Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 26 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • Prabowo Subianto
  • iran
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / Catatan PBHI 2025: Mati HAM dan Demokrasi, Selamat Datang Era Totalitarian
Nasional

Catatan PBHI 2025: Mati HAM dan Demokrasi, Selamat Datang Era Totalitarian

owrite-adi-briantikadusep-malik
Last updated: Januari 1, 2026 12:24 pm
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Dusep Malik
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Follow:
6 bulan lalu
Share
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025). (Sumber: Antara Foto/Galih Pradipta/YU)
SHARE

Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) menutup tahun 2025 dengan catatan kelam bagi kondisi demokrasi di Indonesia yakni penanda matinya hak asasi manusia di bawah kekuasaan “tangan besi”.

Ketua Badan Pengurus Nasional PBHI Julius Ibrani berkata peringatan ini bukan sekadar ramalan, melainkan pembacaan atas situasi yang telah terjadi dan diprediksi bakal memburuk pada 2026, lantaran transisi menuju totalitarianisme kian nyata terlihat dari pola pemerintahan saat ini.

PBHI menegaskan kepada publik bahwa hak asasi telah mati. Sebuah peringatan keras yang akan kembali terjadi dan terus terjadi,”

ucap Julius dalam keterangan tertulis, Rabu, 31 Desember 2025.

Kemunduran demokrasi ini berakar sejak tahun 2019, ketika Presiden Joko Widodo menunjuk Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan. PBHI menilai upaya itu sebagai titik awal negara menormalisasi terduga pelanggar berat HAM masa lalu.

Titik awal negara mengubah status pelanggar menjadi normal, diikuti normalisasi rekrutmen pelanggar berat HAM dari militer di jabatan sipil, megakorupsi pengadaan di Kementerian Pertahanan, dan pembunuhan terhadap lembaga antirasuah,”

lanjut Julius.

Situasi negara diperparah dalam proses Pemilu 2024 yang dianggap penuh rekayasa, melibatkan aparat pertahanan dan keamanan, serta pelanggaran konstitusi melalui pencalonan Gibran Rakabuming Raka. 

Habis mati hak asasi dan demokrasi, terbitlah totalitarian. Dosa modal besar itu dikukuhkan dengan rekayasa pemenangan Prabowo Subianto pada Pilpres 2024,”

tegasnya.

PBHI mencatat transformasi gaya pemerintahan yang menyerupai Orde Baru namun berformat lebih canggih. Hal ini ditandai dengan upaya sistematis menempatkan militer di ruang sipil, mulai dari revisi Undang-Undang TNI hingga program wajib militer berkedok bela negara. Simbol paling mencolok dari kembalinya watak otoritarian, menurut Julius, ialah pemberian gelar pahlawan kepada Jenderal TNI (Purn.) Soeharto.

Transformasi Orde Baru yang lebih maju dan lebih baru kian terang terbukti. Mulai dari normalisasi militer di ruang sipil hingga men-sipil-kan militer, hilangnya pemisahan sipil-militer dan ruang sipil yang disesaki militer,”

kata Julius.

Ada tiga peristiwa yang membuktikan klaim “totalitarianisme” menurut PBHI:

  • Revisi Undang-Undang TNI dan Teror terhadap NGO: Pengesahan revisi UU TNI yang dianggap sebagai karpet merah bagi militer untuk menguasai jabatan sipil, yang diikuti dengan serangkaian teror terhadap tujuh pimpinan organisasi masyarakat sipil termasuk PBHI, KontraS, Imparsial, dan Amnesty International Indonesia.
  • Operasi Intelijen dalam Demonstrasi: Adanya dugaan operasi intelijen militer (BAIS) yang membajak aksi demonstrasi pada Agustus 2025. Operasi ini dituding dijadikan dalih untuk menetapkan status darurat militer, memicu kerusuhan, dan mengkriminalisasi aktivis.
  • Militerisasi di Sektor Agraria (Aceh dan Sumatra): Rekayasa hukum atas kejahatan lingkungan di Aceh dan Sumatra. PBHI menyoroti penggunaan senjata laras panjang oleh anggota TNI untuk menghadapi demonstran dan warga, serta serangan terhadap jurnalis dan influencer yang mengkritik penanganan bencana.

Menatap tahun 2026, PBHI tidak memberikan proyeksi optimis. Julius memprediksi negara akan semakin sibuk dengan tindakan represi, alih-alih memperbaiki kondisi demokrasi. Maka ia menyerukan kepada masyarakat untuk merapatkan barisan, merebut kembali ruang publik, dan membangun fondasi perlawanan dari akar rumput.

Tidak ada proyeksi, negara akan sibuk dengan tindakan represi. Matinya ruang sipil yang direbut militer harus jadi gagasan untuk mendorong demokrasi dan hak asasi (sebagai) antitesa. Penuhi ruang sipil dengan diskursus demokrasi dan hak asasi (seperti) protes, kritik, diskusi publik, mimbar bebas evaluasi kinerja pemerintah, demonstrasi masif,”

seru dia.

Pro Rezim

Hal tersebut kontras dengan hasil survei publik. Indikator Politik Indonesia, sebuah lembaga survei, menerbitkan hasil temuan perihal evaluasi publik atas kinerja satu tahun rezim Prabowo-Gibran. 

