Jika kamu sering membuka aplikasi Threads, mungkin sudah tak asing dengan fenomena penggunaan nama sejumlah pejabat atau tokoh politik Indonesia dalam percakapan sehari-hari.
Menariknya, nama-nama tersebut tidak selalu digunakan dalam konteks politik. Di media sosial, beberapa nama justru berkembang menjadi istilah atau kode tertentu yang memiliki makna berbeda dari sosok aslinya.
Salah satunya adalah frasa ‘Ganjar dulu’ yang belakangan kerap muncul dalam percakapan di Threads.
Istilah itu bukan membahas Ganjar Pranowo eks Gubernur Jawa Tengah. Tapi, istilah ‘Ganjar Dulu’ merupakan kode untuk mengajak lari atau jogging.
Begitu pula ketika ada pengguna yang menulis ‘Gibran’. Dalam ‘kamus’ belakangan dibagikan sejumlah pengguna Thread, nama tersebut justru berarti kosong.
Fenomena permainan bahasa ini ramai dibicarakan setelah akun Threads @drg.mirza dan @abgjosjisv2 membagikan daftar ‘kosakata baru warga Threads’.
Daftar tersebut berisi nama sejumlah tokoh publik yang diberi arti berbeda dari makna sebenarnya. Ada yang merujuk pada kebiasaan tokohnya, pernyataan yang pernah viral, jabatan, hingga sekadar permainan bunyi.
Setelah mempelajari dan mencatat serta menganalisa dalam beberapa hari ini saya menyimpulkan beberapa kosa kata baru warga thread,”
tulis akun @drg.mirza.
Lantas, apa saja bahasa yang dimaksud? Berikut penjelasannya!
- Gibran = Kosong
Nama Gibran Rakabuming Raka dalam daftar tersebut digunakan untuk menyebut ‘kosong’. Istilah ini dikaitkan dengan narasi kritis sebagian netizen yang mempertanyakan gagasan, substansi pemikiran, maupun performa politik Gibran.
Namun, dalam percakapan satire, ‘Gibran‘ juga bisa digunakan secara harfiah untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sedang memiliki waktu kosong atau luang. Jadi, maknanya sangat bergantung pada konteks kalimat.
Contoh kalimatnya: “Gibran nggak? Nongkrong yuk!” (Kosong nggak? Nongkrong yuk!”)
- Tedy = Sibuk
Berikutnya ada Tedy yang artinya ‘sibuk‘. Istilah ini merujuk pada Mayor Teddy Indra Wijaya yang kerap terlihat mendampingi Presiden dalam berbagai agenda.
Aktivitasnya yang terlihat padat mulai dari mendampingi kegiatan hingga menghadiri berbagai pertemuan, membuat sebagian warganet mengasosiasikan namanya dengan seseorang yang sedang sangat sibuk. Alhasil, ‘Tedy’ kemudian digunakan sebagai kata pengganti ‘sibuk’.
Contoh kalimat: “Tedy nggak? Mau ngobrol sebentar,” (Sibuk nggak? Mau ngobrol sebentar)
- Prabowo = Asbun
Nama Prabowo juga masuk dalam daftar dengan arti asbun atau ‘asal bunyi’. Plesetan ini muncul dari komentar sebagian netizen yang menyoroti gaya pidato Prabowo yang spontan, ceplas-ceplos, dan terkadang menggunakan pernyataan yang kemudian jadi viral di media sosial.
Dalam konteks ini, ‘Prabowo’ digunakan sebagai satire untuk menggambarkan seseorang yang sedang berbicara tanpa banyak menyaring ucapannya.
Contoh kalimat: “Emang benar gitu ya ceritanya? Apa Prabowo doang?” (Emang bener gitu ya ceritanya? Apa asbun doang?)
- Jokowi = Pembohong
Kemudian ada Jokowi yang artinya ‘pembohong’. Istilah ini merupakan pelabelan bernada satire yang digunakan sebagian warganet dalam kritik terhadap Joko Widodo.
