Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

BGN Klaim Prasmanan MBG Lebih Aman, Pakar: Harus Diuji Ilmiah!

Wacana penerapan sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai perhatian dari aspek keamanan pangan.

Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Bogor, Bogor Barat Pasir Kuda 01, Jawa Barat
Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Bogor, Bogor Barat Pasir Kuda 01, Jawa Barat (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz)

Wacana penerapan sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai perhatian dari aspek keamanan pangan.

Ahli kesehatan masyarakat Dicky Budiman mengingatkan, klaim bahwa metode prasmanan lebih aman dibandingkan sistem ompreng tidak bisa diterima begitu saja tanpa pembuktian ilmiah.

Menurut Dicky, kedua metode penyajian tersebut memiliki karakteristik dan potensi risiko kontaminasi yang berbeda.

Iklan

Makanan Disajikan

Karena itu, tidak tepat menyimpulkan prasmanan lebih aman hanya berdasarkan cara makanan disajikan.

Klaim bahwa prasmanan secara otomatis lebih aman daripada sistem ompreng itu perlu diuji secara ilmiah. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa salah satu metode lebih aman tanpa adanya evaluasi cara pengelolaannya,”

kata Dicky dalam keterangan resmi yang diterima Owrite, Senin, 2 November 2026.

Ia menjelaskan, sistem prasmanan memiliki keunggulan karena makanan dapat langsung disajikan dari wadah besar dan suhu makanan panas berpeluang dipertahankan.

Namun, metode ini juga memiliki risiko apabila banyak siswa menyentuh peralatan penyaji atau menggunakan alat yang sama untuk mengambil beberapa jenis makanan.

Makanan yang dibiarkan terbuka berpotensi terpapar kontaminasi, termasuk dari percikan batuk atau kondisi lingkungan sekitar tempat penyajian,”

jelasnya.

Sistem Ompreng

Sementara itu, sistem ompreng atau wadah porsi individual memiliki kelebihan karena makanan dapat ditutup dan dibagikan tanpa banyak kontak langsung antara siswa dengan makanan bersama.

Tapi metode itu bukan tanpa kelemahan. Kontaminasi masih dapat terjadi sebelum makanan dikemas, akibat wadah yang tidak dicuci dengan benar, proses pengemasan yang tidak higienis, hingga suhu makanan yang tidak terjaga selama distribusi,”

jelasnya.

Dicky menegaskan, penentu utama keamanan pangan bukan terletak pada pilihan antara prasmanan dan ompreng, melainkan bagaimana pengendalian risiko diterapkan dalam setiap tahapan pengolahan hingga penyajian makanan.

Perubahan metode penyajian dalam program MBG perlu mempertimbangkan kesiapan pengelolaan keamanan pangan, bukan sekadar mengandalkan asumsi bahwa satu sistem lebih unggul dibandingkan sistem lainnya,”

tambahnya.

Iklan