
Meski sesekali makan di malam hari belum tentu langsung menyebabkan penyakit, kebiasaan ini sebaiknya tidak dijadikan rutinitas. Menjaga pola makan yang teratur, memilih makanan bergizi, serta menghindari makan berlebihan menjelang tidur merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.






