Narasi tersebut berkaitan dengan berbagai perdebatan mengenai janji politik, kebijakan, maupun klaim pemerintah selama masa kepemimpinannya.
Namun, penyebutan ‘pembohong’ dalam daftar ini perlu dipahami sebagai label atau pendapat warganet. Bukan fakta yang dapat digeneralisasi.
Contoh kalimatnya: “Jokowi, masak sih orang kayak lo lagi Tedy” (pembohong, masak sih orang kayak lo lagi sibuk).
- KDM = Sok Sibuk
KDM atau Kang Dedi Mulyadi dikenal sangat aktif membagikan aktivitasnya di lapangan melalui media sosial.
Mulai dari blusukan, menemui warga, hingga menangani berbagai persoalan, aktivitas tersebut kerap menjadi konten media sosialnya.
Sebagian warganet mengapresiasi gaya tersebut. Namun, ada pula yang mengkritiknya sebagai pencitraan atau aktivitas yang terlalu sering ditampilkan di media sosial.Dan dari situlah muncul plesetan KDM yang artinya “sok sibuk”.
Contoh kalimatnya: “KDM lo, ditelpon nggak di angkat,” (sok sibuk lo, di telpon nggak diangkat)
- Anies = Nganggur
Nama Anies Baswedan diberi arti ‘nganggur’. Ini merupakan sindiran politik dari sebagian warganet terhadap kondisi Anies yang tidak sedang memegang jabatan publik formal di pemerintahan.
Kondisi tersebut kemudian diplesetkan menjadi ‘nganggur’ dalam percakapan satire di media sosial.
Istilah ini tentu bukan berarti Anies secara harfiah tak melakukan aktivitas. Tapi, melainkan permainan istilah yang merujuk pada tidak adanya jabatan pemerintahan yang sedang diembannya.
Contoh kalimatnya: “Lagi Anies nggak? Mau minta tolong nih,” (Lagi Anies nggak?mau minta tolong nih)
- Ganjar = Lari atau Jogging
Kalau ada yang mengatakan “Ganjar dulu”, kemungkinan maksudnya adalah lari atau jogging.
Nama Ganjar Pranowo memang cukup sering dikaitkan dengan aktivitas olahraga lari. Ia beberapa kali membagikan aktivitas jogging melalui media sosialnya, baik ketika berada di suatu daerah maupun dalam rutinitas sehari-hari.
Kebiasaan tersebut kemudian menjadi asosiasi yang kuat di kalangan warganet. Alhasil, “Ganjar” dipakai sebagai kode untuk aktivitas lari atau jogging.
Contoh kalimatnya: “Minggu Tedy nggak? Ganjar yuk!” (Minggu sibuk nggak? Jogging yuk!)
- Nanik = Nangis
Berikutnya ada Nanik yang artinya “nangis”. Istilah ini dikaitkan dengan Nanik S. Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, yang beberapa kali menjadi sorotan ketika terlihat menangis dalam sejumlah momen di hadapan publik.
Momen emosional tersebut kemudian dijadikan bahan meme dan permainan bahasa oleh warganet.
Karena kemiripan bunyi sekaligus asosiasi dengan ekspresi menangis, “Nanik” kemudian digunakan untuk menggambarkan seseorang yang sedang menangis atau bersedih.
Contoh kalimatnya: “Udah lah nggak usah Nanik terus” (Udahlah nggak usah nangis terus)
- Cak Imin = “Saya Nggak Tahu”
Ada pula Cak Imin maknanya “saya nggak tahu”.
Plesetan ini dikaitkan dengan momen pada Agustus 2024 Ketika Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dicegat wartawan dan ditanya mengenai rapat Badan Legislasi DPR terkait RUU Pilkada.
Jawabannya yang menyatakan tidak tahu. Kemudian, menjadi bahan candaan warganet.
Dalam ‘kamus’ Threads, nama Cak Imin akhirnya digunakan sebagai kode untuk situasi ketika seseorang mengaku tidak tahu, mengelak, atau memilih tidak ikut campur dalam sebuah persoalan.
