Harga minyak dunia turun 9 persen setelah Iran menyatakan Selat Hormuz terbuka selama gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon.
Melansir dari CNBC Internasional, Sabtu, 17 April 2026, harga minyak mentah Brent kehilangan 9 persen atau turun menjadi US$90,38 per barel.
Sedangkan harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Mei turun hampir 12 persen atau turun menjadi US$83,85 per barel.
Menanggapi hal tersebut, Presiden AS Donald Trump, berterima kasih pada Iran atas pembukaan Selat Hormuz. Namun, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga AS mencapai kesepakatan perdamaian dengan Iran.
Harga minyak yang turun tersebut karena adanya ekspektasi yang terbentuk bahwa AS dan Iran dapat memperpanjang gencatan senjata Lebanon – Israel selama dua minggu lagi dan berpotensi melanjutkan pembicaraan untuk mengakhiri konflik.
Sementara itu, harga rata-rata Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada bulan Maret 2026 ditetapkan sebesar US$102,26 per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman menyampaikan, bahwa lonjakan ICP tersebut tidak terlepas dari dinamika geopolitik global yang memanas sepanjang Maret 2026.
Rata-rata ICP bulan Maret 2026 mengalami kenaikan signifikan sebesar US$33,47 per barel dibandingkan bulan Februari 2026, dari US$68,79 per barel menjadi US$102,26 per barel. Kenaikan ini sejalan dengan tren harga minyak mentah utama dunia yang juga mengalami peningkatan tajam,”
ujar Laode.
Lebih lanjut, Laode menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah global juga dipicu oleh eskalasi konflik yang melibatkan Amerika, Israel, dan Iran, yang berdampak langsung terhadap pasokan energi dunia.
Salah satu faktor utama adalah terganggunya jalur distribusi energi global, termasuk sempat adanya penghentian pelayaran melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Selain itu, berbagai serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah turut mempengaruhi pasokan.
Laode mengatakan bahwa dinamika konflik global sempat menimbulkan tekanan pada produksi dan distribusi energi di sejumlah kawasan, termasuk gangguan pada LNG di Qatar, operasional kilang di Arab Saudi, serta penurunan produksi di beberapa negara dan terdampaknya fasilitas strategis.
Situasi geopolitik yang memanas menyebabkan ketidakpastian pasokan global, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga minyak mentah secara signifikan,” imbuhnya.
Secara rinci, perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama pada Maret 2026 dibandingkan Februari 2026 mengalami peningkatan sebagai berikut:
• Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia naik sebesar US$33,47 per barel dari US$68,79 per barel menjadi US$102,26 per barel.
• Harga Brent (ICE) meningkat sebesar US$30,23 per barel dari US$69,37 per barel menjadi US$99,60 per barel.
• WTI (Nymex) naik sebesar US$26,47 per barel dari US$64,52 per barel menjadi US$91,00 per barel.
• Dated Brent mengalami kenaikan sebesar US$32,73 per barel dari US$71,15 per barel menjadi US$103,89 per barel.
• Basket OPEC naik signifikan sebesar US$48,13 per barel dari US$67,90 per barel menjadi US$116,03 per barel (per 30 Maret 2026).



