Psikolog Klinis Meity Arianty, menyoroti sistem pendidikan di Indonesia usai melihat kasus anak 10 tahun yang bunuh diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tidak dibelikan buku oleh orang tuanya.
Menurutnya sistem pendidikan di Indonesia masih cenderung terjebak pada reduksionisme kognitif.
Di mana keberhasilan siswa hanya diukur melalui pencapaian akademis dan kepatuhan administratif, sementara aspek kesehatan mental serta kecerdasan emosional sering kali dianaktirikan,”
ujar Meity kepada owrite baru-baru ini.
Ia pun memberi contoh dari kurikulum yang padat, sering kali menciptakan tekanan performa yang tinggi tanpa dibarengi dengan penguatan keterampilan hidup seperti regulasi emosi, manajemen stres, dan resiliensi, sehingga sekolah justru bisa menjadi sumber stres tambahan bagi anak yang sudah rapuh di rumah.






