Kondisi itu membuat api semakin sulit dikendalikan, terutama jika sarana pemadaman yang tersedia terbatas.
Kondisi geografis TNBTS yang menyerupai bentuk kuali turut memengaruhi pola penjalaran api. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat pergerakan api sulit diprediksi. Kondisi tersebut semakin berisiko ketika bahan bakar berupa vegetasi kering tersedia dalam jumlah besar,”
ungkapnya.
Karena itu, Prof Bambang menilai pengendalian kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan satu metode. Pemadaman darat dan udara perlu dikombinasikan sesuai kondisi lapangan dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai.
Penggunaan helikopter pun harus dilakukan secara tepat. Menurutnya, hembusan angin dari helikopter perlu diperhitungkan agar tidak justru memicu munculnya titik api baru.
Selain kesiapan peralatan, peningkatan kemampuan personel juga diperlukan. Masyarakat yang turut terlibat dalam pemadaman harus dibekali pengetahuan dasar mengenai penanganan kebakaran agar tindakan di lapangan tidak memperbesar api.
Prof Bambang juga mengingatkan bahwa api yang telah padam belum berarti kawasan sepenuhnya aman. Pemantauan pascakebakaran tetap diperlukan untuk memastikan tidak terdapat titik api yang berpotensi kembali berkembang.
Jika kebakaran meluas, dampaknya tidak hanya berupa kerusakan vegetasi, tetapi juga dapat menyebabkan hilangnya tutupan permukaan, meningkatkan pemanasan permukaan, dan mengganggu proses pemulihan ekosistem.
Risiko tersebut menjadi perhatian karena TNBTS memiliki vegetasi khas di berbagai ketinggian, mulai dari puspa, rasamala, dan saninten di zona pegunungan bawah hingga cemara gunung, edelweis Jawa, dan cantigi di zona pegunungan atas.
Pengendalian kebakaran harus dilakukan secara sungguh-sungguh, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran. Kebakaran besar tahun 2023 semestinya menjadi cermin untuk melakukan perubahan agar kejadian serupa tidak berulang,”
tandasnya.