Bermain merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Melalui aktivitas bermain, anak tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga belajar mengembangkan kemampuan motorik, berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, hingga mengelola emosi.
Sayangnya, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, banyak anak kini lebih sering menghabiskan waktu dengan gadget. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan orang tua adalah mengenalkan kembali berbagai permainan tradisional Indonesia.
Momentum Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli pun menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan bermain yang sehat, aman, dan bermanfaat bagi tumbuh kembangnya.
Dilansir dari laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (23 Mei 2023), berikut lima permainan tradisional Indonesia yang baik untuk perkembangan anak.
1. Congklak
Permainan ini diyakini berasal dari Timur Tengah atau India dan masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan sekitar abad ke-15. Di Indonesia, congklak memiliki berbagai nama daerah, seperti dakon di Jawa dan mokaotan di Bali.
Permainan ini dimainkan oleh dua orang menggunakan papan berlubang serta biji-bijian atau kerang kecil. Saat bermain, anak dituntut untuk menghitung jumlah biji, menyusun strategi, dan menentukan langkah agar dapat mengumpulkan biji sebanyak mungkin di rumahnya.
Aktivitas tersebut membantu melatih kemampuan berhitung, konsentrasi, daya ingat, kemampuan memecahkan masalah, serta kesabaran. Selain itu, congklak juga mengajarkan nilai sportivitas dan keseimbangan antara memberi dan menerima dalam kehidupan.
2. Egrang
Egrang merupakan permainan tradisional yang menggunakan sepasang tongkat bambu panjang dengan pijakan kaki. Untuk memainkannya, anak harus berdiri di atas pijakan bambu sambil menjaga keseimbangan dan melangkah hingga mencapai garis akhir.
Permainan egrang bermanfaat untuk melatih keseimbangan tubuh, koordinasi gerak, kekuatan otot, serta keberanian anak dalam mencoba hal baru.
Selain itu, egrang juga mengajarkan ketekunan karena membutuhkan latihan agar dapat berjalan dengan baik. Nilai sportivitas, percaya diri, dan pantang menyerah yang ditanamkan melalui permainan ini menjadi bekal penting bagi perkembangan karakter anak.
3. Gobak Sodor
Nama “Gobak Sodor” diyakini berasal dari bahasa Jawa, yakni gobak yang berarti bergerak bebas dan sodor yang berarti mengulurkan tangan untuk menghadang lawan. Dalam permainan ini, satu tim bertugas melewati garis hingga mencapai garis akhir tanpa tersentuh oleh tim penjaga.
Permainan Gobak Sodor tidak hanya mengajak anak aktif bergerak, tetapi juga melatih kerja sama, komunikasi, serta kemampuan menyusun strategi. Anak dituntut untuk berpikir cepat dalam mencari celah, mengambil keputusan, dan bekerja sama dengan anggota tim agar dapat memenangkan permainan.
4. Engklek
Nama engklek berbeda-beda di tiap daerah, seperti Taplak Gunung di Jawa Barat, Dampu Bulan di Jakarta, Setatak di Riau, hingga Enjit-enjit di Kalimantan Barat. Permainan ini menggunakan gacuk, yaitu pecahan genteng atau keramik yang dilempar ke petak-petak yang digambar di tanah.
Pemain kemudian melompat dengan satu kaki sambil menghindari petak tempat gacuk berada. Selain menyenangkan, engklek bermanfaat untuk melatih keseimbangan tubuh, koordinasi gerak, serta kekuatan otot kaki. Anak juga belajar berkonsentrasi, mematuhi aturan permainan, dan bersabar menunggu giliran.
5. Balap Karung
Permainan ini diyakini telah ada sejak masa kolonial Belanda, ketika karung goni bekas dimanfaatkan sebagai alat bermain karena mudah diperoleh. Kini, balap karung menjadi salah satu lomba tradisional yang selalu meramaikan peringatan kemerdekaan di berbagai daerah.
Dalam permainan ini, peserta memasukkan kedua kaki ke dalam karung goni lalu melompat menuju garis finis secepat mungkin. Meski terlihat sederhana, balap karung mampu melatih keseimbangan tubuh, koordinasi gerak, serta kekuatan otot kaki. Permainan ini juga mengajarkan anak untuk pantang menyerah.



