- Purbaya = Pusing
Nama Purbaya Yudhi Sadewa juga memiliki arti unik, yakni pusing.
Pelesetan ini dikaitkan dengan berbagai momen ketika Purbaya menjadi sorotan dalam pembahasan persoalan ekonomi dan keuangan negara.
Nama tersebut kemudian dimainkan menjadi kata ‘pusing’, yang digunakan warganet untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sedang banyak pikiran atau menghadapi persoalan rumit.
Contoh kalimatnya: “Purbawa gw, laporan magang belum selesai” (pusing gw, laporan magang belum selesai)
- Raffi = Nyuci
Tidak hanya pejabat, nama selebritis Raffi juga masuk dalam daftar. “Raffi” digunakan sebagai kode untuk nyuci atau mencuci.
Plesetan tersebut dikaitkan dengan istilah “pencucian”, seperti money laundering atau pencucian uang dan image laundering atau pencucian citra.
Dalam perkembangannya, istilah tersebut kemudian dibuat lebih sederhana menjadi aktivitas sehari-hari yaitu nyuci.
Contoh kalimatnya: “Sorry hari Minggu skip Ganjar dulu, gw mau Raffi baju” (Sorry hari minggu skip jogging dulu, gw mau cuci baju)
- Meutya = Blokir atau Take Down
Nama Meutya merujuk pada Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital. Posisi tersebut membuat namanya dikaitkan dengan kebijakan pemerintah di bidang digital, termasuk pengawasan terhadap konten dan platform digital.
Dari asosiasi tersebut, “Meutya” kemudian digunakan sebagai kata pengganti untuk blokir atau take down.
Jadi, ketika seseorang mengatakan sebuah akun “di-Meutya”, maksudnya bisa merujuk pada akun yang diblokir atau kontennya dihapus.
- Ma’ruf Amin = Diem
Terakhir ada Ma’ruf Amin yang digunakan untuk kata ‘diem’.
Plesetan ini merupakan bagian dari meme atau satire lama warganet yang mengaitkan sosok Ma’ruf Amin dengan gaya komunikasi yang dianggap lebih low profile dan tidak terlalu banyak berbicara di ruang publik ketika menjabat sebagai Wakil Presiden.
Dari persepsi itu, namanya kemudian digunakan sebagai kode untuk menyuruh seseorang diam.
Contoh kalimatnya: “Ma’ruf Amin lo, gw lagi Purbaya nih” (Diem lo, gw lagi pusing nih)
Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa di media sosial dapat berkembang dengan sangat cepat.
Pengguna tak hanya membuat singkatan atau istilah baru. Tetapi, juga mengambil nama orang yang sudah dikenal publik kemudian memberinya makna baru.
Semakin banyak orang memahami arti sebuah istilah, semakin mudah istilah tersebut digunakan dalam percakapan tanpa perlu menjelaskan maksudnya.
Hal ini membuat bahasa media sosial terasa seperti memiliki “kamus” sendiri.
Meski disebut sebagai ‘kosakata warga Threads’, istilah-istilah tersebut tidak otomatis menjadi bahasa yang digunakan seluruh Gen Z.
Lebih tepat jika fenomena ini disebut sebagai slang, plesetan, atau inside joke yang berkembang di komunitas tertentu di Threads.
Bahasa internet memang sangat cair. Sebuah istilah bisa viral selama beberapa hari, digunakan berulang kali di kolom komentar, lalu hilang ketika muncul tren baru.
Dalam kasus ini, nama-nama seperti Gibran, Ganjar, Meutya, hingga Raffi tidak lagi hanya berfungsi sebagai nama orang.
Di tangan warganet, nama tersebut berubah menjadi kode untuk menggambarkan kondisi, aktivitas, atau respons tertentu.
Jadi, kalau nanti menemukan seseorang menulis ‘Ganjar dulu’, jangan buru-buru mengira mereka sedang membahas politik. Bisa saja maksudnya sesederhana ngajak kamu buat jogging.
























