Influenza masih menjadi ancaman kesehatan pernapasan global yang signifikan, dengan perkiraan 290.000 hingga 650.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Di negara tropis seperti Indonesia, sirkulasi virus yang terjadi sepanjang tahun menjadikan influenza sebagai tantangan kesehatan masyarakat yang perlu diantisipasi secara berkelanjutan.
Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si., menjelaskan influenza tipe A tahun 1918 sampai 1919 telah menyebar ke suluru dunia dan menjadi pandemi pertama.
Dari kasus tersebut yang meninggal sekitar 50 sampai 100 juta orang.
Kenapa meninggal? Karena virus itu menyebabkan sakit berat, terutama pada bayi, balita, dan lansia,”
ujar Prof Miko saat ditemui dalam acara Media Briefing Perlindungan Flu yang Tepat untuk Keluarga Hebat yang diselenggarakan oleh Kalbe melalui anak usahanya, Kalventis, baru-baru ini.
Prof Miko menambahkan bagi orang dewasa yang memiliki komorbid seperti kelelahan jantung, kekurangan darah, diabetes, dan obesitas, risiko penyakitnya akan semakin parah.
Bisa menyerang paru-paru jadi radang paru atau pneumonia, bisa ke jantung, otot-otot jantungnya terganggu, juga ke otak. Sehingga perlu perawatan dan itu yang menyebabkan kematian,”
jelasnya.
Di sisi lain, Dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu, Sp.A menjelaskan secara global, tingkat kejadian influenza pada anak mencapai 20–30 persen. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
Berdasarkan hasil pengolahan data surveilans Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Jawa Barat tahun 2023, total jumlah kasus ILI terjadi paling banyak pada populasi anak usia 5-15 tahun, dan dapat terjadi pada kelompok usia lain.
Anak-anak berkontribusi lebih besar terhadap penyebaran influenza di masyarakat, karena daya tularnya yang tinggi dan keberadaan virus influenza di dalam tubuh anak yang lebih lama dibandingkan orang dewasa, sehingga sudah bisa menularkan walaupun belum ada gejala atau sesudah sembuh dari sakit influenza. Komplikasi influenza pada anak juga termasuk serius dan membahayakan, seperti pneumonia, infeksi telinga, infeksi sinus, hingga ensefalitis,”
papar dr Kanya.
Selain itu, tambah dr. Kanya, angka rawat inap pada anak usia pra-sekolah sebanding dengan angka rawat inap pada kelompok usia 50 hingga 64 tahun.
Oleh karena itu, vaksinasi influenza tahunan disarankan diberikan kepada anak-anak, mulai usia 6 bulan.
Vaksin berperan sebagai tindakan pencegahan utama untuk mengurangi kasus kematian dan rawat inap yang disebabkan virus influenza, serta penularan kepada usia lansia yang mungkin serumah dengan anak.
Peralihan ke vaksin influenza trivalent disesuaikan dengan memperkuat perlindungan pada strain yang relevan, termasuk pada anak,”
ucap dr Kanya.
Menurut rekomendasi IDAI, vaksin flu bisa mulai dari usia 6 bulan. Pada umur 6 bulan sampai 8 tahun, imunisasi pertama sebanyak 2 dosis dengan jarak minimal 4 minggu, lalu diulang 1 kali setiap tahun.
Sedangkan untuk anak usia di atas 9 tahun, imunisasi pertama cukup diberikan satu dosis, lalu juga diulang setiap tahunnya,” pungkas dr. Kanya.
Vaksin Influenza Trivalent
Vaksin Influenza berperan penting dalam melindungi masyarakat dari risiko infeksi dan komplikasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli kesehatan global, termasuk WHO, tidak lagi menemukan sirkulasi virus B/Yamagata, sehingga mendorong penyesuaian komposisi vaksin.
Perubahan rekomendasi WHO ini mencerminkan dinamika epidemiologi influenza global yang perlu direspons secara ilmiah dan adaptif.
Selama lebih dari satu dekade, vaksin quadrivalent dikembangkan untuk melindungi dari dua galur virus flu jenisA yaitu H1N1 dan H3N2 serta dua galur virus flu jenis B yaitu Victoria dan Yamagata. Namun, sejak tahun 2020, virus B/Yamagata tidak ditemukan lagi di seluruh dunia.
Oleh karena itu, pada 2023, WHO menilai bahwa keberadaan komponen virus B/Yamagata dalam vaksin tidak diperlukan lagi. WHO pun merekomendasikan transisi penggunaan vaksin influenza quadrivalent (QIV) ke vaksin influenza trivalent(TIV).
Sejumlah studi menunjukkan bahwa vaksin influenza trivalent memiliki profil imunogenisitas, efektivitas, dan keamanan yang sebanding dengan vaksin quadrivalent.
Menurut Prof. Soedjatmiko efektivitas vaksin ditentukan oleh kesesuaian antigen dengan virus yang beredar. Dengan demikian, vaksin influenza trivalent tetap memberikan perlindungan optimal terhadap ancaman influenza.
Transisi dari QIV ke TIV bukanlah bentuk pengurangan perlindungan, melainkan optimalisasi vaksin sesuai dengan bukti ilmiah terbaru. Fokus utama tetap pada vaksin influenza trivalent untuk melindungi seluruh anggota keluarga, dari bayihingga lansia, dengan harga yang lebih ekonomis sehingga dapat diberikan setiap tahun. Jadwal imunisasi anak dan dandewasa juga tetap sama,”
tutup Prof. Soedjatmiko.


