Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Magnesium dan Kualitas Tidur: Benarkah Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak?

Magnesium kini banyak dilirik sebagai suplemen untuk membantu meningkatkan kualitas tidur. Mineral ini bahkan populer di media sosial dengan istilah tidur berkualitas “HD”.

Ilustrasi sedang istirahat tidur
Ilustrasi sedang istirahat tidur (Foto: pexels.com)

Magnesium kini banyak dilirik sebagai suplemen untuk membantu meningkatkan kualitas tidur. Mineral ini bahkan populer di media sosial dengan istilah tidur berkualitas “HD”.

Konsumsi magnesium sebelum tidur dipercaya dapat membuat tubuh lebih rileks dan membantu seseorang bangun dengan kondisi lebih segar. Namun, benarkah magnesium dapat membuat tidur lebih nyenyak?

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGIZ) IPB University, dr. Yunita Aryani, M.Si., M.H., menjelaskan bahwa magnesium memiliki peran dalam sejumlah proses tubuh yang berkaitan dengan kualitas tidur. Meski demikian, mineral ini tidak dapat disamakan dengan obat tidur.

Iklan

Magnesium membantu mengatur aktivitas saraf, relaksasi otot, serta ritme tidur-bangun. Tetapi magnesium bukan satu-satunya mineral yang mendukung kualitas tidur,”

ujar dr. Yunita dikutip dari laman IPB University Kamis 15 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, asupan magnesium yang lebih tinggi berhubungan dengan kualitas tidur yang lebih baik serta kemungkinan tidur dengan durasi pendek yang lebih rendah.

Namun, hubungan tersebut belum membuktikan bahwa konsumsi magnesium secara langsung menyebabkan kualitas tidur meningkat.

Menstabilkan Aktivitas Saraf

Di dalam tubuh, magnesium membantu menstabilkan aktivitas saraf dan mengurangi rangsangan berlebihan pada jalur glutamat/NMDA.

Glutamat merupakan neurotransmiter yang berperan dalam merangsang aktivitas otak. Pengaturan jalur ini menjadi salah satu mekanisme yang berkaitan dengan aktivitas sistem saraf.

Magnesium juga mendukung kerja gamma-aminobutyric acid (GABA), neurotransmiter yang menghambat aktivitas sistem saraf sehingga membantu otak berada dalam kondisi lebih tenang.

Selain itu, mineral ini berperan dalam pengaturan kalsium dan kalium serta mendukung ritme sirkadian dan jalur melatonin yang berkaitan dengan siklus tidur-bangun.

Meski memiliki sejumlah fungsi tersebut, manfaat magnesium tidak berarti suplemen ini dapat secara langsung membuat seseorang mengantuk atau mengatasi semua gangguan tidur.

Jadi sangat tidak tepat jika magnesium dikatakan sebagai obat tidur atau membuat mengantuk,”

tegasnya.

Sulit Tidur

Menurut dr. Yunita, sulit tidur atau sering terbangun pada malam hari tidak otomatis menandakan tubuh kekurangan magnesium.

Salah satu kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk tidur adalah hyperarousal, yakni ketika tubuh sudah merasa lelah, tetapi otak dan sistem saraf masih aktif sehingga mekanisme untuk memasuki tidur tidak bekerja optimal.

Gangguan tidur juga dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari stres, kecemasan, kebiasaan overthinking, bermain gawai hingga larut malam, jadwal tidur yang tidak teratur, hingga cahaya kamar yang terlalu terang.

Konsumsi kopi, teh pekat, minuman energi, dan nikotin juga dapat memengaruhi kualitas tidur.

Selain faktor kebiasaan, kondisi hormonal, penyakit tertentu, gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea dan restless legs syndrome, serta penggunaan obat-obatan tertentu dapat menjadi penyebab seseorang mengalami kesulitan tidur.

Karena itu, memperbaiki kualitas tidur tidak cukup hanya dengan mengandalkan suplemen magnesium. Asupan makanan yang kaya magnesium, aktivitas fisik teratur, serta pola tidur yang konsisten tetap perlu diperhatikan.

Pemenuhan vitamin dan mineral lain juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

dr. Yunita menekankan, penanganan gangguan tidur perlu dilakukan secara komprehensif dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

Konsumsi suplemen sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pilihan, terutama jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Bukan hanya mengejar tidur lebih nyenyak, tetapi juga bagaimana meningkatkan quality of life,”

pungkas Yunita.

Iklan