Angka stunting di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kini berada di kisaran 3 persen. Capaian tersebut jauh di bawah ambang batas maksimal yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 10 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus dr. Abdul Hakam mengatakan capaian tersebut menjadi prestasi yang perlu dipertahankan sekaligus ditingkatkan. Pemerintah Kabupaten Kudus menargetkan angka stunting dapat terus ditekan secara bertahap hingga mendekati nol persen.
“Sebenarnya standar maksimal stunting yang direkomendasikan oleh WHO adalah di bawah 10 persen. Kami bersyukur Kabupaten Kudus di angka 3 persen. Ini suatu prestasi yang luar biasa dan kami harus maksimalkan. Jadi kami menargetkan secara bertahap di 2027 mencapai 2 persen, 2028 sampai 2029 mungkin ya 0,3 persen atau 0,9 persen, karena memang pasti masih akan ada (stunting). Kami usahakan bersama menembus 0 persen sesuai target Pak Bupati di 2030,”
kata Abdul dalam keterangannya, dikutip pada Selasa, 1 September 2026.
HPK
Dia berpendapat upaya menekan angka stunting tidak cukup dilakukan ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan. Pencegahan harus dimulai sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dengan pemantauan terhadap kebutuhan nutrisi serta pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala.
Abdul menambahkan konsistensi masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat juga menjadi faktor penting dalam mempertahankan penurunan kasus stunting. Sanitasi yang buruk dinilai dapat meningkatkan risiko penyakit yang turut memengaruhi tumbuh kembang anak.
“Sanitasi juga penting karena berkaitan dengan kemunculan penyakit. Kalau itu teratasi, pasti secara maksimal problem stunting turun. Selain itu juga program lain seperti imunisasi, tumbuh kembang, serta pemeriksaan 1.000 hari kehidupan juga harus digalakkan. Kemudian potensi ada anemia ini cukup berdampak,”
terang dia.
Gizi
Selain sanitasi dan pemantauan tumbuh kembang, ia menekankan pentingnya pemenuhan gizi, terutama bagi ibu hamil. Salah satu perhatian yang perlu diperkuat adalah pencegahan anemia melalui konsumsi pangan sumber zat besi.
“Edukasi peningkatan gizi terhadap konsumsi daging merah seperti kerbau, kambing, sapi, dan ampela juga tak kalah penting, untuk dikonsumsi tiga sampai lima kali dalam seminggu, terutama untuk ibu hamil,”
sambung Abdul.
Dengan berbagai intervensi tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus optimis target penurunan stunting dapat terus dicapai. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan lintas sektor dan konsistensi masyarakat, terutama dalam pemenuhan gizi, sanitasi, imunisasi, serta pemantauan kesehatan ibu dan anak sejak masa kehamilan.























