Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan pengerahan kapal induk andalan Perancis, Charles de Gaulle, menuju Laut Mediterania pada Selasa 4 Maret 2026.
Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi merembet hingga kawasan Eropa.
Kapal induk tersebut sebelumnya menjalankan misi di Atlantik Utara dan sempat bersandar di pelabuhan Malmo, Swedia, sebelum akhirnya dialihkan untuk memimpin armada tempur di Mediterania.
Saya telah memerintahkan kapal induk Charles de Gaulle, aset udaranya, dan pengawalan fregat untuk menetapkan arah menuju Mediterania,”
ujar Macron seperti dilansir dari AFP.
Selain mengerahkan kapal induk, Perancis juga mengirim tambahan sistem pertahanan udara ke Siprus.
Keputusan ini diambil setelah serangan drone buatan Iran menghantam pangkalan RAF Akrotiri di Siprus.
Macron memastikan fregat Languedoc bersama perangkat pertahanan udara tambahan dijadwalkan tiba di lepas pantai Siprus pada Selasa 3 Maret kemarin.
Situasi ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Kritik Macron terhadap Operasi Militer
Dalam pernyataannya, Macron menyampaikan kritik terhadap operasi militer yang dilakukan semua pihak, termasuk Amerika Serikat dan Israel.
AS dan Israel memutuskan untuk meluncurkan operasi militer yang dilakukan di luar hukum internasional, yang tidak dapat kami setujui. Iran memikul tanggung jawab utama atas situasi ini tegas,”
jelasnya.
Namun, ia juga menilai Teheran memiliki tanggung jawab besar atas situasi yang terjadi merujuk pada program nuklir Iran yang dianggap berbahaya, dukungan terhadap proksi regional, serta tindakan keras terhadap rakyatnya sendiri saat protes Januari lalu.
Ekonomi Global Terancam
Macron menyoroti dampak serius terhadap stabilitas ekonomi dunia akibat terganggunya
jalur maritim strategis.
Sebagai respons, Perancis berinisiatif membangun koalisi internasional guna mengamankan jalur pelayaran penting.
Selat Hormuz secara efektif ditutup. Sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia melewati selat ini. Terusan Suez dan Laut Merah juga berada dalam tekanan dan ancaman,”
ungkap Macron.
Kami telah mengambil inisiatif untuk membangun koalisi guna menyatukan sumber daya yang diperlukan, termasuk militer, agar lalu lintas dapat dipulihkan dan diamankan di jalur laut yang penting bagi ekonomi global ini,”
jelasnya.
Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Noel Barrot, mengungkapkan bahwa militer telah mengerahkan jet tempur Dassault Rafale di atas wilayah Uni Emirat Arab (UEA).
Langkah ini dilakukan untuk melindungi pangkalan udara dan laut Perancis di kawasan tersebut setelah sebuah hanggar di pangkalan Al-Dhafra, dekat Abu Dhabi, terkena serangan drone pada Minggu lalu.
Jet Rafale dan pilot-pilotnya dimobilisasi untuk memastikan keamanan fasilitas kami,”
kata Barrot kepada saluran berita BFMTV.
Macron menegaskan bahwa militer Perancis telah bertindak sesuai prosedur pertahanan diri sejak awal konflik pecah.
Kami bereaksi segera dan menembak jatuh pesawat nirawak untuk membela diri di jam-jam awal konflik, demi mempertahankan wilayah udara sekutu kami yang tahu bahwa mereka bisa mengandalkan kami,”
tambahnya.
Langkah-langkah militer ini menandai keseriusan Perancis dalam menjaga stabilitas kawasan sekaligus melindungi kepentingan strategisnya di tengah konflik yang terus berkembang.


