Terkenal karena viral di media sosial, tanjakan Sitinjau Lauik merupakan salah satu ruas jalan yang dikenal ekstrem di Sumatera Barat.
Jalur ini berada di Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, dan menjadi bagian dari jalan nasional yang menghubungkan Padang dengan Solok.
Jalur tersebut memiliki medan berupa tanjakan curam dan tikungan tajam. Kondisinya menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara, terutama kendaraan besar seperti bus dan truk.
Laporan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bahkan mencatat 36 kecelakaan di kawasan Sitinjau Lauik dalam kurun waktu satu tahun pada 2021.
Lantas, apa yang membuat Tanjakan Sitinjau Lauik begitu ekstrem? Merangkum dari berbagai sumber, simak penjelasan di bawah ini.
Asal-usul Nama
Nama Sitinjau Lauik berkaitan dengan karakter kawasan yang berada di perbukitan dan memiliki titik pandang ke arah laut. Dari kawasan Panorama Sitinjau Lauik, pengunjung dapat melihat Kota Padang dengan latar Samudra Hindia.
Pemandangan tersebut menjadi salah satu daya tarik kawasan ini. Pemerintah Kota Padang mencatat Panorama Sitinjau Lauik I dan II sebagai daya tarik wisata alam di lintasan Padang-Solok, tepatnya di Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan.
Meski memiliki panorama yang indah, kawasan ini justru lebih dikenal masyarakat karena kondisi jalannya yang menantang.
Karena itu, nama Sitinjau Lauik tidak hanya lekat dengan pemandangannya saja, tetapi juga dengan jalur ekstrem yang dilalui berbagai jenis kendaraan.
Tanjakan Curam
Salah satu bagian paling menantang berada pada tikungan yang bentuknya menyerupai huruf U. Tikungan tersebut memiliki kemiringan yang disebut mencapai 45 derajat.
Kondisi ini membuat kendaraan, terutama kendaraan besar, membutuhkan perhitungan ketika melewatinya.
KNKT menjelaskan bahwa kondisi jalan yang terjal dan berkelok menjadi salah satu faktor yang menyulitkan pengemudi. Bahkan, tikungan dengan kemiringan tersebut tidak memungkinkan dua kendaraan besar berpapasan dengan mudah.
Pemandangan Kota Padang
Kawasan Sitinjau Lauik berada di wilayah perbukitan. Salah satu titik panoramanya berada sekitar 220 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Dari kawasan tersebut, pengendara maupun wisatawan dapat melihat Kota Padang dari ketinggian dengan latar Samudra Hindia.
Pemandangan ini menjadi sisi lain dari Sitinjau Lauik yang tidak hanya dikenal sebagai jalur ekstrem, tetapi juga sebagai kawasan panorama.
Data Kecelakaan
Menurut KNKT, kecelakaan terjadi karena ruas jalan memiliki kemiringan yang sangat terjal dan berbelok sehingga menyulitkan pengemudi.
Kepala BPTD Wilayah III Sumatera Barat juga menyebut kawasan tersebut tidak hanya memiliki tikungan, tetapi juga tanjakan yang harus ditaklukkan pengguna jalan.
Data kewilayahan Satlantas Polresta Padang yang tercantum dalam berbagai laporan juga menunjukkan adanya 21 kecelakaan pada 2021 dengan enam korban meninggal dunia. Sementara pada periode Januari hingga Oktober 2022, tercatat 17 kecelakaan dengan satu korban meninggal dunia.
Dikenal Mancanegara
Kondisi Sitinjau Lauik bahkan pernah menarik perhatian masyarakat di luar Indonesia. Ketua KNKT pada 2021 menyebut ekstremnya jalur tersebut telah banyak direkam dan diunggah ke YouTube sehingga dikenal hingga luar negeri.
Di sisi lain, kondisi tersebut juga membuat sejumlah warga sekitar memanfaatkan aktivitas kendaraan di Sitinjau Lauik sebagai konten digital. Rekaman kendaraan yang berjuang melewati tanjakan dan tikungan ekstrem menjadi tontonan yang menarik bagi pengguna media sosial.
Dengan berbagai kondisi tersebut, Sitinjau Lauik bukan sekadar jalan menanjak biasa. Kombinasi kemiringan hingga 45 derajat, tikungan tajam, jurang puluhan meter, lalu lintas kendaraan besar, serta risiko longsor membuat kawasan ini menjadi salah satu jalur yang membutuhkan kewaspadaan tinggi.




















