Kasus penangkapan seorang terduga bos narkoba Kampung Bahari kembali menjadi sorotan. Pria yang disebut MR alias “Bos Gendut” sebagai pimpinan jaringan narkoba tersebut ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) saat sedang menjalani prosedur sedot lemak di sebuah klinik kecantikan.
Penangkapan tersebut membuat prosedur sedot lemak ikut menjadi sorotan. Pasalnya, sedot lemak merupakan salah satu prosedur yang cukup populer untuk menghilangkan lemak di area tubuh tertentu dan membentuk kontur tubuh.
Namun, di balik hasil yang diharapkan, prosedur ini tetap merupakan tindakan medis yang memiliki risiko.
Lantas, apakah sedot lemak sebenarnya berbahaya? Apa saja risiko dan efek samping yang mungkin terjadi setelah menjalani prosedur ini.
Dilansir dari laman Kementrian Kesehatan (09 Agustus 2022), simak penjelasannya.
Sedot Lemak
Sedot lemak atau liposuction merupakan prosedur medis untuk mengangkat lemak dari bagian tubuh tertentu, seperti perut, paha, pinggul, lengan, bokong, atau leher.
Prosedur ini bertujuan membentuk tubuh agar terlihat lebih proporsional, bukan sebagai cara utama untuk menurunkan berat badan. Karena merupakan tindakan medis, sedot lemak tetap memiliki risiko.
Efek Samping
Sedot lemak bisa dilakukan dengan aman jika dilakukan oleh dokter yang kompeten dan di fasilitas kesehatan yang memadai.
Namun, bukan berarti prosedur ini bebas dari efek samping. Adapun efek samping yang mungkin terjadi setelah sedot lemak yaitu sebagai berikut:
1. Bengkak dan memar termasuk efek yang cukup umum setelah sedot lemak. Kondisi ini terjadi karena jaringan tubuh mengalami trauma selama proses penyedotan lemak. Namun keluhan tersebut akan berangsur membaik selama masa pemulihan.
2. Kulit bergelombang atau mengendur. Hasil sedot lemak tidak selalu membuat kulit menjadi rata. Pada beberapa orang, kulit justru bisa terlihat bergelombang atau mengendur, terutama jika elastisitas kulit kurang baik.
3. Cairan dapat terkumpul di area yang menjalani sedot lemak. Kondisi ini bisa menyebabkan munculnya benjolan atau pembengkakan sehingga perlu diperiksa oleh dokter jika tidak kunjung membaik.
4. R risiko infeksi dan perdarahan. Risiko ini dapat diminimalkan dengan pemeriksaan sebelum operasi dan perawatan luka yang tepat setelah tindakan.
5. Dkasus yang lebih serius, lemak atau darah dapat masuk dan menyumbat pembuluh darah. Jika gumpalan tersebut mencapai paru-paru, kondisi ini dapat mengganggu pernapasan dan bahkan mengancam nyawa.
6. Sedot lemak membutuhkan anestesi atau obat bius. Pada sebagian orang, obat tersebut dapat menimbulkan reaksi tertentu sehingga kondisi kesehatan pasien perlu diperiksa sebelum menjalani prosedur.
Resiko Komplikasi
Menurut American Society of Plastic Surgeons (ASPS), penyedotan lebih dari 5.000 mililiter atau 5 liter dalam satu prosedur termasuk large-volume liposuction dan membutuhkan perhatian khusus karena risiko komplikasinya dapat meningkat.
Namun, angka 5 liter bukan berarti menjadi batas aman yang berlaku sama untuk setiap orang. Penelitian yang dianalisis ASPS menunjukkan bahwa risiko juga berkaitan dengan berat badan.
Karena itu, jumlah lemak yang dapat diambil perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
ASPS juga menjelaskan bahwa 5 liter yang dimaksud merupakan total cairan yang disedot keluar, bukan selalu 5 liter lemak murni. Cairan tersebut dapat terdiri dari lemak, darah, cairan anestesi, dan cairan lainnya.
Bukan Pengganti Olahraga
Sedot lemak bukan prosedur yang sepenuhnya bebas risiko. Namun, risiko tersebut dapat ditekan jika dilakukan berdasarkan pemeriksaan dokter, menggunakan fasilitas medis yang memadai, dan ditangani tenaga medis yang kompeten.
Yang perlu diingat, sedot lemak juga bukan pengganti olahraga dan pola makan sehat. Prosedur ini lebih ditujukan untuk mengurangi lemak di bagian tubuh tertentu yang sulit dihilangkan.
Karena itu, sebelum memutuskan menjalani sedot lemak, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui manfaat dan risiko yang sesuai dengan kondisi tubuh.



















