Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada lebih dari 10,67 juta penduduk di tujuh provinsi di Indonesia.
Di tengah meluasnya dampak tersebut, kualitas udara di sejumlah wilayah tercatat berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Berdasarkan Situation Report Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 27 Agustus 2026, total penduduk terdampak karhutla mencapai 10.674.201 orang.
Dampak tersebut tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Kondisi paling mengkhawatirkan salah satunya terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 27 Agustus 2026 pukul 16.26 WIB, Pontianak mencatat nilai ISPU 328 atau masuk kategori berbahaya.
Parameter kritis yang menjadi penyebabnya adalah partikulat halus PM₂.₅.
Sejumlah wilayah lain juga mengalami kualitas udara yang sangat tidak sehat. Kabupaten Tebo, Jambi, mencatat ISPU 287, Barito Selatan, Kalimantan Tengah, 274, Katingan 258, serta Kabupaten Pali, Sumatera Selatan, 255.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, mengatakan karhutla tidak hanya memberikan dampak terhadap lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap dan partikulat.
Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap,”
Dampak Kesehatan
Dampak kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah gangguan saluran pernapasan. Kemenkes mencatat 4.082 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada 27 Agustus 2026.
Secara kumulatif, jumlah kasus ISPA telah mencapai 13.449 kasus yang tersebar di 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak.
Paparan asap karhutla juga dapat memicu batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), serta iritasi mata dan kulit.
Dalam kondisi tertentu, paparan asap juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus,”
tambahnya.
Untuk memperkuat penanganan dampak kesehatan, sebanyak 848 tenaga kesehatan telah dimobilisasi di tujuh provinsi terdampak hingga 27 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB.
Mereka terdiri dari dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, analis, tenaga farmasi, epidemiolog, sanitarian, hingga tenaga pendukung lainnya.
Kemenkes juga menyiapkan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat (Labkesmas).
Selain itu, Public Safety Center (PSC) 119 dan Tenaga Cadangan Kesehatan di tingkat kabupaten/kota turut disiagakan.
Dukungan logistik juga diperkuat. Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes telah mendistribusikan 432.000 masker, 169 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan, 4.900 APD, serta tiga unit air purifier ke sejumlah wilayah terdampak.





