Berikut hasil survei:

1.     Kepuasan terhadap Kinerja Presiden:

77,7 persen warga menyatakan puas (gabungan sangat puas dan cukup puas) dengan kinerja Presiden Prabowo. Sekitar 20,8 persen menyatakan kurang puas atau tidak puas sama sekali, dan 1,5 persen tidak menjawab. Alasan puas yakni pemberantasan korupsi, kinerja bagus, tegas, sering memberi bantuan, dan program kerja bagus. 

Perihal “Masalah Mendesak” yang harus diselesaikan pemimpin negara selama lima tahun ke depan yaitu pemberantasan korupsi (25,5 persen), pengendalian harga kebutuhan pokok (22,3 persen), penyediaan lapangan pekerjaan (15,6 persen), dan kemiskinan (13,4 persen) merupakan empat masalah paling mendesak menurut 76,8 persen warga. 

2.     Persepsi Kondisi Nasional:

a.      Keamanan: Dinilai paling positif, dengan 56,5 persen responden menyatakan kondisi keamanan baik/sangat baik.  

b.     Ekonomi: Terbelah, dengan 42,4 persen menilai sedang, 31,1 persen menilai baik/sangat baik, dan 26,2 persen menilai buruk/sangat buruk.  

c.      Penegakan hukum: 40,8 persen menilai baik/sangat baik, sementara 26,4 persen menilai buruk. 

d.     Pemberantasan korupsi: 42,7 persen menilai baik/sangat baik, namun angka yang menilai buruk cukup tinggi yakni 30 persen. 

Tag:Berita PentingdemokrasiHak Asasi Manusia (HAM)Joko Widodoorde baruPBHIPrabowo SubiantoSpill
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Trending di OWRITE
Panas! Amien Rais Minta Prabowo Copot Kapolri Listyo Sigit, Singgung Kasus Roy Suryo
By Rahmat Tunny
Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo. (Sumber: Antara Foto/Galih Pradipta/wsj)
1
Kronologi Korupsi Dana Desa Terbongkar, Uang Negara Diduga Berakhir Jadi Gift TikTok
By Ani Ratnasari
Kepala Urusan Keuangan Keuangan Desa Lok Bangkai, Banjang, Kalimantan Selatan berinisial MT jadi tersangka. sebagai tersangka
2
5 Potret Ginka Febriyanti Ginting, Komisaris Pertamina Retail Termuda yang Jadi Sorotan
By Hilwa Urwatul Wutsqa
Komisaris PT Pertamina Retail (Pertare) Ginka Febriyanti Ginting
3
Tak Temui Mahasiswa dan Kerap Serang Pengkritik, Prabowo Dinilai Makin Anti Kritik
By Rahmat Tunny
Presiden Prabowo Subianto (tengah) menyampaikan paparan di depan siswa dan orang tuanya saat melakukan peninjauan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Bali, Minggu (7/6/2026). Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa kekayaan negara harus dijaga untuk memastikan masyarakat dapat hidup dengan layak dan sejahtera, salah satunya lewat jalur pendidikan. (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
4
Proyek Blok Abadi Masela Dipastikan Jalan, Target Produksi Gas Raksasa Dimulai 2029
By Natania Longdong
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjawab pertanyaan wartawan di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Menteri ESDM melaporkan hasil pertemuan dengan utusan khusus Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri ESDM Rusia kepada Presiden Prabowo Subianto, antara lain mengenai Indonesia akan mendapat pasokan minyak mentah Rusia serta kerja sama pembangunan infrastruktur strategis untuk meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional.
5

BERITA LAINNYA

Wakil Ketua LPSK Sri Suparyati menemui keluarga korban.
Nasional

Bukan Kasus Biasa, LPSK Pakai Pasal ‘Situasi Khusus’ demi Selamatkan Sisa Hidup Korban Penyekapan Bandung

Kasus dugaan penganiayaan berat dan penyekapan yang dialami perempuan berinisial YTR di…

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
By
Rika Pangesti
Adi Briantika
33 menit lalu
Presiden RI Prabowo Subianto dalam Pembukaan Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026
Nasional

Prabowo Bangga Naik Maung, Tapi Pertanyakan RI yang Belum Punya Industri Mobil Mandiri

Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti pentingnya hilirisasi dan penguatan riset nasional sebagai…

Hilwa UrwatulHardani Triyoga
By
Hilwa Urwatul Wutsqa
Hardani Triyoga
46 menit lalu
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (kedua kanan) bersama Menteri Ketenagakerjaan Yassierli (kanan), Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (tengah), Cucun Ahmad Syamsurijal (kedua kiri), dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal (kiri) berbincang sebelum menyampaikan keterangan usai rapat koordinasi satgas mitigasi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Nasional

Gagalkan Rencana ‘Bedol Desa’ ke Vietnam, Satgas Mitigasi PHK Tahan 2 Raksasa Otomotif

Satgas Mitigasi PHK mengklaim berhasil menunda rencana relokasi dua perusahaan otomotif dari…

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
By
Rika Pangesti
Adi Briantika
1 jam lalu
Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid.
Nasional

Pemerintah Didesak Batalkan Pelibatan Taruna Akmil di Sekolah Rakyat

Rencana pemerintah melibatkan seribu taruna Akademi Militer (Akmil) untuk membina karakter siswa…

Rika PangestiAmin-Suciady-Owrite
By
Rika Pangesti
Amin Suciady
2 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up