Polda Metro Jaya menegaskan tragedi ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, tidak tergolong aksi terorisme.
Kita juga ingin meluruskan kepada masyarakat memang di tempat ibadah (kejadiannya), tetapi yang bersangkutan ini bukan anti-Islam,”
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto kepada wartawan, Selasa (11/11/2025).
Ditambahkannya, aksi terduga pelaku tidak terafiliasi oleh kelompok lain dan murni perbuatan pelaku sendiri.
Namun demikian, kepolisian masih belum menyampaikan motif dari pada pelaku yang nekat melakukan aksinya di lingkungan sekolah.
Jadi jangan sampai dipikirkan oh, ini (pelaku) menjadi anti-Islam, ini memang perbuatan murni berangkat dari dirinya sendiri,”
Kombes Budi.
Polisi bahkan sampai mentracing latar belakang terduga pelaku, kehidupannya, hingga keluarganya ikut dimintai keterangan.
Kita juga bilang ada yang kurang perhatian dari keluarga. Itu kan sifatnya sudah akumulasi, makanya tadi saya menyinggung dari pihak formal dan nonformal. Artinya, dari rumah dan dari keluarga, dan dari lingkungan sekitar. Ini yang membuat jadi akumulasi yang harus kita berempati, makanya kita harus menjaga,”
Kombes Budi.
Polda Metro Jaya juga mendapatkan fakta baru terkait kasus tersebut. Terduga pelaku meluapkan rasa kesal karena lingkungan sekolahnya melaui corat-coret tulisan dan gambar.
Dari hasil pemeriksaan awal, ada wujud rasa ketidaksukaan, rasa menyampaikan, tetapi tidak secara frontal. Menyampaikan dengan tulisan, gambaran-gambaran,”
Kabid Kombes Pol Budi.
Menurut dia, temuan-temuan receh ini menjadi bahan pengingat khususnya di lingkungan sekolah agar guru lebih peka lagi dengan permasalahan murid dan orang tua bisa lebih memperhatikan psikologis anak.
Sebab dengan mengetahui kondisi anak siswa, bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjadinya bullying dan sebagainya.
Makanya tadi kami sampaikan disinilah kepedulian kita bersama. Kita sebagai orang tua, disaat anak-anak di sekolah melaksanakan pendidikan belajar mengajar, inilah yang kita ajak untuk menggugah apakah tulisan di dinding di meja, apabila kita cepat dan tanggap mungkin kita bisa memitigasi mengeleminir kejadian yang lebih besar,”
Kabid Kombes Pol Budi.
Belajar dari Internet Racik Bahan Peledak
Sementara itu, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menyebut terduga pelaku ledakan SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara meracik bahan peledaknya sendiri.
Hanya bermodalkan dari internet, pelaku bisa menciptakan bahan peledak dengan tangannya sendiri.
Dirakit sendiri, dan pelaku mengakses melalui internet cara-cara merakit bom,”
Jubir Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana saat dikonfirmasi, Selasa (11/11/2025).
Densus 88, kata Mayndra juga menelusuri jejak media sosial milik pelaku. Hasilnya ditemukan jejak konten kekerasan ekstreme seperti pembunuhan kecelakaan perang, hingga peristiwa ekstrem yang mematikan.
Berbagai konten paham negatif itu ditemukan pelaku dalam sebuah komunitas online, termasuk salah satunya pernah mengunjungi situs dark web.
Yang bersangkutan kerap mengunjungi komunitas daring (terutama di forum dan situs-situs gelap) yang menampilkan video atau foto orang yang benar-benar meninggal dunia, biasanya akibat kecelakaan, perang, pembunuhan, atau kejadian brutal lainnya,”
AKBP Mayndra Eka Wardhana.
Dari hasil itulah, Densus 88 menemukan tujuh bahan peledak di lingkungan SMAN 72 pasca kejadian.
Tiga diantaranya tidak meledak dan telah disita oleh kepolisian. Sementara itu empat lainnya sempat meledak di dua lokasi yang berbeda.
Yang meledak empat di dua lokasi, tiga tidak meledak,” ujar dia.
AKBP Mayndra.
Namun demikian, Densus 88 belum merinci jenis bahan yang dipakai oleh pelaku hingga dilaporkan ada 96 orang terluka akibat insiden itu.
Ledakan tersebut terjadi tepatnya saat khotbah Jumat berlangsung yang diikuti oleh siswa dan para guru pada Jumat (7/11/2025) lalu yang mengakibatkan sebanyak 94 orang mengalami luka berat hingga ringan.
Diantara korban ledakan tersebut, salah satunya terduga pelaku yang saat ini dilakukan operasi di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Saat ini terduga pelaku telah dipindah ke RS Polri guna meminta keterangan lebih mendalam.


