Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan mengalami El Nino Godzilla, dengan puncak terjadi pada Juli-September 2026. Hal ini berpotensi memicu tahun terpanas.
Namun, kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia yang masih sering diguyur hujan menimbulkan pertanyaan, mengapa hujan masih terjadi di tengah isu El Nino?
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menjelaskan fenomena tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika iklim, terutama karena Indonesia saat ini masih berada pada masa peralihan musim.
“Karena ini masih pancaroba dan awal musim juga tidak seragam di semua wilayah Indonesia,”
kata Sonni, dalam keterangannya yang dikutip pada Minggu, 3 Mei 2026.
Hujan yang masih turun tidak serta-merta menandakan prediksi keliru. Indikasi menuju kemarau panjang tetap terlihat berdasarkan adanya tren kecenderungan suhu muka laut yang meningkat di Samudera Pasifik.
“Karena suhu muka air laut di Samudera Pasifik tengah dan timur kawasan tropis cenderung meningkat,”
ucap Sonni.
Kondisi tersebut menjadi sinyal awal berkembangnya fenomena El Nino yang berpotensi menurunkan curah hujan di Indonesia pada saat musim penghujan. Bahkan, berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang.
“Diprediksi demikian, dengan durasi sekitar enam bulan,”
tambah dia.
Awal musim kemarau berpotensi datang lebih cepat dari biasanya, khususnya di wilayah Pulau Jawa yang umumnya memasuki kemarau pada Juli. Percepatan ini berkaitan dengan kenaikan suhu muka laut di Pasifik tengah dan timur yang menyebabkan berkurangnya pembentukan awan di Indonesia.
“Kenaikan suhu muka laut ini berdampak pada pengurangan formasi awan-awan di Indonesia,”
kata Sonni.
El Nino dan La Nina merupakan produk fenomena interaksi laut-atmosfer dalam skala besar yang menyebabkan adanya pergeseran Sirkulasi Walker di atmosfer tropis. Periodisitas kejadian El-Nino dan La Nina ini sekitar 4 sampai 5 tahun sekali. Sirkulasi Walker adalah sirkulasi arah barat–timur, yakni ketika udara naik di atas benua dan turun di atas samudera.
Terkait istilah “El Nino Godzilla” yang ramai diperbincangkan, hal tersebut merujuk pada kategori super El Nino dengan intensitas sangat kuat relatif terhadap kejadian El Nino biasanya.
“El Nino Godzilla mengacu pada super El Nino, yakni saat suhu muka laut di Pasifik bisa naik sekitar 2,5 derajat celcius bahkan lebih di atas kenaikan suhu muka laut pada kejadian El Nino biasa. El Nino Godzilla ini biasa berlangsung rata-rata selama satu tahun,”
jelas dia.
Fenomena ini pernah terjadi pada tahun 1982, 1997, dan 2015, dengan dampak besar secara global seperti kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan. Ia menilai kondisi saat ini masih berada pada kategori lemah hingga moderat.



