Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini utamanya menyerang paru-paru, namun juga dapat menyebar ke organ tubuh lain seperti tulang, kelenjar getah bening, ginjal, hingga selaput otak.
Di Indonesia sendiri, kasus TB cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data 2024, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB global, dengan perkiraan 1,08 juta orang sakit dan 126 ribu kematian akibat penyakit tersebut.
Melihat angka kasus TB yang signifikan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengubah strategi pengendalian tuberkulosis (TB) dengan mewajibkan pelacakan 100 persen terhadap keluarga dan kontak erat pasien.
Langkah agresif ini diambil untuk memutus rantai penularan dan mempercepat target eliminasi TB di Indonesia pada 2030.
Kalau mau sukses, tracing harus 100 persen. Kita jangan mancing di laut, tetapi mancing di kolam ikan. Yang sakit harus segera diobati, yang belum sakit harus dilindungi,”
ujar Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dalam keterangannya.
Memutus Sumber Penularan Terdekat
Menurut Wamenkes Beny, selama ini penanganan TB cenderung berfokus pada pengobatan pasien yang sudah sakit tanpa memutus sumber penularan terdekat.
Melalui strategi baru ini, Kemenkes akan memperluas pelacakan kontak erat dengan memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), rontgen portabel, dan tes cepat.
Wamenkes Beny memastikan anggaran pelaksanaan pelacakan pada 2026 telah siap. Ia juga meminta pemerintah daerah, fasilitas kesehatan swasta, organisasi profesi, hingga kader komunitas bergerak bersama.
Strategi dan anggaran sudah ada, alat sedang disiapkan. Tinggal kita kerjakan bersama-sama,”
tegasnya.
Kasus TB Menunjukkan Tren Positif
Sementaara itu, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, Prof. Asnawi Abdullah, mengatakan bahwa dalam lima tahun terakhir upaya pengendalian TB menunjukkan tren positif.
Notifikasi temuan kasus meningkat 31 persen, sedangkan jumlah pasien yang diobati naik 27 persen.
Capaian tersebut didorong oleh penemuan kasus secara aktif dan pemanfaatan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau puluhan juta warga. Kendati demikian, tantangan besar masih menghadang.
TB bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga menyangkut produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Tantangan kita adalah deteksi kelompok berisiko, stigma masyarakat, akses di daerah terpencil, dan kesinambungan pengobatan,”
kata Asnawi.
Untuk mendukung kemandirian, Kemenkes tengah mengawal pengembangan PCR-TB buatan dalam negeri, pengembangan vaksin bersama perguruan tinggi, serta penambahan laboratorium mikrobiologi di sejumlah provinsi.


















